Soekarno/Net
GENIAL. Sejak masa pergerakan kemerdekaan, Karl Marx datuk, pembela dan kampiun pergerakan buruh begitu Sukarno menyebutnya, pemikirannya menjadi bahan studi dan kajian Sukarno dan beberapa kali dituangkan dalam artikel yang ditulis sendiri olehnya. Bagi kalangan intelektuil borjuis, menurut Sukarno, pemikiran Marx sangat sulit untuk dipahami. Tetapi pemikiran Marx amat mudah untuk dimengerti dan dipahami oleh rakyat tertindas. Dalam berhadapan dengan pandangan kaum Anarkis, Sukarno membela Marx. Bahkan yang nantinya menjadi pandangan ideologi Sukarno, nasionalisme di negeri-negeri terjajah telah bersintesa dengan Marxisme, menjadi bentuk ideologi dengan corak yang baru melahirkan karakter manusia baru. Nasionalisme baru inilah menurut Sukarno yang hidup di kalangan rakyat marhaen Indonesia menjadi senjata perjuangan bangsa-bangsa terjajah melawan antipodenya sendiri yaitu kolonialisme dan imperialisme.”

Tampaknya pemikiran Sukarno yang mensintesiskan antara Nasionalisme, Marxisme dan Agama juga diadopsi oleh partai-partai progresif revolusioner non komunis di beberapa negara Asia, Afrika dan Amerika Latin. Ideologi seperti ini menjadi ciri khas dari partai-partai politik dunia ketiga yang berhaluan membebaskan negeri mereka dari kolonialisme dan imperialisme. Partai-partai politik dalam satu spektrum seperti PNI atau Partindo diantaranya adalah: Partai Kebangsaan Melayu Malaya, Partai Rakyat Malaya, Partai Rakyat Brunei, Partai Rakyat Pakistan, Partai Ba’ath, Front Nasional Demokratis dan Sekuler, Mujahidini Khalq, Front Pembebasan Nasional Yemeni dan Front Pembebasan Yemen Selatan yang Terjajah, Kongres Nasional India, Partai Demokratis Rakyat Afghanistan, Perhimpunan Sosialis Arab Libya, Perhimpunan Sosialis Sudan, Front Pembebasan Nasional Aljazair, Pergerakan Nasional Kongo, Partai Sosialis Revolusioner Somalia, Partai Rakyat Konvensi-Ghana, Partai Demokratik Guinea, Partai Revolusi (Chama Cha Mapinduzi) Tanzania, Kongres Nasional Afrika-Afrika Selatan dan  Teologi Pembebasan di Amerika Latin.

Dalam mencermati Marxisme, Sukarno membedakan Filsafat Materialisme dan Materialisme Historis. Sukarno tidak menggunakan istilah Materialisme Dialektis dan Historis, seperti kebanyakan para penganut Marxisme-Leninisme. Sukarno hanya menyebutnya Materialisme Historis atau Materialisme Sejarah. Kalau kita telisik kembali, Marx sendiri tidak menggunakan istilah materialisme historis atau materialisme dialektika. Marx menggunakan istilahnya sendiri yaitu metode dialektika yang berbeda dengan metode dialektika Hegel dan pandangan materialisme terhadap sejarah yang kemudian oleh Engels menyebutnya sebagai materialisme historis. Dalam literatur Marxis, untuk pertama kalinya istilah Materialisme Dialektis diciptakan oleh Karl Kautsky (1854-1938M) dan Georgi Valentinovich Plekhanov (1856-1918M). Sedangkan istilah Materialisme Dialektis dan Historis (MDH) adalah istilah yang digunakan oleh Joseph Stalin dalam karyanya yang berjudul Materialisme Dialektis dan Historis (1938). Sejak itu, istilah MDH dibakukan oleh Partai Komunis Uni Soviet sebagai pandangan dunia Marxisme-Leninisme dan sebagai metode untuk mempelajari masyarakat dan sejarahnya.

