Tipikal Pesantren Persis

Genial. Keberadaan Pesantren Persis seiring perjalanan waktu, telah mendapat tempat khusus di mata masyarakat yang beririsan dengan Jamiyah Persatuan Islam, karena Pesantren Persis memiliki kekhasan yang ‘sedikit’ berbeda dengan pesantren lainnya.

Walau sebarannya tidak merata dan hanya berkutat di Jawa Barat, namun perannya tidak bisa diabaikan, karena di beberapa tempat, Pesantren Persis menjadi role model bagi pesantren di wilayah tersebut. Namun demikian, sisi kelam dari keberadaan Pesantren Persis tetap ada. Masih banyak Pesantren Persis yang dikelola seadanya, masih ada Pesantren Persis yang menjadi ‘alat’ sengketa, dan berbagai sisi kelam lainnya.

Guna memudahkan penyelesaian masalah yang dihadapi Pesantren Persis, perlu kiranya disiapkan alat ukur, guna menilai seberapa akut permasalahan yang dihadapi Pesantren Persis, dilihat dari sisi tata kelola dan kepemilikan.

Alat ukur pertama adalah kepemilikan lembaga. Beberapa Pesantren Persis didirikan oleh lembaga yang berwenang, seperti Pimpinan Jama’ah Persis, Pimpinan Cabang, Pimpinan Daerah, Pimpinan Wilayah, bahkan oleh Pimpinan Pusat Persis, sehingga secara legal formal, keberadaan lembaga yang didirikan tersebut jelas-jelas milik Jamiyah, karena semua dikelola oleh Jamiyah. Namun ternyata lebih banyak lembaga yang didirikan oleh perorangan, keluarga, atau yayasan, lalu lembaga tersebut didaftarkan ke PP Persis dan mendapat pengesahan layaknya lembaga pendidikan yang didirikan oleh Jamiyah. Maka penataan dan pendataan mana lembaga yang milik Jamiyah dan non Jamiyah menjadi prioritas pertama untuk dilakukan

Alat ukur kedua adalah status tanah atau bangunan. Setelah permasalahan kepemilikan lembaga, masalah yang paling banyak terjadi adalah status tanah dan bangunan atau biasa disebut wakaf. Bila seluruh tanah dan bangunan telah diwakafkan dan menjadi milik Jamiyah, tentunya tidak akan masalah, namun ternyata lebih banyak status tanah dan wakaf Pesantren Persis itu masih milik perorangan, bahkan ada beberapa lahan wakaf Pesantren yang statusnya tanah sengketa dan masih harus menjalani proses hukum. Dengan demikian, penataan dan penyelesaian masalah wakaf adalah prioritas kedua dalam menangani masalah Pesantren Persis ini.

Alat ukur ketiga adalah pengelola.  Apabila Jamiyah secara kelembagaan mulai dari PJ, PR, PC, atau PD memiliki hak suara dalam pergantian kepengurusan di lembaga tersebut, maka bisa disebut lembaga milik Jam’iyah. Namun apabila Jamiyah sama sekali tidak dilibatkan bahkan dilarang ikut dalam kepengurusan Pesantren Persis tersebut, maka tidak layak lagi disebut sebagai lembaga milik Jamiyah.

Alat ukur keempat kontribusi terhadap Jamiyah.  Dalam pandangan awam, lembaga pendidikan seperti Pesantren adalah lembaga yang bersifat sosial, sehingga dianggap tidak mungkin menghasilkan keuntungan atau profit. Padahal, lembaga pendidikan yang baik tentu saja menghasilkan profit selain juga benefit. Oleh karena itu, akan dianggap sebagai lembaga milik Jamiyah bila lembaga tersebut memiliki kontribusi terhadap Jamiyah.

Besarnya kontribusi bisa disepakati bersama, sehingga semua bisa maju bersama. Setiap jenjang Tasykil Jamiyah akan mendapat pemasukan yang rutin dari sektor pendidikan. Bisa lebih besar lagi pendapat bagi Jamiyah yang akan digunakan untuk menggerakan roda organisasi apabila tiap jenjang Tasykil bersikap kreatif mengoptimalkan berbagai potensi yang ada di wilayahnya.

Dari 4 alat ukur tersebut, kita bisa melakukan Tipikalisasi Pesantren Persis dengan mudah. Misalnya, bagi Pesantren Persis yang bisa memenuhi 4 aspek secara sempurna, maka bisa saja kita kategorikan pesantren tersebut sebagai Pesantren Persis Tipe A. Bagi Pesantren Persis yang hanya mampu memenuhi 3 aspek, maka masuk dalam Pesantren Persis Tipe B.

Selanjutnya bagi Pesantren Persis yang hanya memenuhi 2 aspek, masuk kategori Pesantren Persis Tipe C. Sedangkan Pesantren Persis yang hanya memenuhi 1 aspek saja, maka masuk Tipe D.

