GWF Hegel/Net
GENIAL. Bersama Kant (1724-1804), Fichte (1762-1814) dan Schelling (1775-1854), Hegel dipandang sebagai para pemikir yang dikelompokkan ke dalam idealisme Jerman. Kata "Jerman" yang disandingkan dengan "idealisme" di sini dipakai untuk membedakan mereka dari para pemikir lain yang juga menganut paham "idealisme" tapi berada di wilayah lain di luar Jerman. Misalnya, di Inggris dan Italia, paham idealisme juga pernah begitu dominan.

Dengan demikian, idealisme Jerman adalah suatu kelompok atau madzhab filsafat di Jerman yang mendukung paham "idealisme."  Orang yang pertama menggunakan istilah "idealisme" sebagai madzhab filsafat adalah Fichte. Paham Fichte ini kemudian diikuti oleh Schelling dan Hegel. Bagaimana dengan Kant? Walaupun muncul sebelum Fichte, corak filsafat Kant juga dianggap sebagai bercorak idealis.

Penggunaan istilah idealisme dimulai ketika Fichte menyatakan bahwa dalam setiap pengalaman yang terjadi, selalu ada unsur subyek (kesadaran) dan obyek (kenyataan) yang saling terjalin satu sama lain. Lantas, di antara kedua unsur pengalaman itu, manakah yang menghasilkan pengalaman nyata? Jika kita memilih kenyataan, kita termasuk pada dogmatisme: obyek menentukan kesadaran. Sebaliknya, jika kita memilih kesadaran, kita termasuk pada idealisme: subyek yang menentukan kenyataan.

Pertanyaannya kemudian adalah pokok persoalan apa yang menjadi penyebab munculnya idealisme tersebut? Apa yang menjadi kekhasan paham filsafat ini dibandingkan dengan paham atau aliran filsafat lainnya? Dalam pengertian seperti apa Hegel disebut sebagai seorang faylasuf idealis?

Di sepanjang sejarahnya, filsafat senantiasa mendaku hak istimewa sebagai pembimbing umat manusia dalam memahami dan menata masyarakat dan alam sekitarnya. Misalnya, ketika menulis buku Politeia, Platon (428–427 SM) bukan sedang menjelaskan "secara empiris" hal-ihwal manusia dan kehidupan politik Athena pada zamannya. Sebaliknya, Platon sedang mengkritik praktik politik "yang ada" sekaligus menunjukkan bagaimana menjadi manusia yang "seharusnya" dan bagaimana negara itu "seharusnya" dikelola.

Mengapa filsafat merasa layak untuk memiliki hak istimewa tersebut? Pertama, obyek kajian filsafat bukanlah kenyataan-kenyataan khusus, melainkan hakikat yang berada di balik kenyataan-kenyataan yang tampak tersebut. Misalnya, filsafat tidak tertarik menjelaskan sosok manusia A atau manusia B, melainkan hendak berbicara tentang apakah manusia atau kemanusiaan itu. Lebih dari itu, filsafat pada akhirnya juga berbicara tentang bagaimana manusia yang ideal.

Tentu saja, hakikat kenyataan tidak bisa ditangkap oleh panca indera, melainkan dipikirkan oleh akal budi. Sebab, panca indera hanya mampu menangkap kenyataan-kenyatan khusus yang senantiasa berubah-ubah seiring perubahan waktu dan tempat. Sementara itu, akal budi dapat menangkap inti sari, esensi atau konsep yang bersifat umum dan tetap di balik kenyataan-kenyatan yang selalu berubah tersebut.

Para faylasuf Yunani menyatakan bahwa "kebenaran itu bersifat universal, nisaya dan bertolak-belakang dengan pengalaman keseharian yang ditandai oleh perubahan dan serba kebetulan." Dalam hal ini, kebenaran hakiki yang diusung filsafat bersifat umum karena melampaui hal-hal khusus; kebenaran falsafi berfokus pada hukum umum dari segala sesuatu, bukan pada kasus-kasus khususnya.