Materialisme Historis menurut Sukarno dapat digunakan sebagai metode berpikir untuk menganalisis kehidupan sosial di Indonesia. Sukarno berpandangan bahwa Materialisme Historis bukanlah merupakan ajaran atau ideologi bahkan menjadi “satu agama tersendiri”, tetapi semata-mata merupakan ilmu perjuangan, metode berpikir dan teori sosial yang dipergunakan untuk menganalisa suatu keadaan ekonomi, sejarah, politik dan kemasyarakatan. Materialisme Historis sebagai metode berpikir dan metode perjuangan tidak bertentangan dengan keyakinan beragama. Bahkan menurut Sukarno, Materialisme Historis sejalan dengan rasionalitas agama. Seseorang yang mempelajari filsafat Marxis dan menggunakan Materialisme Historis tidak harus menjadi komunis. Inilah Marxisme tafsir Sukarno.

Bandingkan dengan tafsir Mohammad Hatta tentang Materialisme Historis yang Ia tuangkan dalam tulisan Ajaran Marx dan Kepintaran Sang Murid Membeo (1940), "Di mana perlu saya menunjukkan bahwa teorinya Marx berguna untuk menerangkan perkembangan masyarakat, asal orang tahu menggunakannya dengan tepat. Bagi diri sendiri saya terima ajaran Materialisme-Sejarah sebagai teori, tidak sebagai dogma. Sebagai juga lain-lain teori ilmiah, ia berlaku hanya apabila syarat-syarat tertentu, yang mendasarinya, terpenuhi." Dalam karangan Hatta yang lain yakni Persoalan Ekonomi Sosialis, menurutnya selain Marxisme, agama Islam dan corak kolektif masyarakat Indonesia yang melahirkan Sosialisme Indonesia.

Sedangkan Filsafat Materialisme, menurut Sukarno menjawab problematika keprimeran, dan relasi antara materi dengan ide, serta epistemelogi pikiran atau ide. Materi adalah primer, sedangkan ide adalah sekunder. Materi dapat diraba dan dirasa oleh pancaindera, serta tidak dapat dibasmi, dan abadi. Sebaliknya, ide atau pikiran adalah sekunder. Filsafat materialisme yang dimaksudkan oleh Sukarno adalah filsafat materialisme yang menjadi buah pikiran Feuerbach. Dalam pembacaan Sukarno tentang filsafat materialisme, Sukarno membedakan antara materialisme Marxis dengan materialisme Feurbach. Sukarno menilai bahwa materialisme yang ateis tidak sesuai dengan kultur dan kehidupan bangsa Indonesia. Materialisme ateis inilah yang ditolak oleh Sukarno, “Sosialisme kami adalah sosialisme yang tidak memasukkan konsep materialisme yang ekstrim, karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang takut kepada Tuhan dan mencintai Tuhan.”

Ludwig Feuerbach (1804-1872M), filsuf materialis Jerman berjasa mengembangkan tradisi revolusioner materialisme abad ke-17 dan 18. Feuerbach adalah murid Hegel dan orang pertama yang mengkritik dan melengkapi filsafat Hegel dari titik-pandang Hegel. Kritik Feuerbach ditujukan kepada Hegel yang berpendapat bahwa ide absolut adalah realitas utama (primer), abadi, bentuk yang paling sempurna, dan sumber dari realitas yang ada. Pertama-tama, Ide absolut disangkal oleh Feuerbach. Kemudian, pandangan Hegel tentang alam adalah proyeksi atau pencerminan dari ide absolut, kini oleh Feuerbach dibalik menjadi “ide absolut adalah proyeksi dari hakikat manusia yang dilahirkan, dan tumbuh dari alam.” Alam adalah satu-satunya substansi dan eksistensinya berada di luar manusia yang menciptakan manusia. Tidak ada yang diluar dari alam, bahkan makhluk halus yang diciptakan oleh fantasi agama hanyalah pencerminan dari pikiran manusia.

