GWF Hegel/Net
GENIAL. Karya-karya filsafat Hegel ditulis sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah sistem filsafat. Dalam kerangka sistem ini, sebuah karya bukan saja berhubungan dengan karya-karya lain, tapi juga masing-masing karya itu memiliki fungsi bagi keseluruhan sistem filsafatnya. Setiap karya bisa dibaca terpisah, tapi memahaminya dalam keseluruhan akan jauh lebih baik.

Meskipun demikian, itu tidak berarti sistem filsafat Hegel terbentuk sekali jadi sampai akhir. Meskipun tidak mengubah isi filsafatnya, perubahan sistem itu tentu saja mengubah fungsi dari sebuah karya dalam kerangka keseluruhannya. Dengan kata lain, perubahan sistem menandai perubahan posisi dan relasi antara satu karya dan karya-karya lainnya.

Dalam rentang 1790 sampai 1802, Hegel telah menulis berbagai karya di bidang teologi dan filsafat, tapi karya-karya itu tidak ditulis dalam kerangka sebuah sistem. Karya-karya tentang teologi ditulis pada 1790-1800. Kemudian, setelah 1800, karya-karya filsafat mulai ditulis. Tema-tema tulisannya berkisar tentang filsafat Kant, politik, dan moralitas.

Kemudian, pada 1802 sampai 1806, Hegel mulai menulis karya-karya filsafat dalam kerangka sebuah sistem filsafat. Hegel sendiri menyebut sistem filsafat pada periode ini dengan istilah Sistem Jena (the Jeneser System). Nama itu dipakai karena karya-karya ini merupakan bahan-bahan yang digunakan Hegel untuk perkuliahannya di Universitas Jena seputar logika atau metafisika, filsafat alam dan filsafat roh.

Meskipun berada pada tahap awal, Sistem Jena ini menjadi cikal-bakal bagi sistem filsafat Hegel pada periode berikutnya yang sudah mencapai tahap kematangan. Posisi penting Sistem Jena ini juga ditunjukkan oleh seorang faylasuf kontemporer Madzhab Frankfurt Generasi Ketiga, Axel Honneth. Dengan berpijak pada Sistem Jena, Honneth memperbaharui Teori Kritis Madzhab Frankfurt terdahulu yang kembangkan oleh Horkheimer, Adorno, Marcuse dan Habermas.

Kemudian, penerbitan buku the Phenomenology of Spirit untuk pertama kali pada 1807 menandai keinginan Hegel untuk menggunakan sistem filsafat yang baru. Judul lengkap buku tersebut adalah Sistem Ilmu: Bagian Pertama, Ilmu tentang Pengalaman Kesadaran (System of Science: Part One, Science of Experience of Consciousness). Kemudian, judul buku itu berubah menjadi Sistem Ilmu: Bagian Pertama, Ilmu Fenomenologi Roh (System of Science: Part One, Science of Phenomenology of Spirit). Belakangan, buku ini hanya disebut dengan Fenomenologi Roh saja.

Jika Fenomenologi Roh dianggap sebagai bagian pertama dari sistem yang dibayangkan oleh Hegel, lantas karya mana yang menjadi bagian kedua dan seterusnya? Sayangnya, tidak ada lagi karya Hegel yang ditulis sebagai bagian kedua dari Sistem Ilmu tersebut. Buku yang waktu penerbitannya paling dekat dari penerbitan buku Fenomenologi Roh adalah buku Hegel berjudul Ilmu Logika (volume pertama terbit pada 1812/1813 dan volume kedua terbit pada 1816).

Pada awalnya Hegel memang bermaksud menjadikan buku Ilmu Logika sebagai bagian kedua dari Sistem Ilmu. Indikasinya bisa dilihat dari kesamaan judul lengkap kedua buku itu, yaitu: Ilmu Fenomenologi Roh (Science of Phenomenology of Spirit) dan Ilmu Logika (Science of Logic). Judul asli kedua buku itu sama-sama dimulai dengan kata "ilmu".

Dengan demikian, kita bisa menyimpulkan dengan jelas bahwa penerbitan Fenomenologi Roh itu memang dimaksudkan sebagai mukadimah sekaligus landasan bagi keseluruhan sistem filsafat Hegel (Sistem Ilmu) di mana isinya yang ada pada bagian kedua terdiri dari Ilmu Logika, Filsafat Alam dan Filsafat Roh. Sistematika pada bagian kedua ini tampak mirip dengan Sistem Jena yang dikemukakan oleh Hegel pada 1802-1806.

Satu hal yang perlu kita ingat adalah istilah "ilmu logika" yang dipakai oleh Hegel untuk judul buku Ilmu Logikanya. Berbeda dari arti istilah ilmu logika, misalnya dalam Organon Aristoteles, sebagai ilmu logika formal, Hegel menggunakan istilah "ilmu logika" itu dengan merujuk pada persoalan-persoalan metafisika. Jadi, bagi Hegel, ilmu logika itu adalah nama lain bagi metafisika.

Namun demikian, sistem filsafat Hegel kemudian mengalami perubahan dengan terbitnya Ensiklopedia Ilmu-ilmu Filosofis (Encyclopedia of the Philosopical Sciences in Outline) pada 1817. Dalam kerangka Sistem Ensiklopedia ini, Hegel menyebut bagian-bagian dari sistem filsafatnya adalah (1) Ilmu Logika (Metafisika), (2) Filsafat Alam dan (3) Filsafat Roh. Adapun bagian Filsafat Roh tersebut terbagi lagi ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil: (a) Roh Subyektif, (b) Roh Obyektif dan (c) Roh Absolut.

