Pesan Qur’anic Environmentalism Said Nursi

GENIAL. Ada sebuah kenikmatan dan kebahagiaan yang dalam terpatri dalam hati, saat saya mengikuti i’tikaf di kediaman Said Nursi yang terletak di Kota Isparta, Turki, empat tahun yang lalu, tepatnya pada bulan Ramadan 1436 H atau Bulan Juni tahun 2015. Murid-murid Said Nursi atau yang sering disebut Thullabun Nūr menamai i’tikaf dengan istilah ihyā yang berarti menghidupkan 10 malam terakhir Bulan Ramadhan. Kegiatan ini saya ikuti, sebagai bagian penting dari penelitian dan penulisan tesis yang saya rampungkan di Universitas Paramadina, Jakarta, setelah sebelumnya saya mengikuti konferensi internasional di Kota Istanbul.

Selama mengikuti ihyā, seluruh Thullabun Nūr yang datang dari berbagai negara, tampak khusyu membaca dan mempelajari al-Qur’an, membaca doa Imam Syafii, dan juga membaca Risālah al-Nūr. Kitab yang disebutkan terakhir adalah karya Said Nursi yang saat ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia, jumlahnya lebih dari 30 bahasa.

Secara garis besar,  Risalah al-Nur terdiri dari enam jilid, yaitu:

Pertama, al-Kalimāt (The Words) yang berisi tentang tauhid, aspek-aspek keagungan al-Qur’an, aspek-aspek ibadah ritual, penjelasan Isra’ dan Mi’raj, wacana keimanan dan kehidupan sesudah mati, dan lain-lain.

Keduaal-Maktūbāt (The Letters) yang menguraikan tentang tingkat kehidupan, rahmat dalam kematian, Asma-asma Allah, mukjizat Rasul, makna mimpi, konsep waḥdatul wujūd, penciptaan setan, rahmat allah dalam kematian dan kemalangan, dan lain sebagainya.

Ketiga, al-Lama’āt (The Flashes) yang menjabarkan mengenai konsep sabar, konsep sunnah, wadatul wujūd, ma’rifatullāh, ikhlās, risālah al-ṭabî’ah, ḥijāb, marḍā, syuyūkh, dan perbincangan beberapa Asmā al-Ḥusnā.

Keempat, Syu’āt (The Rays) yang mengeksplorasi tentang tauhid, keimanan, ketakwaan, hari kebangkitan, eksistensi manusia dan alam, serta berbagai topik lainnya.

Kelima, al-Malāiq yang melukiskan keyakinan, kepercayaan pada hari kebangkitan dan hidup sesudah mati, perbincangan tentang malaikat, keesaan Tuhan, ringkasan surat Al-Fatihah, pilar-pilar Islam dan menjelaskan pula kenabian Muhammad Saw.

Keenam, Isyāratul ‘I’jāz Fī Maān al-Ījāz, sebuah Risalah yang berisi tafsir atas surat Al-Fātihah dan surat Al-Baqarah sampai ayat 33.

Seluruh risalah tersebut dipaparkan oleh Nursi secara filosofis dan sangat kaya ilustrasi dengan dibungkus  gaya bahasa yang ringan, sehingga mudah dicerna oleh masyarakat luas tanpa kehilangan bobot maknanya. Selain keenam jilid yang disebutkan di atas, ada karya lain yang perlu disebutkan disini yaitu buku al-Manāwī al-‘Arabi al-Nūrī yang merupakan cikal bakal dari Risālah al-Nūr. Bahkan sebagian besar benih pemikiran yang terdapat dalam Risālah al-Nūr sapat dibaca dalam buku ini.

Sukran Vahide, di dalam buku Biografi Intelektual Badi’uzzaman Said Nursi mencatat, Said Nursi lahir dari garis keluarga terhormat. Ayahnya memiliki garis silsilah sampai kepada imam Hasan dan ibunya memiliki garis silsilah sampai kepada Imam Husen.  Ia dilahirkan menjelang fajar terbit pada tahun 1876 M di desa Nurs, sebuah sebuah desa yang melebar di sepanjang kaki lereng rangkaian pegunungan Taurus yang menghadap ke selatan di sebelah selatan Danau Van Provinsi Bitlis Anatolia Timur.

Tempat kelahiran Nursi dikenal sebagai tempat yang sangat indah karena dikelilingi gunung-gunung yang menjulang tinggi dengan salju abadi yang selalu menutupi puncak-puncaknya. Desa ini berpayung langit biru dengan udara yang bersih dan terbebas dari polusi.