Pemikiran Feuerbach amat dipengaruhi oleh materialis-materialis mekanik seperti Thomas Hobbes (1588-1679 M), Benedictus Spinoza (1632-1677 M), Paul Heinrich Dietrich Baron von Holbach (1723-1789 M), dan Julien Offray de La Mettrie (1709-1751 M). Kelemahan dari materialisme mekanik adalah tidak melihat peranan aktif dari ide atau pikiran terhadap materi. Mereka beranggapan bahwa materi itu dalam keadaan gerak atau berubah, namun gerakannya mekanis. Gerakannya berulang-ulang seperti mesin, tanpa perkembangan atau peningkatan secara kualitatif.
 
Menurut para penganut materialisme mekanik,  proses aktivitas akal dan kesadaran manusia melalui otaknya, adalah bentuk dari gerak kerja otot, urat saraf atau kelenjar. Aktivitas dari kesadaran manusia dapat dijelaskan melalui pendekatan sains, dalam hal ini adalah hukum fisika dan kimia. Manusia dalam pandangan materialis mekanik diibaratkan sebuah mesin yang mempunyai mekanisme. Perasaan manusia tergantung dari  otaknya. Sedangkan otak adalah bentuk materi dari pemikiran manusia. Jiwa identik dengan materi, sedangkan materi itu sendiri mempunyai perasaan. La Mettrie dalam karyanya berjudul L'homme Machine, (Manusia Mesin), “Manusia  adalah  mesin yang menjalankan  dirinya  sendiri. Manusia adalah mesin yang berbelit-belit. Otak adalah anak akar manusia.” Secara radikal Marx menolak pereduksian manusia seperti mesin. Materialisme mekanik gagal memahami dan menjelaskan perkembangan dan gagal menginterpretasi problematika sosial.

Materialisme mekanik lahir ketika sains berkembang dengan pesat dan majunya tenaga produksi dengan diketemukannya mesin dan teknologi, serta revolusi industri mulai menjalar di Eropa. Materialisme mekanik adalah senjata moral bagi borjuasi melawan alam pikiran yang kolot dari feodalisme di Eropa. Materialisme mekanik adalah materialisme borjuis.

Pemikiran materialisme mekanik yang diadopsi oleh Feuerbach bisa kita lihat dari artikel yang dipublikasikan pada 1850, berjudul Die Naturwissenschaft und die Revolution (Ilmu Alam dan Revolusi). Dalam artikelnya tersebut Feuerbach mengutip psikolog Belanda yang pandangannya adalah materialisme mekanik, Jacob Moleschott (1822-1893). Bagi Feuerbach, dunia materil yang dapat dirasa dengan panca-indera adalah satu-satunya realitas. Bahkan kesadaran serta pemikiran dari seorang manusia adalah produk dari organ tubuh yang materil, yaitu otak.
 
Ekstrimnya menurut Sukarno, Feuerbach mengafirmasi pandangan Jacob Moleschott, “Tidak ada pikiran, kalau tidak ada fosfor. Pikiran itu adalah hasil dari otak bekerja. Otak itu terdiri sebagian dari fosfor; dus kalau tidak ada fosfor di sini, tidak ada pikiran.” Pikiran itu menurut Feuerbach produk dari otak, yang makanannya terutama sekali fosfor. Jadi menurut Feuerbach, “Kalau tidak ada fosfor, tidak ada pikiran, tidak ada ini, tidak ada itu. Fosfor pokok daripada segala hidup, terutama sekali hidup mental, hidup spirituil, hidup pikiran, hidup yang di luar daripada kepanca-inderaan.”  Tidak ada otak, tidak ada pikiran. Menurut Sukarno, itulah filsafat materialisme pra Marxis, pandangan dari para filsuf materialisme mekanik. Kedangkalan pandangan materialisme mekanik ini, justru juga ditolak oleh Marx, yaitu materialisme yang mengajarkan bahwa perasaan dan ide-ide sebagai hasil proses kimia dalam tubuh, dan menganggap bahwa pikiran merupakan hasil dari otak sebagaimana air kencing hasil dari ginjal.