Dalam Sistem Ensiklopedia ini, posisi Fenomenologi Roh tidak lagi menjadi mukadimah atau landasan bagi keseluruhan sistem filsafat Hegel. Lalu di manakah posisi Fenomenologi Roh dalam sistem baru ini? Fenomenologi Roh menjadi salah satu bagian dari bagian ketiga pada sistem itu, yaitu Filsafat Roh. Ya, Fenomenologi adalah bagian dari Filsafat Roh.

Dengan demikian, setidak-tidaknya kita bisa menyebut tiga sistem filsafat yang dibuat Hegel: Sistem Jena (1802-1806), Sistem Ilmu (1807-1817) dan Sistem Ensiklopedia (setelah 1817). Buku Fenomenologi Roh menjadi bagian dari kedua sistem filsafat terakhir. Pada Sistem Ilmu, Fenomenologi Roh berposisi sebagai pengantar sekaligus fondasi bagi keseluruhan sistem. Sementara dalam Sistem Ensiklopedia, Fenomenologi Roh menjadi salah satu sub-bagian dari bagian ketiga (Filsafat Roh).

Terlepas dari perubahan posisi Fenomenologi Roh pada Sistem Ilmu dan Sistem Ensiklopedia, satu hal yang tidak bisa dibantah lagi adalah bahwa Hegel menulis Fenomenologi Roh dengan tujuan untuk menjadi "ilmu tentang pengalaman kesadaran" sebagaimana termaktub sebagai anak judul buku itu dalam versi yang paling awal: System of Science: Part One, Science of Experience of Consciousness. Di sini, klarifikasi tentang istilah "ilmu" dan "pengalaman kesadaran" menjadi penting.

Istilah "ilmu" dalam frasa Sistem Ilmu yang digunakan Hegel tentu bukan dalam pengertian ilmu-ilmu khusus seperti ilmu-ilmu alam (natural sciences), ilmu-ilmu sosial (social sciences) dan sebagainya. Istilah "ilmu" di sana juga bukan dalam pengertian filsafat ilmu, yakni telah falsafi atas cara kerja ilmu-ilmu. Istilah "ilmu" di sana sepadan dengan filsafat sebagai pengetahuan absolut.

Dalam pengetahuan absolut, "subyek yang mengetahui" dan "obyek yang diketahui" bersifat indentik. Subyek dan obyek pada pengetahuan absolut bukan dua hal yang asing satu sama lain. Di sini, pengetahuan absolut adalah suatu pengetahuan yang padanya tidak menyisakan sedikit juga ruang bagi ketidaktahuan; tidak ada yang luput dari pengetahuan absolut.

Sebab, jika masih ada bidang yang belum diketahui, maka itu tentu adalah pengetahuan yang bersifat relatif, bukan pengetahuan absolut. Pengetahuan relatif adalah pengetahuan tentang satu bidang tertentu. Sosiologi berisi pengetahuan khusus tentang praktik sosial, sementara biologi mengkhususkan diri pada pengetahuan tentang organisme. Sosiologi dan biologi adalah contoh pengetahuan relatif.

Dalam pengetahuan relatif, "subyek yang mengetahui" dan "obyek yang diketahui" bersifat tidak indentik. Sebab, dalam pengetahuan relatif, subyek yang mengetahui berbeda dari obyek yang diketahui adalah dua hal berbeda. Kedua unsur dalam pengetahuan relatif bersifat asing satu sama lain. Dengan kata lain, subyek dan obyek dalam pengetahuan relatif masih saling berkontradiksi.

Jika Hegel memaksudkan buku Fenomenologi Roh sebagai pengantar bagi Sistem Ilmu atau pengetahuan absolut, lantas apa arti dari frase "fenomenologi roh" itu sendiri? Di sini, istilah fenomenologi bukan sebuah metode untuk memahami roh. Bagi Hegel, fenomenologi adalah cara manifestasi roh yang terus berkembang secara dialektis mulai dari kesadaran, ke kesadaran-diri, ke rasio, hingga sampai kepada roh atau pengetahuan absolut.

Untuk sampai kepada pengetahuan absolut, kesadaran melaluinya melalui proses dialektis. Artinya, kesadaran yang paling sederhana pertama-tama mengetahui bahwa bentuk pengetahuan yang sekarang ada sudah tidak memadai untuk memahami kenyataan. Di sini, kesadaran berkontradiksi dengan kenyataan.

Karenanya, kesadaran harus mengubah dirinya menjadi bentuk kesadaran yang lebih tinggi, yaitu: kesadaran-diri. Namun demikian, kesadaran-diri juga pada akhirnya tidak dapat mengetahui kenyataan sepenuhnya, karenanya kesadaran-diri juga berkontradiksi dengan kenyataan. Karena itu, kesadaran-diri juga harus berubah menjadi rasio atau akal budi. Namun demikian, akal budi masih mendapati kenyataan sebagai sesuatu hal yang lain. Proses dialetika ini terus berlanjut sampai akal budi menjadi roh, serta roh menjadi roh absolut/pengetahuan absolut.

Sampai di sini, kita bisa mengerti bahwa buku Fenomenologi Roh (the Phenomenology of Spirit) berisi ulasan Hegel tentang pengalaman kesadaran untuk sampai kepada roh/pengetahuan absolut. Dalam konteks ini, kita juga bisa mengerti mengapa Hegel menempatkan Fenomenologi Roh sebagai pengantar sekaligus pendasaran bagi keseluruhan sistem filsafatnya, suatu sistem ilmu yang berpusat pada roh/pengetahuan absolut. [***]

Iqbal Hasanuddin

Direktur Eksekutif Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF)

You may also like