GWF Hegel/Net
GENIAL. Entah kenapa bulan Ramadhan senantiasa memberikan kesempatan untuk melakukan hal-hal yang biasanya sulit dilakukan di luar Ramadhan. Mungkin, karena saat bulan puasa seperti ini, kita tidak lagi direpotkan oleh urusan mau makan-minum apa, jajan apa, dan jalan ke mana karena badan juga merasa lemas untuk pergi jauh-jauh.

Tiga tahun lalu, selama Ramadhan, saya membaca kitab Mabadi Ara Ahl al-Madinah al-Fadhilah karya al-Farabi. Kemudian, di Ramadhan tahun berikutnya, saya juga membaca Kitab al-Dharuri fi al-Siyasah karya Ibn Rusyd.

Saat itu, saya tidak hanya membaca kitab-kitab tersebut. Saya juga menuliskan ulasan singkat atas bacaan-bacaan itu dan menuliskannya setiap hari. Kumpulan tulisan itu sekarang malahan sudah dikumpulkan. Dengan sentuhan editing, saya sebetulnya punya dua draft buku.

Pada Ramadhan tahun lalu, saya rasanya tidak secara khusus membaca sebuah buku. Saya lupa alasannya kenapa. Mungkin bosan. Atau, capek. Meskipun Ramadhan tahun lalu itu sebetulnya telah direncanakan untuk membaca Kitab al-Muqaddimah karya Ibn Khaldun. Nyatanya, itu tidak terjadi.

Walaupun tidak jadi membaca kitab Ibn Khaldun itu, di tahun tersebut, saya menyempatkan membaca buku Dalai Lama berjudul the Way to Freedom. Buku ini berisi ulasan Dalai Lama atas ajaran-ajaran Buddhisme Tibet. Saya juga sempat posting hasil pembacaan saya itu di media sosial setiap hari. Satu hal yang saya tidak ingat adalah apakah kegiatan membaca buku Dalai Lama itu dilakukan persis pada bulan Ramadhan atau bukan. Besar kemungkinan di luar Ramadhan.

Pada Ramadhan tahun ini, saya ingin kembali membaca sebuah buku. Buku filsafat juga. Buku itu berjudul the Phenomenolgy of Spirit. Ini adalah buah karya seorang faylasuf Jerman yang cukup terkenal; Hegel.

Mengapa the Phenomenology of Spirit?

Ketika aktif di forum kajian saat kuliah sebagai anak filsafat, saya dan teman-teman pernah mengkopi beberapa buku filsafat. Di antaranya adalah buku-buku Hegel dan buku-buku tentang Hegel. Di antara buku Hegel adalah the Phenomenology of Spirit, the Science of Logic, the Philosphy of Rights. Adapun buku-buku tentang Hegel adalah Hegel karya Taylor, Reason and Revolution (Marcuse), dan dua buku pengantar kepada filsafat Hegel yang ditulis oleh Kojeve dan Hyppolite.

Dulu, buku itu dikumpul-kumpul, diberikan sampul, diletakkan di rak buku serapi mungkin. Anehnya, buku-buku tidak pernah dibaca secara serius. Paling, dibaca beberapa bagiannya saja. Di dalam hati, muncul kata-kata, "mungkin buku-buku ini akan dibaca nanti. Minimal, sekarang punya dulu bukunya." Nyatanya, belasan tahun berlalu, buku-buku itu tidak pernah betul-betul dibaca.

Lantas, entah kenapa, awal puasa Ramadhan ini tiba-tiba muncul keinginan untuk mencoba membaca buku-buku itu secara serius. Mungkin munculnya keinginan itu dilatarbelakangi bukan hanya oleh puasa, tapi juga oleh WFH dan social distancing yang sudah dilakukan 1 bulan sebelum bulan Ramadhan. Bayangkan. Sebulan lebih tidak kemana-mana dan tidak melakukan banyak hal sebagaimana biasanya.

Di minggu pertama Ramadhan, saya mulai pemanasan dengan membaca Reason and Revolution (Marcuse) dan Hegel (Taylor). Kedua buku itu relatif cepat selesai dibaca karena dulu pernah dibaca-baca dan didiskusikan walaupun hanya sekilas-sekilas.

Dengan membaca dua buku pengantar itu, latar belakang historis dan filosofis bagi munculnya pemikiran filosofis Hegel kembali muncul di kepala. Misalnya, Marcuse dan Taylor mengaitkan filsafat Hegel dengan Revolusi Perancis. Keduanya juga menjelaskan proyek filsafat Hegel sebagai upaya untuk melampaui kontradiksi-kontradiksi dalam alam, sejarah dan kesadaran manusia, serta menegaskan bahwa berbagai kontradiksi itu hanya bisa dipahami dan diselesaikan dengan mengandaikan Geist sebagai dasar segala sesuatu. Semua kenyataan tidak lain adalah manifestasi-manifestasi dari Geist itu.

Setelah membaca buku-buku pengantar yang baik dari Marcuse dan Taylor itu, kini saatnya saya membaca the Phenomenology of Spirit, terjemahan bahasa Inggris dari Phanomenolgie des Geistes. Diniatkan bacanya bisa selesai saat Lebaran tiba. Ya, kalau tidak selesai, itu juga tidak apa-apa. Niat aja dulu. He he he.

Mungkin akan ada orang yang bertanya apa sih manfaatnya membaca buku tersebut? Jujur, saya juga nggak bisa menjawabnya. Bagi banyak orang, filsafat itu tidak berfaidah. Membaca teks filsafat itu cuma buang-buang waktu. Apalagi ini yang dibaca adalah bukunya Hegel yang terkenal susah.

Paling-paling, saya cuma bisa menjawab: kalau tidak membaca buku seperti ini, terus apa? Masa diem-diem bae. Paling tidak, ini bisa membuat bulan puasa di saat PSPB gegara Covid-19 ini menjadi lebih terasa beda.

Kalaupun itu dianggap tidak bermanfaat, ya setidaknya saya melakukannya di saat banyak hal lainnya juga sama-sama tidak bermanfaat. Mungkin inilah alasan mengapa bulan ini disebut sebagai bulan penuh barakah. Tiduran siang hari aja dianggap berpahala. Memang, inilah saat yang tepat untuk melakukan hal-hal yang kurang bermanfaat.

Sebagai informasi, saya rencananya hanya mau membaca buku the Phenomenology of Spirit itu. Tidak lebih. Sebab, dalam tiga tahun terakhir membaca karya al-Farabi, Ibn Rusyd dan Dalai Lama serta memposting hasilnya di media sosial, hidup saya terasa kurang santai karena seperti dikejar-kejar untuk tayang setiap hari. Kali ini, saya mau tetap serius tapi santai: tidak memposting hasil bacaan setiap hari. Saya mau menikmatinya.

Yuk, ah siap-siap. Ila hadrati Syaikhina Hegel, al-Fatihah..... [***]

Iqbal Hasanuddin
Direktur Eksekutif Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF)

You may also like