Soekarno dan Gagasan Pesantren yang Progressif

Tuan Hassan, salah seorang intelektual, pemikir dan mujtahid muslim Nusantara, memiliki hubungan yang sangat akrab dan romantik dengan tokoh pergerakan Soekarno. Hubungan ini terekam dengan jelas dalam bagian ‘Surat-Surat Islam dari Endeh”. Surat-surat ini merupakan surat silaturrahmi intelektual dan emosional antara Soekarno, yang saat itu diasingkan oleh penjajah Belanda di Endeh, dengan Tuan Hassan.

Kumpulan surat-surat ini dikumpulkan dalam buku “Di Bawah Bendera Revolusi” yang pertama kali terbit tahun 1959. Persatuan Islam sendiri, atas permintaan Tuan Hassan langsung dan mendapat izin dari Soekarno, sudah menerbitkan surat-surat ini tahun 1937.

Kugali kembali surat-surat ini menjadi benang merah tersendiri, dan insyaallah akan bersambung.

Tuan Hassan, sang ahli debat tanpa tanding yang siap membabat habis kaum muqallid, pernah menerima usulan dari pemikir yang juga tak kalah progressif, Soekarno. Hal ini terlihat jelas dalam surat Soekarno pada Tuan Hassan pada tanggal 18 Agustus 1936. Usul Soekarno sendiri berada di dalam surat tanggal 12 Juni 1936.

Soekarno sangat senang dan gembira-hati ketika Tuan Hassan mendirikan sebuah pesantren. Soekarno pun mengusulkan agar di dalam pelajaran pesantren itu kelak, juga diajarkan pengetahuan Barat. Usul ini didasari analisa langsung Soekarno atas sekolah-sekolah Islam yang kurang dalam pengetahuan modern. Karena kurang pengetahuan modern itu, banyak orang yang bahkan sudah bertitel “mujtahid” dan “ulama” tampil dengan mengecewakan, apalagi kyai-kyai muda. Tak heran juga banyak majalah Islam yang tak berkualitas.

Kata Soekarno, bahkan bayak kitab tafsir seperti tafsir Al Baghawi, tafsir Al Baidhawi, Tafsir Al Mazhari dan kita tafsir lainnya, yang masih cacat karena kurang pengetahuan modern-nya. Di antara cacat itu misalnya, bagaimana menjelaskan firman Allah SWT bahwa Allah menciptakan benda-benda berpasang-pasangan, bila tak disertai dengan ilmu biologi, fisika dan kimia. Pun demikian bagaimana menjelaskan semesta tanpa disertai dengan ilmu astronomi. Pun juga demikian, bagaimana menjelaskan riwayat Zulkarnen bila tak paham sejarah dan arkeologi.

“Alangkah baiknya kalau Tuan punya mubaligh-mubaligh nanti bermutu tinggi, seperti Tuan M. Natsir, misalnya,” kata Soekarno.

Menurut Soekarno, ribuan orang Eropa masuk Islam bukan karena guru yang menyuruh untuk “beriman” dan “percaya saja.” Mereka juga bukan masuk Islam karena mubaligh-mubaligh yang yang tarik muka angker dan hanya tahu putarkan tasbih sahaja, tetapi dari mubaligh yang memakai cara penerangan yang masuk akal–karena berpengetahuan umum.

“Mereka masuk Islam karena mubaligh-mubaligh yang menghela mereka itu ialah mubaligh-mubaligh modern dan scientific, dan bukan mubaligh “ala hadramaut” atau “ala kyai bersorban,” ungkap Soekarno.

Kata Soekarno pada Tuan Hassan: Percayalah, bahwa bila Islam dipropagandakan dengan cara yang masuk akal dan up-to-date, maka seluruh dunia akan sadar kepada kebenaran Islam itu.