Klaim filsafat sebagai pengetahuan rasional yang mampu menangkap hakikat kenyataan yang bersifat universal tetap bertahan berabad-abad lamanya sampai muncul sebuah aliran filsafat di zaman modern yang dikenal sebagai "empirisme". Aliran ini banyak berkembang di Inggris sehingga biasanya disebut sebagai "empirisme Inggris". Dua tokoh utama aliran filsafat ini adalah John Locke (1632-1704) dan David Hume (1711-1776).

Empirisme mengkritik pandangan yang mengutamakan akal budi sebagai penentu kesahihan pengetahuan, sekaligus menolak anggapan bahwa ide-ide atau konsep universal sebagai bawaan akal budi. Bagi empirisme, ide-ide universal itu sebetulnya merupakan hasil abstraksi dari hal-hal khusus, serta hanya representasi dari kenyataan-kenyataan khusus itu. Apa yang dipandang sebagai kebenaran rasional yang bersifat universal tersebut tidak lain hanyalah kumpulan pengalaman dan kebiasaan dan dirasa sebagai ajek.

Bahkan, Hume membawa empirisme sampai mengarah kepada skeptisisme. Ia menyatakan bahwa manusia sesungguhnya tidak dapat mengetahui hakikat kenyataan. Sebab, apa yang kita ketahui adalah persepsi kita tentang kenyataan, bukan kenyataan itu sendiri. Ia juga menyatakan bahwa apa yang disebut sebagai subyek atau diri hanyalah kumpulan kesan-kesan. Buktinya, ketika tidur, subyek atau substansi kesadaran itu tidak ada. Terakhir, ia menyatakan hukum sebab-akibat itu tidak sungguh-sungguh ada dalam kenyataan, karena sebab-akibat hanya kebiasaan-kebiasaan belaka.

Dengan menolak kebasahan ide-ide universal atau hakikat kenyataan dan menggugat klaim akal budi sebagai dasar bagi keabsahan itu,  empirisme pada gilirannya juga mempertanyakan  hak istimewa akal budi untuk menata dunia. Karenanya, filsafat dianggap tidak bisa lagi menjadi pedoman untuk menentukan arah perubahan realitas apapun juga. Demikian, empirisme berujung pada suatu kesangsian atau skeptisisme radikal.

Pada titik ini, idealisme Jerman adalah aliran filsafat yang berusaha menyelamatkan filsafat berlandaskan akal budi dari serangan atau kritik-kritik yang dikemukakan oleh empirisme Inggris. Bagi idealisme Jerman, jika manusia tidak mampu menangkap kesatuan dan universalitas dari kenyataan yang terus berubah-ubah ini, manusia terpaksa harus pasrah menyerahkan nasib dan hidupnya pada kenyataan-kenyataan di luar diri kita. Dengan kata lain, kita bukan saja tidak bisa menata dunia luar, tapi juga tak bisa menentukan kehidupan kita sesuai pilihan dan kehendak bebas kita.

Untuk itu, Immanuel Kant tampil untuk menjawab tantangan yang diberikan oleh empirisme Inggris, khususnya David Hume. Menurut Kant, pengetahuan manusia tentang dunia di luar dirinya memang tidak bisa tidak harus melalui pengalaman indrawi. Pengalaman adalah unsur penting dalam membentuk pengetahuan kita tentang kenyataan. Dalam istilah Kant, pengalaman adalah unsur a posteriori bagi pengetahuan manusia.

Namun demikian, lanjut Kant, untuk membentuk pengetahuan manusia, pengalaman yang datang melalui panca indera itu diterima dan disusun sedemikian rupa oleh sejenis cetakan yang ada pada diri manusia. Cetakan-cetakan itu disebut sebagai forma (ruang-waktu) dan kategori-kategori tertentu yang jumlahnya ada 12 kategori. Artinya, pengetahuan yang dimiliki manusia bukanlah kenyataan pada dirinya (das ding an sich), melainkan kenyataan yang telah disaring oleh unsur-unsur yang ada dalam akal budi manusia sendiri (a priori).