Fosforlah yang menyebabkan manusia berpikir. Manusia menganggap dengan kemampuan otaknya berkuasa akan alam semesta. Manusia dapat menciptakan suara, sinar yang terang, petir dan segala yang manusia perlukan, membuat ego manusia merasa dirinya seperti Tuhan, bahkan menegasikan eksistensi Tuhan. “Akh, nonsens dengan Tuhan. Fosfor adalah pokok dari segala gedachte (pikiran, Pen.)”, kata Feuerbach. Feuerbach sampai pada satu kesimpulan bahwa, “Segala pikiran –dus juga alam gaib yang bernama Tuhan itu- adalah ‘incretie’, adalah perasaan dari materi.” Tuhan adalah proyeksi diri atau angan-angan dari pikiran manusia. Manusia bukan ciptaan Tuhan tetapi sebaliknya manusialah yang menciptakan Tuhan. Ini yang dinamakan ateisme oleh Sukarno. Tidak heran kalau Materialisme Feuerbach juga dinamakan sebagai Materialisme Vulgar. Sukarno menolak Materialisme Vulgar dari Feuerbach yang ateis.

Seperti halnya empirisme bahwa ide-ide bersumber dari perasaan. Epistemologi pemikiran Feuerbach juga berangkat dari titik tolak pengenalan materi yaitu melalui perasaan. Manusia berpikir dengan bantuan perasaan. Tanpa perasaan atau perantara perasaan, manusia tidak akan mengenal secara tepat alam atau materi. Perasaan dari seorang manusia bersifat subjektif, tetapi dasar yang melandasi kesubjektifan manusia adalah objektifitas itu sendiri. Manusia mengenal objek materi diluar dirinya dengan syaraf perasa. Perasaan sebagai mediasi yang menghubungan dengan benda-benda luar. Menurut Feuerbach, pengenalan ilmiah dimulai dengan pengamatan dan cita-rasa atau panca-indera. Seperti pandangan empiris Inggris, sesuatu itu ada kalau bisa diamati.

Sedangkan akal, menurut Feuerbach berperan untuk menghubungkan pengenalan cita rasa dari pengalaman yang sepotong-sepotong dengan bagian lain dari kenyataan di luar pengalaman. Feuerbach menganalogikan hubungan antara kata-kata dan pikiran. Semua objek atau materi yang ditangkap oleh perasaan hanya dapat dipahami apabila dimediasi dan diolah dengan bantuan akal. Dengan akal, manusia mengenali alam atau materi semakin meluas dan berkembang. Dengan akal pula, manusia tidak menutup kemungkinan bisa menemukan rahasia-rahasia alam. Apa yang belum diketahui oleh manusia pada saat ini, di masa yang akan datang tidak menutup kemungkinan bisa dipecahkan oleh generasi yang akan datang.

Itulah kehebatan akal dengan bantuan perasaan yang ditangkap melalui panca-indera manusia. Simpulan Feuerbach adalah “Bukannya benda berasal dari pikiran, tetapi pikiran berasal dari benda. Benda pun adalah tak lain dan tak bukan apa yang terdapat di luar kepala saya.” Jalan pikiran Feuerbach seperti Holbach yang juga mengemukakan materialisme ateistik. Dalam Système de la nature ou des lois du monde physique et du monde moral, Holbach mengangap, “Materi adalah sesuatu yang selalu dengan cara-cara tertentu menyentuh panca indera kita, sedang sifat-sifat yang kita kenal dari bermacam hal-ikhwal itu adalah hasil dari bermacam impresi atau berbagai macam perubahan yang terjadi di alam pikiran kita terhadap hal-ikhwal itu”. Sedangkan jiwa bagi Holbach adalah identik dengan fungsi-fungsi otak. Materialisme di tangan mereka bersifat mekanistis-otomatis.