Selain itu, tempat ini luar biasa kaya akan sayur-mayur dan beragam pohon hijau. Taman-taman dan pohon buahnya menawarkan kontras yang menyenangkan dengan lembah gersang yang menukik lurus dari atas. Kawasan inilah yang membentuk ecological mentality Nursi sejak dini. Dalam perjalanan hidup dan perjalanan pemikirannya, Nursi menuliskan gagasan ekologis yang berbasis pada bangunan pandangan dunia Islam.

Jauh sebelum dunia Barat mengenal isu-isu ekologis melalui buku Silent Spring karya Rachel Carson, yang terbit pada 27 September tahun 1962, dengan ketajaman visinya, Said Nursi telah menuliskan isu-isu ekologis yang sangat penting, dengan bercorak filosofis sekaligus sufistik. Tak hanya itu, Nursi melihat perang dunia I yang terjadi pada tanggal 28 Juli 1914 sampai dengan 11 November 1918 memiliki dampak buruk yang sangat signifikan terhadap kemanusiaan dan lingkungan hidup pada masa itu.

Perang ini memberi konsekuensi kemanusiaan yang sangat mendalam. Dari 60 juta tentara Eropa yang dimobilisasi mulai tahun 1914 sampai 1918, 8 juta di antaranya gugur, 7 juta cacat permanen, dan 15 juta luka parah. Jerman kehilangan 15,1% populasi pria aktifnya, Austria-Hongaria 17,1%, dan Prancis 10,5%. Sekitar 750.000 warga sipil Jerman tewas akibat kelaparan yang disebabkan oleh blokade Inggris selama perang. Pada akhir perang, kelaparan telah menewaskan sekitar 100.000 orang di Lebanon. Perkiraan terbaik untuk jumlah korban tewas akibat kelaparan Rusia 1921 adalah 5 juta sampai 10 juta orang. Pada tahun 1922, terdapat 4,5 juta sampai 7 juta anak tanpa rumah di Rusia akibat satu dasawarsa kehancuran sejak Perang Dunia I.

Selain sebagai bencana kemanusiaan, perang ini telah menjadi bencana ekologis atau bencana lingkungan hidup yang sangat parah. Dalam Perang Dunia I, dikenal istilah “bombturbation”, sebuah istilah untuk menggambarkan pencampuran tanah dengan bahan peledak. Penanaman bahan peledak sampai jauh di bawah permukaan tanah. Saat bom meledak, kesuburan tanah serta cadangan air tanah menjadi hancur dan tanah mengalami kesulitan untuk pemulihan alaminya. Dampaknya, banyak kawasan pertanian produktif dan kawasan hutan menjadi kawasan mati. Kerusakan tanah dan hutan diperparah karena dijadikan jaringan parit untuk perang. Setidaknya, 23.225,76 hektar kawasan hutan mengalami kerusakan yang sangat parah. Dengan demikian, perang terah meruabah bentang alam secara drastis.

Dampak merusak lainnya terhadap lingkungan hidup adalah penggunaan gas beracun. Gas-gas yang berbahaya tersebar di seluruh parit untuk membunuh tentara. Contoh gas yang diterapkan selama Perang Dunia I adalah gas air mata (aerosol yang menyebabkan iritasi mata), gas mustard (gas beracun yang menyebabkan kulit melepuh dan perdarahan). Gas-gas tersebut menyebabkan total 100.000 kematian, Medan perang tercemar, dan sebagian besar gas menguap ke atmosfer.

Melalui penghayatan yang sangat mendalam terhadap ajaran Islam sekaligus pengamatan dan pengalamannya terlibat dalam Perang Dunia I, Said Nursi menuliskan gagasannya tentang dengan lingkungan hidup yang berpijak pada pandangan dunia al-Qur’an atau yang disebut Qur’anic Environmentalism. Pandangan ini memiliki siginifikansi serius di tengah krisis lingkungan hidup global dan juga krisis lingkungan hidup yang terjadi di Indonesia, sebagaimana yang kita saksikan dan rasakan saat ini.

Said Nursi memulai pandangannya tentang Qur’anic Environmentalism yang dimulai dari definisinya mengenai al-Qur’an. Umumnya para ulama mendefinisikan al-Qur’an dengan pandangan yang sangat umum, yaitu firman Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw, melalui perantara Malaikat Jibril.

