GWF Hegel/Net
GENIAL. Selain menulis "Pendahuluan" untuk buku the Phenomenology of Spirit, Hegel juga membuatkan sebuah "Kata Pengantar" yang cukup panjang. Dalam edisi terjemahan bahasa Inggris Terry Pinkard yang diterbitkan oleh Cambridge University pada 2018, "Kata Pengantar" buku itu terdiri dari 43 halaman. Menurut para ahli pemikiran Hegel, "Kata Pengantar" itu ditulis belakangan setelah buku the Phenomenology of Spirit selesai lebih dulu.

Katar Pengantar untuk buku the Phenomenology of Spirit adalah salah satu upaya filosofis terbesar sepanjang sejarah untuk menempatkan kembali filsafat sebagai bentuk tertinggi pengetahuan manusia. Dalam istilah yang digunakannya sendiri, pada Kata Pengantar itu, Hegel mencoba menjadikan filsafat sebagai "Ilmu." Dengan kata lain, ia menganggap filsafat sebagai puncak pengetahuan manusia yang disebut sebagai pengetahuan absolut.

Hegel memulai Kata Pengantarnya dengan membuat analisis yang bersifat kritis terhadap perkembangan filsafat mutakhir pada zamannya, di abad ke-18. Setelah itu, ia mengembangkan pandangannya sendiri tentang apa itu filsafat dan kebenaran falsafi. Dengan demikian, ia banyak bertolak dari pemikiran-pemikiran falsafi yang telah ada untuk kemudian merumuskannya secara baru.

Menurut Hegel, sumber pengetahuan kita berasal dari adanya perbedaan antara esensi dan eksistensi. Di sini, eksistensi adalah perwujudan sesuatu dalam kenyataan, sementara esensi adalah hakikat dari sesuatu itu yang berhasil ditangkap oleh pikiran manusia. Dalam hal ini, pengetahuan bersumber perbedaan esensi dan eksistensi dalam berbagai kegiatan mengetahui atau proses kognitif. Kebenaran pengetahuan tercapai jika esensi dan eksistensinya sudah sesuai.

Dalam proses kognitif itu, obyek yang diperoleh melalui pengalaman, atau yang dialami secara langsung oleh subyek, gagal memuaskan pengetahuan. Sebab, dalam pengalaman langsung, obyek itu bersifat aksidental dan tidak lengkap. Karenanya, untuk sampai pada kebenaran pengetahuan, proses kognitif beralih kepada gagasan tentang obyek itu. Di sini, gagasan yang benar bukan sekedar bentuk intelektual yang bersifat subyektif, melainkan esensi atau hakikat dari sesuatu (obyek).

Namun demikian, itu baru langkah awal pengetahuan atau kegiatan mengetahui. Sebab, langkah selanjutnya yang sangat penting adalah bagaimana membuktikan kesesuaian antara esensi dan eksistensi dari obyek pengetahuan. Sebagaimana telah dikatakan di atas, kegiatan mengetahui dikatakan telah berhasil jika kebenaran yang ada pada gagasan (esensi) sesuai dengan keadaan aktual dari suatu obyek (eksistensi).

Berbagai ilmu berbeda satu sama lain dalam bagaimana obyek dari masing-masing ilmu berhubungan dengan kebenaran. Hegel memberikan contoh dengan mengemukakan perbedaan antara pengetahuan matematis dan pengetahuan filosofis. Pada matematika, hakikat (esensi) dari segitiga sama kaki yang benar terletak pada rumus Pythagoras. Dalam hal ini, kebenaran dari segitiga sama kaki berada pada rumus matematika, bukan pada segitiga dalam kenyataan aktual (eksistensi). Dengan kata lain, kebenaran matematis tidak terletak pada obyek (segitiga dalam kenyataan) tapi pada subyek yang mengetahuinya.

Sementara itu, dalam filsafat, obyek pengetahuan filsafat berhubungan secara intrinsik dengan kebenarannya. Sebab contoh, prinsip "hakikat manusia mensyaratkan kebebasan, serta kebebasan tersebut adalah sebuah bentuk dari akal budi" merupakan kebenaran yang tidak dilekatkan kepada manusia oleh suatu teori filsafat secara sekonyong-konyong. Sebaliknya, prinsip itu (esensi) dapat dibuktikan dalam tujuan hidup yang hendak dicapai oleh manusia, atau dalam kenyataan yang sesungguhnya (eksistensi). Dalam hal ini, pembuktian prinsip filosofis di atas tidak dijalani melalui proses pengetahuan yang bersifat eksternal, melainkan dengan sejarah manusia itu sendiri.

Dalam filsafat, hubungan antara obyek dan kebenarannya merupakan sebuah kejadian aktual. Seperti dalam contoh prinsip filsafat di atas, ketika manusia mendapati dirinya berada dalam keadaan tidak bebas, itu disadari sebagai bertentangan dengan kebenaran yang sejati. Artinya, ketidakbebasan manusia merupakan suatu kenyataan yang tidak benar. Eksistensinya pada momen ini (ketidakbebasan) tidak sesuai dengan esensinya sebagai manusia (kebebasan).