Berbeda dengan para materialis pendahulunya, Marx berangkat dari manusia sebagai titik tolak di dalam memahami materi dan realitas obyektif yaitu manusia yang nyata dan aktif bukan manusia yang abstrak seperti dalam kacamata materialisme Feuerbach. Marx juga memahaminya berdasarkan proses kehidupan yang nyata bukan dari dunia ide-ide seperti halnya Hegel. Dalam karyanya Ideologi Jerman, Marx menegaskan bahwa, “Kami tidak berangkat dari apa yang sedang dibayangkan, dipahami manusia sekarang ini, juga bukan dari apa yang telah diceritakan, dipikirkan, atau dibayangkan, dipahami manusia pada zaman dahulu, menuju manusia yang berdaging.” Realitas obyektif yang direfleksikan oleh manusia diolah oleh otaknya adalah bentuk kesadaran manusia yang menjadi nyata dalam perasaan, pikiran dan ekspresi dari keinginannya. Refleksi dari kenyataan obyektif dalam kesadaran bukanlah proses mekanis tetapi manusia memproses materi dari pikiran secara sadar, dipraktekkan dalam proses kenyataan obyektif. Sedangkan realitas obyektif itu sendiri bagi Marx adalah apa yang diproduksi oleh manusia sebagai subyek dengan pengetahuannya tentang obyek. Realitas obyektif terus berproses dan berdialektika menjadi realitas obyektif baru.
 
Materialisme Marx memang bersumber dari Feuerbach, namun Marx hanya mengambil inti pokoknya saja yakni hanya mengambil alih konsep Feuerbach tentang materi sebagai unsur yang terdalam atau dasar. Semua yang berbau idealisme dan metafisik yang masih melekat dalam materialisme Feuerbach dinegasikan secara total oleh Marx dengan mengembangkannya menjadi filsafat ilmiah, metode dialektika dan pandangan materialisme terhadap sejarah. Menurut Marx, kekurangan dari materialisme Feuerbach adalah tidak melihat dinamisme yang senyawa dengan materi dan manusia. Kekurangannya dikarenakan Feuerbach menegasikan dialektika, sehingga realitas bukan dilihat sebagai akibat dari aktivitas sosial tetapi dilihat dari aktivitas manusia abstrak. Materialismenya bersifat statis dan kontemplatif.
 
Filsafat Materialisme mencapai tingkat baru dan tertinggi ketika Marx menggunakan suatu metode baru dalam filsafat. Metode ini disebut metode dialektika, karena dalam melihat dan mempelajari alam menggunakan ajaran “pertentangan dalam hakekat benda-benda itu sendiri”: tidak saja gejala-gejala segala benda itu fana, mengalir hanya dibatasi oleh tanda-tanda tertentu, tetapi demikian juga halnya dengan hakekat benda-benda itu sendiri. Dikatakan materialis, karena pengertian-pengertiannya mencerminkan kenyataan-kenyataan, yang jadi dan yang mati, yang mengalir dan yang bergerak dalam pertentangan.

Segala hal yang berbau idealisme dari dialektika Hegel disingkirkan oleh Marx. Marx mengambil bagian yang rasional dan masuk akal dari Dialektikanya Hegel. Dalam “Kata Susulan Untuk Edisi Kedua” karyanya Kapital Buku I Marx menyatakan pendirian filsafatnya, “Metode dialektika saya, pada dasarnya, tidak hanya berbeda dari metode hegelian, melainkan ia secara langsung berlawanan dengan metode Hegel. Bagi Hegel, proses berpikir, yang bahkan ditransformasinya menjadi suatu subyek independen, dengan nama Ide, adalah pencipta dunia nyata, dan dunia nyata hanya penampilan eksternal dari Ide itu. Bagi saya sebaliknya, yang ideal itu tidak lain dan tidak bukan hanya dunia material yang dicerminkan oleh pikiran manusia, dan diterjemahkan ke dalam bentuk-bentuk pikiran.”