Berbeda dengan pandangan itu, Nursi menulis definisi al-Qur’an sebagai berikut:

“Al-Qur’an adalah penjelas azali buku alam semesta sekaligus penafsir abadi terhadap lisan yang membaca ayat-ayat penciptaan. Ia adalah penjelasan terhadap buku alam semesta baik yang zahir maupun yang batin. Al-Qur’an adalah pengungkap perbendaharaan Nama-nama Ilahi yang tersembunyi baik yang berada di langit maupun di bumi. Ia adalah kunci penyingkap kebenaran yang tersembunyi di belakang setiap fenomena. Al-Qur’an adalah lisan dunia batin bagi dunia zahir. Ia adalah perbendaharaan nikmat abadi dari Tuhan Yang Maha Penyayang sekaligus tanda azali dari Dzat Yang Maha Suci. Al-Qur’an adalah matahari dan fondasi spiritual Islam. Ia adalah peta suci untuk kehidupan dunia dan akhirat….(The Words, hal. 376-378)”

Di tempat lain, ia menulis: “Buku alam semesta menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an kepada anda. Alam semesta membawa al-Qur’an lebih dekat kepada pemahaman anda dengan menunjukkan banyak hal, diantaranya: pergantian siang dan malam, perubahan warna daun, pergantian musim dan waktu, serta perbedaan bahasa.” (al-Matsnawi, hal 447)

Jika kita memperhatikan al-Qur’an dengan seksama, maka kita akan menyadari bahwa al-Qur’an sangat memperhatikan dan mengingatkan pentingnya keberadaan hewan bagi manusia. Dalam beberapa surat al-Qur’an sejumlah nama hewan disebutkan dengan jelas, yaitu: al-Baqarah (sapi), al-Nal (lebah), al-Ankabūt (laba-laba), dan al-Naml (semut).  Selain itu, al-Qur’an juga menyebutkan sejumlah nama hewan, diantaranya: unta, kambing/domba, anjing, sapi, kuda, keledai, semut, lebah, babi, ular, nyamuk, serangga, laba-laba, dan juga burung.   Secara eksplisit al-Qur’an memberikan sebutan yang menarik kepada hewan.

Dalam salah satu ayat, hewan dinamai umam (jama’ dari kata ummah). Penggunaan kata umam untuk menyebut hewan menjadikannya konsep yang sangat signifikan dan penting dalam pandangan Islam. Di dalam al-Qur’an dinyatakan: “Dan tiadalah binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat juga seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam al-Kitāb, kemudian hanya kepada Tuhanlah mereka akan dihimpun.” (Q.S, al-An’ām [6]: 38)

Belajar dari al-Qur’an, Said Nursi menekankan pentingnya semua spesies hewan. Berikut hewan-hewan yang disebutkan dalam Risālah al-Nūr, yaitu: lebah, kalajengking, singa, kuda, burung elang, ikan, serangga, burung Bulbul, kerbau, belalang, unta, burung unta, gajah, badak, burung merpati, ayam, burung Hudhud, ulat sutera, harimau, semut, domba, kambing, kucing, kadal, anjing, burung Kuddus, serigala, burung-burung, kera, sapi, laba-laba, burung beo, kutu, burung pipit, nyamuk, burung jalak, burung merak, rubah, kelelawar, ulang, dan juga cacing.

Bahkan Nursi menyebut hewan sebagai petugas Ilahi, bekerja sebagai manifestasi keberadaan Allah dan sebagai pengingat keagunganNya. Ia menulis: “Alam semesta ini adalah sebuah buku yang penuh dengan makna yang berasal dari Zat Yang Maha Tunggal, Maha Kekal. Semua makhluk yang berada di bumi sampai dengan langit merupakan kumpulan mu’jizat sekaligus surat resmi dari Allah. Semua makhluk di alam ini adalah tentara. Semua makhluk dari mulai mikroba, semut, burung elang, badak sampai dengan planet-planet adalah petugas Ilahi yang rajin.” (The Rays, hal. 20)

Dalam kehidupan praksisnya, Said Nursi memberikan teladan yang sangat baik dengan tidak membunuh hewan semacam semut. Bahkan ia memberi makan semut-semut yang ia temui. Ia enggan menempati sebuah kamar karena khawatir akan mengganggu sekelompok semut yang ada di kamar tersebut. Richard Foltz menyebut Said Nursi sebagai animal lover karenya kecintaannya pada binatang. Lebih jauh, Davud Ayduz menyebutnya sebagai great environmentalist.