Karenanya, kebebasan adalah sesuatu hal yang harus diperoleh dengan cara mengatasi ketidakbebasannya (perbudakan) dan itu menjadi nyata pada saat ia telah betul-betul menjadi pribadi yang bebas. Tentu saja, kebebasan di sini mengandaikan adanya keadaan yang membuat kebebasan menjadi mungkin; kesadaran dan penguasaan rasional atas dunia. Kesimpulan ini dibuktikan oleh sejarah manusia sebagaimana telah diketahui bersama.

Menurut Hegel, esensi manusia terletak pada sejarahnya sebagaimana dipahami oleh filsafat. Karenanya, dalam filsafat, esensi dan eksistensi saling berhubungan satu sama lain. Pembuktian kebenaran filosofis juga berhubungan dengan obyek yang ada. Dalam pemahaman yang bersifat filosofis, esensi muncul dari eksistensi, serta sebaliknya, proses perwujudan eksistensi tidak lain adalah "jalan kembali" menuju esensi.

Bagi Hegel, pengetahuan filosofis semata-mata tertuju pada hal-hal penting yang menentukan takdir manusia dan dunianya. Karenanya, obyek kajian filsafat adalah dunia dalam bentuk yang sejatinya, yaitu: dunia sebagai rasio. Kemudian, karena rasio terwujud hanya melalui perkembangan umat manusia, maka kebenaran filosofis sangat terkait erat dengan eksistensi manusia. Di sini, menurut Hegel,, kebenaran filosofis tidak hanya berkaitan dengan masalah epistemolgis, tapi juga historis.

Selanjutnya, Hegel menyatakan bahwa kebenaran pengetahuan filosofis yang berpijak pada hubungan esensi-eksistensi dari obyek kajiannya seperti itu juga menentukan metode yang dipakai oleh filsafat, yaitu: dialektika. Mengapa dialektika? Sebab, dalam filsafat, kebenaran adalah proses nyata yang tidak dapat ditempatkan dalam sebuah pernyataan atau proposisi. Dalam filsafat, kebenaran bukan terkait dengan hal abstrak/tidak nyata, melainkan dengan yang nyata: eksistensi yang sesuai dengan esensinya.

Karenanya, kajian filosofis memberikan perhatian kepada berbagai proses yang dijalani oleh obyek kajian agar esensinya bisa terwujud dalam eksistensinya, atau eksistensinya terwujud sesuai dengan esensinya. Untuk itu, kekeliruan (ketidaksesuaian antara esensi dan eksistensinya) dipandang sebagai bagian yang penting dan niscaya bagi tercapainya kebenaran (kesesuaian antara esensi dan eksistensi). Kekeliruan harus dilihat sebagai "bentuk yang salah" atau "ketidakbenaran" dari obyek yang nyata (obyek dalam eksistensi yang tidak benar). Kekeliruan adalah "keliyanan" atau aspek negatif dari substansi. Kekeliruan adalah unsur pembentuk kebenaran.

Dalam metode dialektika, berbagai perkembangan nyata dari obyek kajian itu ditangkap seluruhnya. Dalam kerangka tersebut, pengetahuan filosofis dapat dinyatakan benar hanya jika memasukkan keseluruhan momen-momen negatif dan positif sekaligus dari obyek yang dikajinya, serta mereproduksi proses menjadi keliru dan kemudian kembali kepada kebenaran. Dengan obyek kajian filsafat seperti itu, dialektika memang merupakan metode filsafat yang paling tepat.

Obyek kajian filsafat seperti itu sulit dijelaskan oleh metode yang bukan dialektika. Misalnya, kita pakai kembali pernyataan "hakikat manusia adalah kebebasan dalam rasio" di atas. Dengan menggunakan metode non-dialektis, keberadaan fakta ketidakbebasan manusia pada momen sejarah tertentu telah cukup untuk menunjukkan bahwa pernyataan tersebut keliru. Sebaiknya, dengan metode dialektika, wujud ketidakbebasan manusia dalam sejarah perlu diambil dan diletakkan dalam kerangka perkembangan manusia menuju realisasi kebebasan. Lebih dari itu, ketidakbebasan itu adalah unsur niscaya yang ikut membentuk pencapaian kebebasan.

Demikian, dengan membaca Kata Pengantar yang diberikan Hegel bagi buku the Phenomenology of Spirit, kita bisa mengerti sepenuhnya apa yang menjadi tujuan sekaligus metode filsafat Hegel. Sebagaimana telah disebutkan, tujuan filsafat adalah untuk menjelaskan perkembangan manusia dan dunianya agar esensinya terwujud dalam eksistensinya, atau eksistensinya terwujud sesuai dengan esensinya. Untuk mencapai tujuan kajian filsafat itu, Hegel mengemukakan metode dialektika. Ini adalah sebuah metode yang tidak mau terjebak hanya melihat aspek yang benar saja dari obyek kajian, melainkan menangkap semua momen, negatif atau positif, kekeliruan dan kebenaran, dari obyek kajiannya. [***]

Iqbal Hasanuddin

Direktur Eksekutif Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF)

You may also like