Selanjutnya Marx menegaskan bahwa: “Pemistikan yang diderita dialektika di tangan Hegel, sama sekali tidak menghalanginya menjadi yang paling pertama dalam menyajikan bentuk-bentuk umum fungsinya menyeluruh dan ringkas. Dengan Hegel ia berdiri di atas kepalanya. Kita harus membalikkannya, agar kembali ke atas kakinya, agar dapat menemukan inti rasional yang terbalut oleh kulitnya yang mistikal”. Dalam pandangan Hegel, alam pikiran itu adalah sumber dan dasar dari pada materi di dunia. Alam pikiran, kesadaran maupun perasaan manusia adalah dasar yang melahirkan segala hal yang materil. Marx menyanggahnya bahwa bukan alam pikiran atau perasaan manusia yang melahirkan barang-barang materil. Tetapi justru sebaliknya, barang-barang materil yang melahirkan alam pikiran atau kesadaran manusia.
 
Bagi Marx menurut Sukarno problematisnya ialah seberapa jauh pikiran itu mendorong atau memungkinkan terjadinya transformasi masyarakat. Oleh karena itu, kita harus dapat melihat bahwa bukan kesadaran atau alam pikiran manusia yang menentukan mode produksi, bagaimana manusia mencari makan dan lain sebagainya, akan tetapi sebaliknya mode produksi, ekonomi, dan cara manusia mencari makan dari masyarakat itulah yang menentukan bagaimana corak alam pikiran, atau kesadaran manusia. Ini adalah Marxisme, kata Sukarno.
 
Dialektika Marx berlainan dengan metode metafisika yang memandang alam sebagai sesuatu benda yang berada dalam keadaan berhenti, tetap dan tidak bergerak, dalam keadaan diam dan tidak berubah-ubah. Berbeda dengan dialektika Marx bahwa alam berada dalam keadaan bergerak, berubah-ubah, selalu memperbaharui diri, atau dalam pepatah bangsa Indonesia mengatakan bahwa patah tumbuh hilang berganti. “Marx punya dialektik adalah satu dialektik yang dinamis. Dia melihat gerak, di dalam segala hal di atas”, demikian pemahaman Sukarno tentang dialektika Marx, dialektis yang dinamis.

Kekeliruan mendasar dari materialisme mekanik termasuk materialisme Feuerbach, menurut Marx disebabkan karena mereka memahami segala sesuatu hanya materi belaka. Mereka tidak mengakui peranan subjek yang aktif. Bagi mereka materialitas hanya sebagai objek belaka, bukan sebagai produk dari aktivitas manusia yang bisa diinderawi atau sesuatu yang diciptakan oleh subyek. Artinya menurut Marx, mereka menganggap manusia berperan pasif dalam proses sejarah. Manusia hanya dianggap sebagai objek lingkungan yang pasif. Tidak ada kerelasian diantara materi satu dengan materi yang lain. Objek-objek yang diinderawi oleh subyek dipandang hanya sekedar benda-benda mati dan berdiri sendiri.

Marx tidak memisahkan antara subjek dengan objek. Dengan menghubungkan dirinya sebagai subjek pada dunia objektif—tentunya melalui kekuasaannya, dunia luar menjadi nyata bagi manusia. Mata menjadi mata manusia ketika objeknya menjadi objek yang manusiawi dan sosial yang diciptakan oleh manusia dan ditakdirkan untuknya. Indera-indera menghubungkan manusia dengan benda itu, tetapi benda itu sendiri adalah hubungan manusia yang objektif dengan dirinya dan manusia lain, dan begitu juga sebaliknya. Kebutuhan dan kenikmatan telah kehilangan ciri egoistiknya, dan watak telah kehilangan manfaatnya karena adanya kenyataan bahwa manfaat itu telah menjadi manfaat manusia. Akibatnya menurut Marx, subjek hanya dapat menghubungkan dirinya sendiri secara manusiawi dengan benda ketika benda tersebut dihubungkan dengan manusia secara manusiawi.