Selain menyebut nama hewan. Al-Qur’an juga menyebut entitas pohon. Menurut hitungan Muhammad Fuad Abdul Baqi, di dalam kitab al-Mu’jam al-Mufahras Kata pohon diungkapkan dengan berbagai derivasinya disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 27 kali. sedangkan kata-kata taman atau kebun dengan berbagai derivasinya disebut sebanyak 146 kali. Walaupun al-Qur’an tidak menyebutkan perintah menanam pohon secara eksplisit, namun pohon sering disebut-sebut dalam al-Qur’an karena pentingnya keberadaan mereka bagi kehidupan manusia. Sejumlah ayat menyebutkan kata-kata pohon, buah-buahan, kebun-kebun atau taman-taman secara eksplisit. Selain disebutkan untuk menunjukkan entitas nabati, kata pohon –dengan berbagai1 derivasinya- digunakan dalam al-Qur’an untuk menjelaskan sejumlah perumpamaan. Tujuan utama dari hal ini adalah untuk menjaga agar konsep tentang pohon agar senantiasa hidup dalam hati dan pikiran manusia.

Sebagai seorang yang memahami betul pentingnya pepohonan dan tumbuh-tumbuhan hijau, Said Nursi memberikan perhatian yang sangat besar terhadap hutan dan pedesaan serta menghabiskan banyak waktunya sebanyak mungkin di hutan, desa, dan luar ruangan. Dengan sangat jelas, Nursi mengungkapkan bahwa pohon tidak diciptakan dengan sia-sia, melainkan mereka dicipta untuk memuji Allah swt. Ia menyatakan, sama seperti makhluk lainnya, pepohonan memuji dan beribadah kepada Allah dengan bahasa mereka sendiri.

Ada sejumlah nama pohon, buah-buahan dan tumbuhan hijau yang disebutkan dalam Risālah al-Nūr, diantaranya: pohon kenari, pohon pinus,  pohon kelapa, pohon delima, pohon cemara, pohon labu, pohon apel, pohon zaitun, pohon almon, pohon juniper, pohon plane, pohon elm, pohon mustard, pohon buttercup, pohon tuba, pohon aprikot, pohon cedar, buah kelapa, buah terong, buah apel, buah delima, buah labu, buah anggur, dan juga bunga rose.

Secara eksplisit Nursi mengaitkan keberadaan pohon sebagai entitas nabati dengan penghayatan spiritualnya sebagai berikut: “Lihatlah pohon dengan seksama! Lihatlah dia yang memiliki bibir yang halus, daun yang tersusun rapi, bunga-bunga yang yang mekar lebar dengan ukiran yang indah, dan buah-buahan yang membesar. Semuanya tumbuh pada musim semi dengan penuh hikmah serta kasih sayang Tuhan Sang Pencipta. Daun yang rapi dan bunga yang mekar dengan indah itu menari-nari saat angin bertiup menerpa pohon laksana anak-anak yang masih kecil. Kita menyaksikan keseimbangan dalam tatanan alam yang penuh kebijaksanaan yang diekspresikan melalui lisan keindahan hijau daun. Melihat hal tersebut, bunga-bunga tersenyum penuh suka cita terhadap nikmat yang diterima. Dan dengan bahasanya, buah-buahan tertawa…” (The Words, hal. 300)

Said Nursi sesungguhnya ingin mengungkapkan bahwa terdapat hubungan yang tidak bisa dipisahkan antara al-Qur’an atau recited book (buku yang dibaca) dengan alam semesta atau observed book (buku yang diobservasi). Baginya, al-Qur’an mendorong manusia untuk merenungkan tanda-tanda keberadaan Tuhan di alam raya yang tak terhitung jumlahnya.

Pada titik inilah, Said Nursi telah membangun satu pandangan yang sangat padu antara al-Qur’an sebagai ayat-ayat qauliyyah dengan alam semesta sebagai ayat-ayat kauniyyah. Baginya, dengan mempelajari al-Qur’an, sesorang seharusnya menjadi lebih paham dengan persoalan-persoalan alam dan lingkungan hidup sebagai rumah bersama manusia. Dengan mempelajari al-Qur’an, kita seharusnya menyadari bahwa alam pada prinsipnya memiliki nilai sakral, sehingga terlarang untuk dieksploitasi dan dirusak.

Pesan-pesan ekologis Said Nursi sangat relevan dengan kondisi ummat Islam, khususnya di Indonesia. Tak sedikit ummat Islam yang mempelajari Islam, khsususnya al-Qur’an, tapi terjebak dalam kubangan literalistik, kehilangan spirit untuk melakukan melakukan perubahan transformatif dalam merespon krisis Lingkungann hidup yang terjadi. Akhirnya, al-Qur’an hanya menjadi dokumen yang dibaca dan dihafal berulang-ulang. Padahal, keadilan sosio-ekologis adalah salah satu pesan utama di dalam al-Qur’an.

