Quran dan Perjanjian Damai sebagai Prioritas

GENIAL. Tulisan ini merupakan bagian keempat dari tulisan berjudul Ajaran Perdamaian dalam Quran. Tulisan kedua berjudul Sikap Positif terhadap Keragaman. Tulisan ketiga berjudul Respon Damai untuk Perbuatan Kasar dan Kekerasan. Tulisan keempat berjudul Ketentuan dan Batasan Perang dalam Quran

***

Sekalipun sering tidak menjadi perhatian, Quran sangatlah jelas dalam mengutamakan jalan damai daripada jalan perang. Surah al-Nisa‟ ayat 89-90 menyebutkan:

“… Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka awliya’ (pelindung/teman setia/panutan) hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu temui, dan janganlah kamu ambil seorang pun di antara mereka menjadi pelindung atau menjadi penolong, kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya. Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu, maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka.”

Pesan tentang lebih utamanya perdamaian dan perjanjian damai ini ditegaskan kembali di ayat 94 surah yang sama:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan „salam‟ kepadamu: „Kamu bukan seorang mukmin‟ (lalu kamu membunuhnya) dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Pesan serupa juga disampaikan di surah al-Anfal ayat 61, satu ayat setelah ayat yang sering disalahgunakan untuk melegitimasi tindakan terorisme (irhabiyyah):

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar Maha Mengetahui.”

Konflik tidaklah sesuai dengan ajaran tentang persaudaraan manusia. Saat ada konflik di antara orang-orang yang bersaudara, ada perintah untuk mendamaikan mereka (ishlah). Tentang persaudaraan di antara orang-orang mukmin, surah al-Hujurat ayat 9-10 menjelaskan:

“Dan kalau ada dua golongan dari orang-orang mukmin itu berperang hendaklah kamu damaikan keduanya. Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Orang-orang mukmin itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu, damaikanlah (perbaikilah hubungan) kedua saudaramu itu, dan takwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.”

Ishlah adalah penyelesaian konflik untuk menghilangkan dan menghentikan segala bentuk permusuhan dan pertikaian. Dalam fikih, istilah ini berkembang maknanya menjadi suatu perjanjian yang ditetapkan untuk menghilangkan persengketaan di antara individu ataupun kelompok. Di ayat tersebut, ishlah dihubungkan dengan nilai persaudaraan, sehingga dikatakan fa ashlihu bayna akhawaykum (ishlah-kan atau selesaikan konflik kedua saudaramu). Dengan demikian, konsep ishlah berkenaan dengan upaya mengeratkan kembali hubungan yang retak.

Dalam konteks kehidupan keluarga, yaitu hubungan antara suami dan istri, ada pula perintah untuk ishlah, yakni menyambung keretakan hubungan dan mendamaikan konflik di dalam keluarga. Lihat misalnya surah al-Nisa‟ ayat 35 dan 128. Surah al-Nisa‟ ayat 128 menyebutkan:

“Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian (ishlah) yang sebenar-benarnya, dan perdamaian (shulh) itu lebih baik (bagi mereka), walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan istrimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Upaya islah atau rekonsiliasi dengan demikian jelas merupakan perintah agama. Bahkan, islah disebut dalam Quran sebagai salah satu prasyarat diterimanya tobat dari kejahatan yang tak disengaja terhadap orang lain (Q 6:54) ataupun kejahatan yang disengaja terhadap orang lain (Q 5:39; Q 4:16), dan bila diinisiasi oleh pihak korban kejahatan, ada pahalanya dari Allah (Q 42:40). [***]

Izza Rohman

Ahli Tafsir Universitas Prof. Hamka

 

 

 

Avatar
Tim Redaksihttps://www.genial.id/
Tim Redaksi Genial—Bacaan Ideal Generasi Milenial

Baca Juga

Populer

Lima Bersaudara Dilantik Jadi Anggota DPRD

GENIAL. Acara pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan anggota DPRD Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan, periode 2019-2024, menjadi saksi bisu keberhasilan lima bersaudara....

Konsep GBHN yang Diusulkan PDIP Berbeda dengan Zaman Orba

GENIAL. Wakil Ketua MPR yang juga Ketua DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah menjelaskan, konsep Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang diusulkan PDI Perjuangan berbeda...

Abdul Rafiq Potensial untuk Ketua DPRD Sumbawa

GENIAL. DPC PDI Perjuangan Sumbawa setidaknya menyiapkan tiga nama yang dicalonkan sebagai Ketua DPRD. Ketiga nama tersebut adalah Abdul Rafiq, Gita Liesbano, dan Eddy...

PDIP Unjuk Gigi Tim Penanggulangan Bencana

GENIAL. PDI Perjuangan unjuk gigi penanganan cepat penanggulangan bencana yang terjadi di Tanah Air saat delegasi Rusia menyambangi Kantor DPP PDI Perjuangan di Jakarta,...

Anak Kartosuwiryo Berikrar Setia Pada NKRI di Hadapan Wiranto

GENIAL. Sarjono Kartosuwiryo, anak dari Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo, tokoh utama Gerakan DI/TII yang hendak mendirikan Negara Islam Indonesia, membaca ikrar setia terhadap Pancasila, UUD...

Manipol USDEK, GBHN di Era Bung Karno

GENIAL. Wacana untuk menghidupkan kembali Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) semakin mengemuka saat ini. Adalah PDI Perjuangan yang paling gencar mengusung wacana tersebut. Tujuannya,...