Marx menolak prasangka Feuerbach yang menganggap aktivitas manusia yang berangkat dari sudut pandang praktis atau menjadikannya sebagai sudut pandang teorinya semata-mata digerakkan oleh motif-motif egoistik. Justru Marx beranggapan bahwa prasangka Feuerbach tersebut  mengartikan aktivitas kerja manusia semata-mata sebagai aktivitas kerja dengan ide-ide, bukan bekerja dengan hal-hal yang riil, yang inderawi. Pada akhirnya Feuerbach yang mengangkat tinggi-tinggi materialisme, justru jatuh ke dalam lubang idealisme seperti yang Ia kritisi dahulu. Pemikirannya masuk ke dalam kategori materialisme metafisik, yaitu materialisme yang berpandangan bahwa materi itu selalu dalam keadaan diam, tetap, tidak berubah selamanya. Kalaupun materi itu berubah, maka perubahan itu bisa terjadi karena adanya faktor luar atau kekuatan dari luar. Gerak materi itu adalah gerak ekternal. Bagi materialis metafisik, materi itu dalam keadaan terpisah-pisah, tidak mempunyai dan tidak terdapat saling keterhubungan antara yang satu dengan yang lain.
 
Feuerbach memang seorang materialis, tapi kekurangannya adalah tidak merelasikan antara materialisme dengan sejarah. Feuerbach menganggap, “Sejarah sebagai satu barang mati.” Namun apabila Feuerbach merelasikan materialisme dengan sejarah, menurut Marx, pandangan Feuerbach bukanlah seperti pandangan para filsuf materialis. Materialisme di tangan Feuerbach berpisah jalan dengan sejarah. Sukarno menamakan materialisme Feuerbach sebagai materialisme statis.

Bagi Marx, para filsuf dunia baik itu dari kubu filsafat idealisme maupun materialisme seperti Feuerbach adalah para filsuf yang berdiri di atas menara gading. Mereka adalah para filsuf yang hanya berkontemplasi tentang dunia tetapi mereka tidak pernah mau merubah dunia yang dijadikan objek penelitiannya. Pekerjaannya hanya menginterpretasi sejarah tetapi tidak mau merubah sejarah. Hidupnya hanya berpikir, memandang bintang dan bulan, dan membaca buku-buku tua. Sukarno sependapat dengan Marx. Bagi Sukarno, seorang filsuf atau ilmuwan tidak hanya harus pandai berteori tetapi juga harus membumi, masuk ke dalam persoalan masyarakat dan berjuang dengan masyarakat untuk merubah dunia lama menjadi dunia baru yaitu dunia tanpa penindasan dan penghisapan manusia. Disini bisa kita lihat bahwa Marx menolak mengagung-agungkan rasio atau pikiran seperti para rasionalis. Kebenaran obyektif dalam pikiran manusia harus diuji dan dibuktikan melalui praktek. Namun Marx juga menolak pandangan empirisme yang menolak rasio atau pikiran. Bagi Marx, perlu adanya kesatuan antara teori dan praktek.

Pandangan Marx tersebut sangat berpengaruh terhadap pemikiran dan perjuangan Sukarno. Bagi Sukarno, Ilmu atau teori harus diabdikan kepada masyarakat dan menjadi alat perjuangan. Kalau ilmu pengetahuan hanya sekedar untuk ilmu pengetahuan saja, bagi Sukarno adalah bentuk kemelaratan dari filsafat. Pandangan Sukarno tersebut diambil dari kritik Marx terhadap karya Pierre-Joseph Proudhon (1809-1865M) berjudul Filsafat Kemelaratan. Filosofinya Proudhon dijungkir balikkan oleh Marx menjadi Melaratnya Filsafat. Ilmu pengetahuan bagi Sukarno hanya bermanfaat jika dipergunakan untuk mengabdi kepada praktek hidupnya manusia, bangsa dan dunia kemanusiaan. Ilmu dan amal harus “wahyu-mewahyui” satu sama lain.

