Ilustrasi
GENIAL.ID, Tafkir- Generasi Z, yang lahir antara 1996-2010, menghadapi hari-hari yang tak mudah gara-gara pandemi  Covid-19  yang belum kunjung berakhir ini. Yang sedang asyik sekolah, bergaul dengan teman-teman sekampus,  yang mulai keceng-kecengan, tiba-tiba harus stay at home lama sekali.

Ada banyak juga yang baru saja bekerja, baru mulai dan senang-senangnya adaptasi, tiba-tiba harus work from home. Bekerja di rumah. 

Sedih juga dikabari kawan yang punya sekolah. Ada murid baru, masih sekolah dasar, menangis gara-gara tidak jadi ke sekolah. 

Rencana batal.  Setelah berunding untuk latihan sekolah era new normal, wali yang tak setuju memang tak membantah saat diskusi. Diam-diam, dengan nama samaran ia mengabarkan pada radio, "...tolong di sana ada sekolah melanggar zona merah."

Mereka hanya ingin punya kenangan "hari pertama masuk sekolah". Dan setelah siaran itu menyebar, Pak Guru menjawab, "Sekarang tak mungkin..."

Malang betul nasib generasi Z ini. Generasi yang kerap dikeluhkan orangtuanya bakal kecanduan internet, ketika kakek dan neneknya sibuk melahap dan menebar berita-berita hoax politik, dan mengutip potongan-potongan ayat suci untuk menyerang sesama. 

Rasa-rasanya kok jadi merasa malu dihadapan generasi Z ini. Generasi yang dianggap anti sosial, digunjingkan sering tenggelam dan menyendiri bersama konten-konten dunia maya, sementara mama-papa-nya sibuk reuni dengan kawan lama, terbuai kenangan masa lalu, ada yang tenggelam dalam C.L.B.K.

Rasa-rasanya kok jadi merasa berhutang banyak dengan generasi Z ini. Diam di rumah mereka digunjingkan autis, paranoia. Padahal mau bepergian pun apa yang bisa dinikmati ? Polusi, kemacetan, sawah-sawah sudah hilang, pohon-pohon tinggal satu dua saja. Dan di jalan-jalan kota orang-orang tua, pengendara mobil atau motor, saling melanggar aturan dan melempar sumpah serapah.

Tiba-tiba diri merasa seperti orangtua yang tidak berarti dan tidak berdaya.  Menatap masa depan mereka, Z Generation, pewaris kehidupan kelak, penuh dengan pertanyaan : bagaimana nanti ? 

Alam sudah hancur. Moralitas sudah jadi topeng. Agama sudah jadi fashion. Politik semuanya intrik.  Ilmu pengetahuan sudah menjadi barang dagangan.  Dan virus masih terus terbang mencari inang.

Melihat wajah polos mereka yang optimis, diri merasa seperti manusia penuh dosa, di bawah tatapan malaikat penjaga pintu surga. Mau masuk ke sana, merasa diri lusuh tak pantas. Mau bertahan di luar, hari hampir malam, dingin sudah sampai ke tulang. Di bawah tatapan mereka, diri menggigil, padahal hujan pun  belum lagi turun. [**] 

*Oleh: A Eddy Adriansyah

Pegiat Tajdid Institute. Bekerja sebagai Health Care Assistant dan Support Worker di wilayah Hampshire, United Kingdom.
 

You may also like