Quran dan Perjanjian Damai sebagai Prioritas

GENIAL. Tulisan ini merupakan bagian keempat dari tulisan berjudul Ajaran Perdamaian dalam Quran. Tulisan kedua berjudul Sikap Positif terhadap Keragaman. Tulisan ketiga berjudul Respon Damai untuk Perbuatan Kasar dan Kekerasan. Tulisan keempat berjudul Ketentuan dan Batasan Perang dalam Quran

***

Sekalipun sering tidak menjadi perhatian, Quran sangatlah jelas dalam mengutamakan jalan damai daripada jalan perang. Surah al-Nisa‟ ayat 89-90 menyebutkan:

“… Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka awliya’ (pelindung/teman setia/panutan) hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu temui, dan janganlah kamu ambil seorang pun di antara mereka menjadi pelindung atau menjadi penolong, kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya. Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu, maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka.”

Pesan tentang lebih utamanya perdamaian dan perjanjian damai ini ditegaskan kembali di ayat 94 surah yang sama:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan „salam‟ kepadamu: „Kamu bukan seorang mukmin‟ (lalu kamu membunuhnya) dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Pesan serupa juga disampaikan di surah al-Anfal ayat 61, satu ayat setelah ayat yang sering disalahgunakan untuk melegitimasi tindakan terorisme (irhabiyyah):

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar Maha Mengetahui.”

Konflik tidaklah sesuai dengan ajaran tentang persaudaraan manusia. Saat ada konflik di antara orang-orang yang bersaudara, ada perintah untuk mendamaikan mereka (ishlah). Tentang persaudaraan di antara orang-orang mukmin, surah al-Hujurat ayat 9-10 menjelaskan:

“Dan kalau ada dua golongan dari orang-orang mukmin itu berperang hendaklah kamu damaikan keduanya. Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Orang-orang mukmin itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu, damaikanlah (perbaikilah hubungan) kedua saudaramu itu, dan takwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.”

Ishlah adalah penyelesaian konflik untuk menghilangkan dan menghentikan segala bentuk permusuhan dan pertikaian. Dalam fikih, istilah ini berkembang maknanya menjadi suatu perjanjian yang ditetapkan untuk menghilangkan persengketaan di antara individu ataupun kelompok. Di ayat tersebut, ishlah dihubungkan dengan nilai persaudaraan, sehingga dikatakan fa ashlihu bayna akhawaykum (ishlah-kan atau selesaikan konflik kedua saudaramu). Dengan demikian, konsep ishlah berkenaan dengan upaya mengeratkan kembali hubungan yang retak.

Dalam konteks kehidupan keluarga, yaitu hubungan antara suami dan istri, ada pula perintah untuk ishlah, yakni menyambung keretakan hubungan dan mendamaikan konflik di dalam keluarga. Lihat misalnya surah al-Nisa‟ ayat 35 dan 128. Surah al-Nisa‟ ayat 128 menyebutkan:

“Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian (ishlah) yang sebenar-benarnya, dan perdamaian (shulh) itu lebih baik (bagi mereka), walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan istrimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Upaya islah atau rekonsiliasi dengan demikian jelas merupakan perintah agama. Bahkan, islah disebut dalam Quran sebagai salah satu prasyarat diterimanya tobat dari kejahatan yang tak disengaja terhadap orang lain (Q 6:54) ataupun kejahatan yang disengaja terhadap orang lain (Q 5:39; Q 4:16), dan bila diinisiasi oleh pihak korban kejahatan, ada pahalanya dari Allah (Q 42:40). [***]

Izza Rohman

Ahli Tafsir Universitas Prof. Hamka

 

 

 

Avatar
Tim Redaksihttps://www.genial.id/
Tim Redaksi Genial—Bacaan Ideal Generasi Milenial

Baca Juga

Populer

Lima Bersaudara Dilantik Jadi Anggota DPRD

GENIAL. Acara pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan anggota DPRD Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan, periode 2019-2024, menjadi saksi bisu keberhasilan lima bersaudara....

Lord Didi dan Romantisme Orang Jawa

GENIAL.  Tentu banyak unsur sehingga Didi Kempot dijuluki sebagai Lord Didi dan lebih dari itu “The Godfather of Broken Heart”. Yang jelas, dia diuntungkan...

Konsep GBHN yang Diusulkan PDIP Berbeda dengan Zaman Orba

GENIAL. Wakil Ketua MPR yang juga Ketua DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah menjelaskan, konsep Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang diusulkan PDI Perjuangan berbeda...

Djarot Sindir Anies, Jomblo kok Betah!

GENIAL. Mantan Gubernur DKI Jakarta Djarot Syaiful Hidayat mempertanyakan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang masih betah ‘menjomblo’ memimpin Ibu Kota. Djarot yang pernah...

Relawan Eksponen HMI Pro Jokowi Minta Jaksa Agung Jangan Partisan

GENIAL. Wacana perebutan posisi Jaksa agung jadi bahasan politisi partai koalisi Jokowi. Tentu saja, wacana "perebutan" posisi Jaksa agung tidak elok. Pasalnya sebagai bagian...

Abdul Rafiq Potensial untuk Ketua DPRD Sumbawa

GENIAL. DPC PDI Perjuangan Sumbawa setidaknya menyiapkan tiga nama yang dicalonkan sebagai Ketua DPRD. Ketiga nama tersebut adalah Abdul Rafiq, Gita Liesbano, dan Eddy...
Genial—Bacaan Ideal Generasi Milenial