Istimewa (Net)
Genial - Membaca pengantar kitab Imam al-Ghazali Jawahir al-Quran wa Duraruhu kok rasanya kena tampol yah.   Allah Karim. 

Betapa sering kita membaca al-Qur’an bahkan menyelami maknanya tanpa berhasil meraih keindahan permata dan mutiara al-Qur’an. Itah sebabnya Imam al-Ghazali memulai kitabnya dengan menulis pengantar seperti ini:

“Aku berharap membangunkanmu dari tidurmu, wahai kalian yang membaca al-Quran, yang mempelajarinya sebagai sebuah amalan, yang menyerap makna dan kalimatnya, berapa lama lagi kamu akan berjalan di pantai samudera, menutup matamu dari keajaiban makna al-Qur’an?

“Bukankah itu tugasmu untuk berlayar ke tengah samudera makna agar bisa melihat pesonanya, untuk berjalan ke pulau guna mendapat hasil terbaik, dan untuk menyelam di kedalaman agar bisa mengambil mutiaranya?

“Tidakkah kamu merasa malu terhalang mendapatkan permata dan mutiara dengan hanya terus menerus melihat pantai dan tampilan lahir belaka?

“Tidakkah sampai pengetahuan padamu bahwa al-Qur’an itu bagai samudera dan darinya segala pengetahuan akan muncul, seperti sungai dan anak sungai yang bercabang dari tepi lautan?

“Mengapa tidak kamu tiru mereka yang menyeberangi ombak dan mendapat belerang merah, menyelami kedalaman lautan dan mendapatkan kristal merah, mutiara berkilau dan peridot hijau, bepergian menyusuri pantai dan mengumpulkan ambar dari binatang untuk bahan obat dan parfum?

“Sebagai cara memenuhi kewajibanku sebagai saudaramu dan berharap keberkahan doa kalian, sekarang aku akan bimbing anda menuju perjalanan mereka, berenang dan menyelami (permata dan mutiara al-Qur’an).”

Imam al-Ghazali mulai mengupas mengenai permata dan mutiara al-Qur’an di dalam kitabnya ini. Imam al-Ghazali mengupas 19 topik penting sebagai langkah awal, sebelum melakukan kategorisasi ayat-ayat al-Qur’an untuk menyingkap kandungan rahasianya.

Beliau mengelompokkan 763 ayat untuk memahami Allah (beliau sebut sebagai jawahir atau permata al-Quran), dan 741 ayat untuk menuju Allah (beliau sebut sebagai durar atau mutiara al-Qur’an).

Membaca ayat yang telah dipilihkan Imam al-Ghazali dalam berbagai kategori membuat kita memiliki pengalaman berbeda dalam membaca kandungan al-Qur’an, ketimbang hanya mencari ayat pada topik tertentu saja. Surat dalam al-Qur’an mengandung jawahir dan durar al-Qur’an.

Sebagai contoh dalam surat al-A’raf, Imam al-Ghazali memasukkan 10 ayat ini sebagai jawahir al-Qur’an: 10, 11, 43, 54, 55, 56, 57, 58, 143, 185,  Sedangkan dalam surat yang sama, beliau meletakkan 8 ayat ini sebagai durar al-Qur’an: 29, 30, 31, 96, 165, 203, 204, 205, 206. 

Bacalah ayat-ayat sesuai kategori di atas dan resapi perbedaannya. Bukalah tafsirnya. Menarik bukan cara Imam al-Ghazali memilah kategori dan memasukkan ayat-ayat ke dalam kategori? Semuanya bertujuan membimbing kita untuk lebih memahami permata dan mutiara al-Qur’an.

Selamat memenuhi undangan Imam al-Ghazali untuk menemukan permata dan mutiara al-Qur’an.

Penulis : Nadirsyah Hosen
Wakil Ketua Pengasuh Pesantren Takhasus Institut Ilmu al-Quran (IIQ) Jakarta.  Tulisan ini  sudah naik di situs personal Gus Nadir di https://nadirhosen.net. 


You may also like