Sebagai contoh, ketika saya dan beberapa orang teman sedang berdiri di pinggir sebuah lokasi yang di sana ada air mengalir, ada batu-batuan, ada pasir, mungkin ada rumput dan pepohonan di pinggirnya, kami akan mengatakan bahwa kami sedang berada di pinggir sungai. Apakah itu benar? Sebetulnya, apa yang tampak bagi mata kami adalah air, pasir, batu, rumput dan pepohonan. Namun demikian, berkat salah satu kategori yang ada pada akal budi kami, kami mengetahui bahwa kumpulan air, batu, pasir, rumput dan pohon membentuk kesatuan yang kita sebut sebagai sungai.

Lalu, jika kebetulan di sungai itu ada organisme lain, misalnya ikan di dalam sungai atau semut dan burung di pohon, apakah mereka akan sampai pada pengetahuan yang sama dengan saya dan teman-teman saya bahwa mereka sedang ada di sungai? Bagi ikan, mungkin mereka tidak akan melihatnya sebagai sungai, melainkan semesta luas tempat ia hidup dari lahir sampai ia mati. Bagi semut dan burung, apa yang kita pahami sebagai sungai itu juga dipahami dengan cara berbeda.

Menurut Kant, manusia tidak bisa mengetahui kenyataan dunia luar pada dirinya atau senyata-nyatanya. Sebab, apa yang kita bisa ketahui adalah kesan-kesan dari kenyataan yang masuk lewat panca indera dan dibentuk oleh kategori-kategori yang ada pada akal budi. Melalui akal budi inilah, berbagai kenyataan yang berbeda, berubah dan khusus dipahami dalam kerangka kesatuan. Lebih dari itu, akal budi membuat kenyataan menjadi bersifat universal melalui pembentukan konsep-konsep.

Bagi Kant, akal budi manusia bukan hanya memiliki kategori-kategori untuk membentuk pengetahuan tentang dunia luar, tapi akal Budi manusia juga memiliki kategori-kategori untuk mengerti bagaimana bertindak secara etis. Karenanya, manusia tidak saja bisa sampai pada pengetahuan tentang suatu obyek dengan cara yang sama dengan manusia lain, tapi manusia juga bisa sama-sama bersepakat tindakan mana yang baik dan buruk secara etis.

Demikian, di hadapan serangan dan kritik tajam empirisme Inggris, Kant mewakili idealisme Jerman berdiri tegak untuk membela kemampuan akal budi manusia dalam mengerti dunia eksternal (alam) dan membimbing manusia untuk bertindak secara etis, serta menentukan tatanan sosial yang mendukung kesejahteraan dan kebebasan manusia. Dalam hal ini, Kant menerima kritik dari empirisme sekaligus melampauinya.

Para faylasuf pendukung idealisme Jerman pada dasarnya berdiri di barisan yang sama dengan Kant. Apa yang dilakukan oleh Fichte, Schelling dan Hegel kemudian adalah menghilangkan apa yang disebut das ding an sich atau kenyataan pada dirinya yang menurut Kant tidak bisa diketahui itu. Bagi para faylasuf idealis, keberadaan "wilayah yang tak bisa diketahui oleh akal budi" itu disebabkan oleh kegagalan Kant dalam mengerti hakikat akal budi dan kenyataan sekaligus.

Proyek filsafat Hegel sendiri dirancang untuk menghapus "wilayah yang dianggap tidak bisa diketahui oleh akal budi" itu. Dengan metode filsafat yang dipakainya, Hegel bermaksud menunjukkan bahwa pada akhirnya tidak akan ada lagi yang asing bagi akal budi; tidak akan ada lagi das ding an sich. Sebab, kenyataan dan akal budi sama-sama manifestasi dari Roh atau Yang Absolut. Setelah melewati proses dialektis yang panjang, akal budi dan kenyataan akan tampak menjadi identik. Apa yang nyata itu rasional; serta apa yang rasional itu nyata. What is real is rational; what is rational is real. [***]

Iqbal Hasanuddin

Direktur Eksekutif Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF)

You may also like