Lalu bagaimana kalau ternyata ada yang sudah memiliki nomor register Pesantren Persatuan Islam, namun tidak memenuhi seluruh aspek yang ada, maka harusnya Pimpinan Pusat dengan segera mencabut SK Penetapan Pesantren Persis tersebut karena memang tidak pantas dan tidak layak disebut Pesantren Persis walaupun guru-guru dan pelajaran yang diajarkan memakai kurikulum Persis, hal ini demi menjaga marwah Pesantren Persis baik di masa kini maupun di masa mendatang. Wallohu a’lam… [*]

*Penulis: Rofik Husen (Bidgar Pendidikan PW Persis Jawa Barat)

Tim Redaksihttps://www.genial.id/
Tim Redaksi Genial—Bacaan Ideal Generasi Milenial

Baca Juga

Populer

Ketum Hipmi 2019-2022 Dijabat Kader PDI Perjuangan

Genial. CEO PT Batulicin 69 dan PT Maming 69, Mardani H Maming resmi terpilih sebagai Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) periode kepengurusan...

Ada Pihak yang Menyerang Pribadi, PDIP Siap Pasang Badan untuk Jokowi

Genial. PDI Perjuangan pasang badan saat pribadi Presiden RI, Joko Widodo yang juga kader banteng diserang terkait pro kontra Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)."Kami mengkritik...

Kisah Habibie di Ujung Kekuasaan Soeharto: Terima Telepon Mengejutkan dari Menko Ginandjar

Genial. BJ. Habibie, Presiden ke-3 Republik Indonesia, mengembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta, pada sekira pukul 18.05 WIB,...

Rafiq Pimpin DPRD Sumbawa, Segera Diparipurnakan

Genial. Sumbawa Besar - Keempat calon Pimpinan DPRD, A. Rafiq dari PDIP (Ketua), M. Ansori dari Partai Gerindra (Wakil Ketua), Syamsul Fikri M.Si dari...

Konsolidasi di Kalbar, PDIP Target Menang Minimal 60 Persen di Pilkada 2020

Genial. Di Pilkada Serentak 2020, akan ada pemilihan kepala daerah baru di 7 wilayah kabupaten/kota. Ketua DPP PDI Perjuangan Djarot Saiful Hidayat mengatakan pihaknya...

Sejarah Penyusunan Naskah Proklamasi

Tulisan ini pernah dimuat di jurnal Negarawan tahun 2006 Membuka Catatan Sejarah: Detik-Detik Proklamasi, 17 Agustus 1945***Rombongan penjemput tiba di Rengasdengklok sekitar pukul 17.00....

Tipikal Pesantren Persis

Genial. Keberadaan Pesantren Persis seiring perjalanan waktu, telah mendapat tempat khusus di mata masyarakat yang beririsan dengan Jamiyah Persatuan Islam, karena Pesantren Persis memiliki kekhasan yang ‘sedikit’ berbeda dengan pesantren lainnya.

Walau sebarannya tidak merata dan hanya berkutat di Jawa Barat, namun perannya tidak bisa diabaikan, karena di beberapa tempat, Pesantren Persis menjadi role model bagi pesantren di wilayah tersebut. Namun demikian, sisi kelam dari keberadaan Pesantren Persis tetap ada. Masih banyak Pesantren Persis yang dikelola seadanya, masih ada Pesantren Persis yang menjadi ‘alat’ sengketa, dan berbagai sisi kelam lainnya.

Guna memudahkan penyelesaian masalah yang dihadapi Pesantren Persis, perlu kiranya disiapkan alat ukur, guna menilai seberapa akut permasalahan yang dihadapi Pesantren Persis, dilihat dari sisi tata kelola dan kepemilikan.

Alat ukur pertama adalah kepemilikan lembaga. Beberapa Pesantren Persis didirikan oleh lembaga yang berwenang, seperti Pimpinan Jama’ah Persis, Pimpinan Cabang, Pimpinan Daerah, Pimpinan Wilayah, bahkan oleh Pimpinan Pusat Persis, sehingga secara legal formal, keberadaan lembaga yang didirikan tersebut jelas-jelas milik Jamiyah, karena semua dikelola oleh Jamiyah. Namun ternyata lebih banyak lembaga yang didirikan oleh perorangan, keluarga, atau yayasan, lalu lembaga tersebut didaftarkan ke PP Persis dan mendapat pengesahan layaknya lembaga pendidikan yang didirikan oleh Jamiyah. Maka penataan dan pendataan mana lembaga yang milik Jamiyah dan non Jamiyah menjadi prioritas pertama untuk dilakukan

Alat ukur kedua adalah status tanah atau bangunan. Setelah permasalahan kepemilikan lembaga, masalah yang paling banyak terjadi adalah status tanah dan bangunan atau biasa disebut wakaf. Bila seluruh tanah dan bangunan telah diwakafkan dan menjadi milik Jamiyah, tentunya tidak akan masalah, namun ternyata lebih banyak status tanah dan wakaf Pesantren Persis itu masih milik perorangan, bahkan ada beberapa lahan wakaf Pesantren yang statusnya tanah sengketa dan masih harus menjalani proses hukum. Dengan demikian, penataan dan penyelesaian masalah wakaf adalah prioritas kedua dalam menangani masalah Pesantren Persis ini.

