Sikap Positif terhadap Keragaman

GENIAL. Tulisan ini merupakan bagian kedua dari tulisan berjudul Ajaran Perdamaian dalam Quran

***

Keragaman manusia adalah bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Surah al-Rum ayat 22, misalnya, menyebutkan:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah penciptaan langit dan bumi dan beraneka ragamnya bahasamu dan warnamu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.”

Adanya keragaman itu tidak sepatutnya membuat manusia, lebih-lebih yang diikat oleh kesamaan iman, saling merendahkan dan mengumbar prasangka buruk (al-Hujurat ayat 11-12). Keragaman etnis dan suku manusia sepatutnya disikapi positif dengan ta‘aruf (saling mengenal). Ayat 13 surah al-Hujurat menegaskan:

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Maha Mengenali.”

Taaruf meniscayakan adanya interaksi damai di antara manusia. Bagaimana manusia saling mengenal bila tidak ada hubungan damai di antara mereka. Di sini juga ada isyarat bahwa adanya permusuhan adalah karena manusia tidak saling mengenal atau gagal untuk saling mengenal.

Keragaman ada di tengah manusia bukanlah agar manusia memiliki alasan untuk bermusuhan. Manusia mesti berkolaborasi untuk adanya kebaikan (birr), dan bukannya bekerja sama untuk adanya permusuhan (‘udwan). Surah al-Ma‟idah ayat 2 menyebutkan:

“… dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan, dan bertakwalah kepada Allah.”

Kata ‘udwan di ayat ini juga diterjemahkan dalam arti yang lebih umum sebagai pelanggaran (ketentuan Tuhan). Akan tetapi, pada umumnya kata ‘udwan, yang terulang 8 kali di Quran, dan 5 di antaranya menyertai kata itsm, diartikan sebagai permusuhan. Al-Zamakhsyari dan al-Baydhawi memaknai kata ‘udwan di ayat ini sebagai dendam atau pelampiasan balas.

Permusuhan membuat manusia saling bunuh. Padahal, membunuh satu manusia tanpa alasan yang dibenarkan adalah perbuatan dosa besar yang dilarang keras. Surah al-Ma‟idah ayat 32, misalnya, menyebutkan:

“Siapa membunuh seorang manusia, bukan karena ia membunuh orang lain atau membuat kerusakan di muka bumi, maka seolah-olah telah membunuh manusia semuanya. Dan siapa memelihara hidup seorang manusia, maka seolah-olah telah memelihara hidup manusia semuanya.”

Keragaman di antara manusia, lebih-lebih yang ada hubungannya dengan cara pandang dan pedoman hidup, mestinya disikapi dengan berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan. Surah al-Ma‟idah ayat 48 menyebutkan:

“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu mengenai pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.” (Lihat pula pesan surah al-Baqarah ayat 148).

Jadi Quran tidak mendorong umat manusia yang berbineka untuk bersaing di medan perang untuk saling menegasikan, namun untuk berkompetisi dalam ranah kebaikan. (Bersambung…)

Izza Rohman

Ahli Tafsir Universitas Prof. Hamka

Avatar
Tim Redaksihttps://www.genial.id/
Tim Redaksi Genial—Bacaan Ideal Generasi Milenial

Baca Juga

Populer

Konsep GBHN yang Diusulkan PDIP Berbeda dengan Zaman Orba

GENIAL. Wakil Ketua MPR yang juga Ketua DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah menjelaskan, konsep Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang diusulkan PDI Perjuangan berbeda...

Lima Bersaudara Dilantik Jadi Anggota DPRD

GENIAL. Acara pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan anggota DPRD Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan, periode 2019-2024, menjadi saksi bisu keberhasilan lima bersaudara....

PDIP Unjuk Gigi Tim Penanggulangan Bencana

GENIAL. PDI Perjuangan unjuk gigi penanganan cepat penanggulangan bencana yang terjadi di Tanah Air saat delegasi Rusia menyambangi Kantor DPP PDI Perjuangan di Jakarta,...

Abdul Rafiq Potensial untuk Ketua DPRD Sumbawa

GENIAL. DPC PDI Perjuangan Sumbawa setidaknya menyiapkan tiga nama yang dicalonkan sebagai Ketua DPRD. Ketiga nama tersebut adalah Abdul Rafiq, Gita Liesbano, dan Eddy...

Berharap Duduk di Komisi X DPR Rano Berkomitmen Majukan Budaya

GENIAL. Caleg DPR RI terpilih periode 2019-2024 Rano Karno mengatakan kebudayaan adalah salah satu bagian dari Trisakti Bung Karno. Karena itu, PDI Perjuangan menjadikan...

Anak Kartosuwiryo Berikrar Setia Pada NKRI di Hadapan Wiranto

GENIAL. Sarjono Kartosuwiryo, anak dari Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo, tokoh utama Gerakan DI/TII yang hendak mendirikan Negara Islam Indonesia, membaca ikrar setia terhadap Pancasila, UUD...