“Moga-moga Tuan suka perhatikannya berhubung dengan Tuan punya pesantren. Hiduplah Tuan punya pesantren itu,” tutup Soekarno. [***]

Yayan Sopyani Al Hadi

Ketua PP Baitul Muslimin Indonesia

Avatar
Tim Redaksihttps://www.genial.id/
Tim Redaksi Genial—Bacaan Ideal Generasi Milenial

Baca Juga

Populer

Wasekjen KNPI Pusat Kritik Rekonsiliasi Bersyarat

Genial. Wasekjen Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Pusat, Amilan Hatta, sebut rekonsiliasi diperlukan sebagai bentuk kedaulatan rakyat, bukan sebatas bagi-bagi jabatan. Dia pun mengkritik...

PDIP Optimis Jadi Penentu Arah Koalisi di Pilkada Kabupaten Bima

GENIAL. Hasil Pemilu Legislatif 2019 PDI Perjuangan Kabupaten Bima hanya mampu meraih dua kursi dari 6 Dapil. Perolehan ini memang agak menurun bila dibandingkan dengan...

PDIP Ingatkan PKB Koalisi Bukan Perhitungan Untung Rugi

GENIAL. Politisi PDI Perjuangan Hendrawan Supratikno menegaskan koalisi pendukung Jokowi-Ma'ruf bukan diikat oleh perhitungan untung rugi. Karena itu, tak layak apabila ada partai yang...

Kader PDIP Kalbar Solid Dukung Megawati

GENIAL. Jelang kongres PDI Perjuangan awal agustus 2019, dukungan untuk Megawati soekarnoputri kembali memimpin partai berlambang moncong putih tersebut semakin solid. Hal ini di...

Elit PDIP Sarankan Gerindra, Demokrat, PAN dan PKS Tetap Jadi Oposisi

GENIAL. Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP), Andreas Hugo Pareira menyarankan partai pengusung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019 untuk tetap mengambil posisi sebagai oposisi...

Reforma Agraria Program Estafet dari Soekarno ke Jokowi

GENIAL. Reforma agraria terus dilakukan oleh pemerintahan Presiden Jokowi. Belum lama ini, Pemerintah menyediakan lahan yang cukup untuk dapat dikelola oleh koperasi melalui program...

Soekarno dan Gagasan Pesantren yang Progressif

Tuan Hassan, salah seorang intelektual, pemikir dan mujtahid muslim Nusantara, memiliki hubungan yang sangat akrab dan romantik dengan tokoh pergerakan Soekarno. Hubungan ini terekam dengan jelas dalam bagian ‘Surat-Surat Islam dari Endeh”. Surat-surat ini merupakan surat silaturrahmi intelektual dan emosional antara Soekarno, yang saat itu diasingkan oleh penjajah Belanda di Endeh, dengan Tuan Hassan.

Kumpulan surat-surat ini dikumpulkan dalam buku “Di Bawah Bendera Revolusi” yang pertama kali terbit tahun 1959. Persatuan Islam sendiri, atas permintaan Tuan Hassan langsung dan mendapat izin dari Soekarno, sudah menerbitkan surat-surat ini tahun 1937.

Kugali kembali surat-surat ini menjadi benang merah tersendiri, dan insyaallah akan bersambung.

Tuan Hassan, sang ahli debat tanpa tanding yang siap membabat habis kaum muqallid, pernah menerima usulan dari pemikir yang juga tak kalah progressif, Soekarno. Hal ini terlihat jelas dalam surat Soekarno pada Tuan Hassan pada tanggal 18 Agustus 1936. Usul Soekarno sendiri berada di dalam surat tanggal 12 Juni 1936.

Soekarno sangat senang dan gembira-hati ketika Tuan Hassan mendirikan sebuah pesantren. Soekarno pun mengusulkan agar di dalam pelajaran pesantren itu kelak, juga diajarkan pengetahuan Barat. Usul ini didasari analisa langsung Soekarno atas sekolah-sekolah Islam yang kurang dalam pengetahuan modern. Karena kurang pengetahuan modern itu, banyak orang yang bahkan sudah bertitel “mujtahid” dan “ulama” tampil dengan mengecewakan, apalagi kyai-kyai muda. Tak heran juga banyak majalah Islam yang tak berkualitas.