Sukarno pada satu keyakinan bahwa kemenangan rakyat Indonesia melawan kolonialisme dan imperialisme adalah suatu keharusan sejarah. Keyakinan Sukarno ini harus dibuktikan dengan suatu perjuangan melalui praktek revolusioner untuk mengubah masyarakat terjajah menjadi masyarakat merdeka. Sukarno menganalogikan keyakinannya itu dengan metodologi filsafat Islam tentang tingkatan keyakinan akan kebenaran (yaqin), “Kalau ada asap di belakang kapal ini, aku menyimpulkan ada apinya. Keyakinan ini didasarkan pada pertimbangan akal. Ini yang disebut ilmul yakin. Lalu kalau aku berjalan di belakang kapal ini dan melihat api itu dengan kepalaku sendiri, itu keyakinan yang didasari penglihatan, ainul yakin. Tetapi mungkin penglihatanku itu salah. Kalau aku memasukkan tanganku ke dalam api dan tanganku terbakar, ini adalah keyakinan yang sungguh-sungguh berdasarkan kebenaran yang tak dapat dibantah lagi, inilah hakkul yakin. Dengan hakkul yakin inilah aku menyimpulkan bahwa kita akan merdeka.”

Tingkatan keyakinan kebenaran dalam Islam bersumber pada al Quran surat At Takaatsur 102:5-8, “Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan ‘Ilmul Yaqin, niscaya kamu akan benar-benar melihat neraka jahanam, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘Ainul Yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang dirasakan sendiri/Haqqul Yaqin).”

Tingkatan pertama yaitu ilmul yaqin menggunakan rasio disertai dengan syarat bukti (argumentasi atau dalil). Ilmul yakin adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman persepsi dari objek eksternal disekelilingnya. Dari pengetahuan persepsi ditingkatkan menggunakan rasio menjadi pengetahuan rasional. Dalam tingkatan ilmul yaqin, pengetahuannya masih bersifat tidak langsung, subjektif, sepotong-sepotong dan dangkal. Tingkatan kedua, yaitu ainul yaqin, argumentasi atau dalil harus diolah menjadi penjelasan. Pengetahuan kebenaran dalam tingkat ainul yaqin sudah bersifat langsung. Sedangkan tingkatan keyakinan yang terakhir yaitu hakkul yaqin, penjelasan akan menjadi omong kosong atau tidak bermakna kalau tidak mengalami langsung. Kebenarannya harus dibuktikan dengan praktek. Dengan praktek maka pengetahuan kebenaran akan terang benderang. Pengetahuannya tidak sepotong-sepotong atau dangkal, objektif dan holistik.

Teori tanpa praktek adalah mati dan praktek tanpa teori adalah tanpa arah atau tujuan. Dengan menyitir perkataan Marx, Sukarno dalam Risalah Mencapai Merdeka menegaskan bahwa, “Tanpa teori radikal mustahil ada pergerakan-radikal.” Teori radikal yang menjelaskan tentang “Segala seluk-beluknya nasib mereka, musuh mereka, perjuangan mereka”, menjadi suntikan semangat perjuangan Rakyat yang tertindas oleh sistem yang menindasnya. Teori-teori perjuangan menjadi materi wajib dalam kursus dan pendidikan politik serta didesiminasikan lewat agitasi dan instrumen propaganda seperti buku, majalah, koran, buletin dan instrumen propaganda lainnya. Dengan teori perjuangan menanamkan “satu keyakinan, satu semangat, satu kemauan-maha-hebat mau berjuang habis-habisan menundukkan musuh yang kini nyata-nyata angkara-murkanya, melalui jalan yang kini nyata-nyata terang dan manfaatnya.” Hanya dengan dengan penyuluhan teori perjuangan yang radikal bisa mengeraskan semangat massa, dan bisa menuntun massa kedalam perjuangan yang radikal. Namun menurut Sukarno, pendidikan dan kursus politik yang ditujukan kepada Massa Rakyat diperlukan adanya disiplin teori. Tidak boleh menyimpang ke dalam bentuk ideologi reformis dan anarkis. [***]

Darwin Iskandar
Alumnus Fakultas Ekonomi Beijing Jiaotong University

You may also like