Sikap Positif terhadap Keragaman

GENIAL. Tulisan ini merupakan bagian kedua dari tulisan berjudul Ajaran Perdamaian dalam Quran

***

Keragaman manusia adalah bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Surah al-Rum ayat 22, misalnya, menyebutkan:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah penciptaan langit dan bumi dan beraneka ragamnya bahasamu dan warnamu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.”

Adanya keragaman itu tidak sepatutnya membuat manusia, lebih-lebih yang diikat oleh kesamaan iman, saling merendahkan dan mengumbar prasangka buruk (al-Hujurat ayat 11-12). Keragaman etnis dan suku manusia sepatutnya disikapi positif dengan ta‘aruf (saling mengenal). Ayat 13 surah al-Hujurat menegaskan:

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Maha Mengenali.”

Taaruf meniscayakan adanya interaksi damai di antara manusia. Bagaimana manusia saling mengenal bila tidak ada hubungan damai di antara mereka. Di sini juga ada isyarat bahwa adanya permusuhan adalah karena manusia tidak saling mengenal atau gagal untuk saling mengenal.

Keragaman ada di tengah manusia bukanlah agar manusia memiliki alasan untuk bermusuhan. Manusia mesti berkolaborasi untuk adanya kebaikan (birr), dan bukannya bekerja sama untuk adanya permusuhan (‘udwan). Surah al-Ma‟idah ayat 2 menyebutkan:

“… dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan, dan bertakwalah kepada Allah.”

Kata ‘udwan di ayat ini juga diterjemahkan dalam arti yang lebih umum sebagai pelanggaran (ketentuan Tuhan). Akan tetapi, pada umumnya kata ‘udwan, yang terulang 8 kali di Quran, dan 5 di antaranya menyertai kata itsm, diartikan sebagai permusuhan. Al-Zamakhsyari dan al-Baydhawi memaknai kata ‘udwan di ayat ini sebagai dendam atau pelampiasan balas.

Permusuhan membuat manusia saling bunuh. Padahal, membunuh satu manusia tanpa alasan yang dibenarkan adalah perbuatan dosa besar yang dilarang keras. Surah al-Ma‟idah ayat 32, misalnya, menyebutkan:

“Siapa membunuh seorang manusia, bukan karena ia membunuh orang lain atau membuat kerusakan di muka bumi, maka seolah-olah telah membunuh manusia semuanya. Dan siapa memelihara hidup seorang manusia, maka seolah-olah telah memelihara hidup manusia semuanya.”

Keragaman di antara manusia, lebih-lebih yang ada hubungannya dengan cara pandang dan pedoman hidup, mestinya disikapi dengan berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan. Surah al-Ma‟idah ayat 48 menyebutkan:

“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu mengenai pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.” (Lihat pula pesan surah al-Baqarah ayat 148).

Jadi Quran tidak mendorong umat manusia yang berbineka untuk bersaing di medan perang untuk saling menegasikan, namun untuk berkompetisi dalam ranah kebaikan. (Bersambung…)

Izza Rohman

Ahli Tafsir Universitas Prof. Hamka

Avatar
Tim Redaksihttps://www.genial.id/
Tim Redaksi Genial—Bacaan Ideal Generasi Milenial

Baca Juga

Populer

Lima Bersaudara Dilantik Jadi Anggota DPRD

GENIAL. Acara pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan anggota DPRD Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan, periode 2019-2024, menjadi saksi bisu keberhasilan lima bersaudara....

Lord Didi dan Romantisme Orang Jawa

GENIAL.  Tentu banyak unsur sehingga Didi Kempot dijuluki sebagai Lord Didi dan lebih dari itu “The Godfather of Broken Heart”. Yang jelas, dia diuntungkan...

Konsep GBHN yang Diusulkan PDIP Berbeda dengan Zaman Orba

GENIAL. Wakil Ketua MPR yang juga Ketua DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah menjelaskan, konsep Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang diusulkan PDI Perjuangan berbeda...

Djarot Sindir Anies, Jomblo kok Betah!

GENIAL. Mantan Gubernur DKI Jakarta Djarot Syaiful Hidayat mempertanyakan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang masih betah ‘menjomblo’ memimpin Ibu Kota. Djarot yang pernah...

Relawan Eksponen HMI Pro Jokowi Minta Jaksa Agung Jangan Partisan

GENIAL. Wacana perebutan posisi Jaksa agung jadi bahasan politisi partai koalisi Jokowi. Tentu saja, wacana "perebutan" posisi Jaksa agung tidak elok. Pasalnya sebagai bagian...

Abdul Rafiq Potensial untuk Ketua DPRD Sumbawa

GENIAL. DPC PDI Perjuangan Sumbawa setidaknya menyiapkan tiga nama yang dicalonkan sebagai Ketua DPRD. Ketiga nama tersebut adalah Abdul Rafiq, Gita Liesbano, dan Eddy...
Genial—Bacaan Ideal Generasi Milenial