Kata Soekarno, bahkan bayak kitab tafsir seperti tafsir Al Baghawi, tafsir Al Baidhawi, Tafsir Al Mazhari dan kita tafsir lainnya, yang masih cacat karena kurang pengetahuan modern-nya. Di antara cacat itu misalnya, bagaimana menjelaskan firman Allah SWT bahwa Allah menciptakan benda-benda berpasang-pasangan, bila tak disertai dengan ilmu biologi, fisika dan kimia. Pun demikian bagaimana menjelaskan semesta tanpa disertai dengan ilmu astronomi. Pun juga demikian, bagaimana menjelaskan riwayat Zulkarnen bila tak paham sejarah dan arkeologi.

“Alangkah baiknya kalau Tuan punya mubaligh-mubaligh nanti bermutu tinggi, seperti Tuan M. Natsir, misalnya,” kata Soekarno.

Menurut Soekarno, ribuan orang Eropa masuk Islam bukan karena guru yang menyuruh untuk “beriman” dan “percaya saja.” Mereka juga bukan masuk Islam karena mubaligh-mubaligh yang yang tarik muka angker dan hanya tahu putarkan tasbih sahaja, tetapi dari mubaligh yang memakai cara penerangan yang masuk akal–karena berpengetahuan umum.

“Mereka masuk Islam karena mubaligh-mubaligh yang menghela mereka itu ialah mubaligh-mubaligh modern dan scientific, dan bukan mubaligh “ala hadramaut” atau “ala kyai bersorban,” ungkap Soekarno.

Kata Soekarno pada Tuan Hassan: Percayalah, bahwa bila Islam dipropagandakan dengan cara yang masuk akal dan up-to-date, maka seluruh dunia akan sadar kepada kebenaran Islam itu.

“Moga-moga Tuan suka perhatikannya berhubung dengan Tuan punya pesantren. Hiduplah Tuan punya pesantren itu,” tutup Soekarno. [***]

Yayan Sopyani Al Hadi

Ketua PP Baitul Muslimin Indonesia

Avatar
Tim Redaksihttps://www.genial.id/
Tim Redaksi Genial—Bacaan Ideal Generasi Milenial

Baca Juga

Populer

Bob Marley di Mata Saya

GENIAL. Stasiun Bandung, 1993. Dengan masih menggunakan seragam putih-abu, kami bertujuh menyambangi rumah Cunong, buat mendapatkan se-amplop ”Paket Hemat.” Enam linting, barang Aceh katanya,...

Wasekjen KNPI Pusat Kritik Rekonsiliasi Bersyarat

Genial. Wasekjen Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Pusat, Amilan Hatta, sebut rekonsiliasi diperlukan sebagai bentuk kedaulatan rakyat, bukan sebatas bagi-bagi jabatan. Dia pun mengkritik...

PDIP Belum Ajukan Nama Menteri kepada Jokowi

Genial. Wakil Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan,  Ahmad Basarah mengatakan calon menteri dari kader PDIP yang akan diajukan kepada presiden terpilih Joko Widodo, merupakan...

Elit PDIP Sarankan Gerindra, Demokrat, PAN dan PKS Tetap Jadi Oposisi

GENIAL. Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP), Andreas Hugo Pareira menyarankan partai pengusung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019 untuk tetap mengambil posisi sebagai oposisi...

Haedar: Pertemuan Jokowi dan Prabowo Menjadi Energi Bagi Kehidupan Kebangsaan

GENIAL. Pertemuan  yang dilakukan oleh Joko Widodo dan Prabowo Subianto  merupakan momentum yang bagus dalam kehidupan politik kebangsaan. Bahkan pertemuan ini sangat ditunggu-tunggu oleh...

Jawahir Siap Pimpin DPC PDIP Bener Meriah

GENIAL. DPC PDI Perjuangan Bener Meriah dalam waktu dekat akan segera melaksanakan Konferensi Cabang (Konfercab) untuk menentukan struktural pengurus DPC periode 2019-2024. Sebelumnya diajukan...
Genial—Bacaan Ideal Generasi Milenial