Alat ukur ketiga adalah pengelola.  Apabila Jamiyah secara kelembagaan mulai dari PJ, PR, PC, atau PD memiliki hak suara dalam pergantian kepengurusan di lembaga tersebut, maka bisa disebut lembaga milik Jam’iyah. Namun apabila Jamiyah sama sekali tidak dilibatkan bahkan dilarang ikut dalam kepengurusan Pesantren Persis tersebut, maka tidak layak lagi disebut sebagai lembaga milik Jamiyah.

Alat ukur keempat kontribusi terhadap Jamiyah.  Dalam pandangan awam, lembaga pendidikan seperti Pesantren adalah lembaga yang bersifat sosial, sehingga dianggap tidak mungkin menghasilkan keuntungan atau profit. Padahal, lembaga pendidikan yang baik tentu saja menghasilkan profit selain juga benefit. Oleh karena itu, akan dianggap sebagai lembaga milik Jamiyah bila lembaga tersebut memiliki kontribusi terhadap Jamiyah.

Besarnya kontribusi bisa disepakati bersama, sehingga semua bisa maju bersama. Setiap jenjang Tasykil Jamiyah akan mendapat pemasukan yang rutin dari sektor pendidikan. Bisa lebih besar lagi pendapat bagi Jamiyah yang akan digunakan untuk menggerakan roda organisasi apabila tiap jenjang Tasykil bersikap kreatif mengoptimalkan berbagai potensi yang ada di wilayahnya.

Dari 4 alat ukur tersebut, kita bisa melakukan Tipikalisasi Pesantren Persis dengan mudah. Misalnya, bagi Pesantren Persis yang bisa memenuhi 4 aspek secara sempurna, maka bisa saja kita kategorikan pesantren tersebut sebagai Pesantren Persis Tipe A. Bagi Pesantren Persis yang hanya mampu memenuhi 3 aspek, maka masuk dalam Pesantren Persis Tipe B.

Selanjutnya bagi Pesantren Persis yang hanya memenuhi 2 aspek, masuk kategori Pesantren Persis Tipe C. Sedangkan Pesantren Persis yang hanya memenuhi 1 aspek saja, maka masuk Tipe D.

Lalu bagaimana kalau ternyata ada yang sudah memiliki nomor register Pesantren Persatuan Islam, namun tidak memenuhi seluruh aspek yang ada, maka harusnya Pimpinan Pusat dengan segera mencabut SK Penetapan Pesantren Persis tersebut karena memang tidak pantas dan tidak layak disebut Pesantren Persis walaupun guru-guru dan pelajaran yang diajarkan memakai kurikulum Persis, hal ini demi menjaga marwah Pesantren Persis baik di masa kini maupun di masa mendatang. Wallohu a’lam… [*]

*Penulis: Rofik Husen (Bidgar Pendidikan PW Persis Jawa Barat)

Tim Redaksihttps://www.genial.id/
Tim Redaksi Genial—Bacaan Ideal Generasi Milenial

Baca Juga

Populer

Desa Poto Kab. Sumbawa Percontohan Pemajuan Kebudayaan di Indonesia

Desa Poto merupakan satu-satunya desa di kawasan timur Indonesia yang terpilih, dan akan direplikasi oleh desa-desa lainnya di Indonesia.

Ketum Hipmi 2019-2022 Dijabat Kader PDI Perjuangan

Genial. CEO PT Batulicin 69 dan PT Maming 69, Mardani H Maming resmi terpilih sebagai Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) periode kepengurusan...

Sebut Jokowi Salah Urus Negara, Alumni HMI: Pernyataan Amien Sangat Naif dan Lecehkan Pilihan Rakyat

Genial. Mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Mahmuddin Muslim menilai pernyataan Mantan Ketua MPR RI, Amien Rais yang menyebut pemerintahan Jokowi-JK sudah salah urus...

Lima Bersaudara Dilantik Jadi Anggota DPRD

GENIAL. Acara pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan anggota DPRD Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan, periode 2019-2024, menjadi saksi bisu keberhasilan lima bersaudara....

Ada Pihak yang Menyerang Pribadi, PDIP Siap Pasang Badan untuk Jokowi

Genial. PDI Perjuangan pasang badan saat pribadi Presiden RI, Joko Widodo yang juga kader banteng diserang terkait pro kontra Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)."Kami mengkritik...

Kemendikbud Gelar Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional

GENIAL. Upaya untuk mewujudkan peningkatan kualitas pembangunan manusia Indonesia yang unggul dan berdaya saing terus dilakukan oleh pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Salah...

Log In

Forgot password?

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Genial—Bacaan Ideal Generasi Milenial