Umat Islam harus berkepentingan dengan isu krisis lingkungan hidup karena sejumlah alasan, yaitu: pertama, secara teologis, umat Islam diperintahkan untuk memakmurkan dan menjaga keseimbangan planet bumi. Bahkan al-Qur’an, dalam banyak ayat, dengan sangat tegas melarang berbuat kerusakan di atas muka bumi; kedua, secara historis, Nabi Muhammad dan juga para sahabat telah memberikan teladan mulia dalam menjaga alam, salah satunya dengan menetapkan kawasan Hima untuk daerah konservasi air; ketiga, secara ekologis, jika lingkungan rusak maka akan berdampak terhadap berbagai ibadah ritual dalam Islam. Contohnya, krisis air akibat rusaknya hutan akan berdampak terhadap kualitas ibadah shalat. Lebih jauh, umat Islam berkewajiban untuk mewujudkan peradaban ekologis yang mampu menjadi rumah besar bagi seluruh masyarakat dunia; keempat, secara filosofis, krisis ekologis yang mendorong krisis iklim adalah manifetsasi dari krisis paradigma (fikrah) atau krisis spiritualitas yang melanda umat manusia saat ini, dimana alam dilihat secara instrumental dengan kalkulasi untung dan rugi semata. Padahal, al-Qur’an sebagaimana dinyatakan oleh Said Nursi, mengajarkan bahwa alam memiliki nilai spiritual pada dirinya karena bertasbih kepada Allah Swt.

Demikianlah pandangan ekologis Said Nursi, seorang ulama yang hidup yang lahir di penghujung abad ke-19 dan awal abad ke-20 Masehi. Usia hidupnya 84 tahun. Ia lahir Pada 1876 dan meninggal pada tahun 1960. Meski telah meninggal lebih dari 100 tahun yang lalu, namun pesan-pesan ekologisnya terus hidup dan tetap abadi.

Dua tahun setelah wafatnya Said Nursi, Barat baru bangun dengan ditulisnya buku Silent Spring oleh Rachel Carson. Delapan tahun setelah itu, Seyyed Hossein Nasr menulis buku Man and Nature. Selanjutnya, dua belas tahun setelah kepergiannya, tepatnya pada tahun 1972, dunia internasional menyelenggarakan konferensi internasional tentang Lingkungan Hidup di Stockholm, Swedia, untuk menguraikan karakter global dari masalah lingkungan. Konferensi ini mengakui bahwa perlindungan lingkungan harus menjadi unsur pokok dalam perkembangan sosial dan ekonomi.

Tiga dekade kemudian, kalangan agamawan pada level internasional pernah menggelar konsultasi internasional sekaligus konsultasi antar-iman di Genval, Belgia pada Mei 1994 guna menyambut konferensi internasional PBB mengenai Kependudukan dan Pembangunan yang dihelat di Kairo, Mesir  pada 5-13 September 1994. Salah satu poin penting yang dihasilkan dari konsultasi internasional itu menyatakan bahwa agama-agama yang berpusat pada Tuhan berbicara mengenai lingkungan alam sebagai karya sang pencipta dan oleh karena itu suci. Demikian pula dengan dengan keyakinan non-teistik yang menegaskan kesucian lingkungan dan alam. Selain itu, para agamawan menekankan bahwa kesejahteraan manusia di seluruh dunia bergantung pada kualitas udara, air, dan juga tanah.

Bahkan pada sekitar tahun 2000-an, dilaksanakan satu seri sepuluh konferensi tentang agama dan ekologi di Pusat Studi Agama-Agama Dunia di Universitas Harvard. Masing-masing konferensi ini meninjau sumber daya intelektual dan simbolis pada tradisi religius tertentu sehubungan dengan pandangan tradisi itu pada sifat, praktik ritual, dan bangunan ritual dalam kaitannya dengan alam. Konferensi ini dipusatkan pada hampir seluruh tradisi agama besar dunia, diantaranya: Islam, Yudaisme, Kristen, Konfusianisme, Budhisme, Hiduisme, Jainisme, Daoisme, Shintoisme, dan tradisi-tradisi lokal. Sepuluh konferensi ini berhasil merumuskan suatu etika lingkungan yang sistematis.

Sebagaimana telah dibuktikan oleh Said Nursi, krisis lingkungan hidup adalah persoalan bersama. Krisis ini akan tetap menjadi ancaman umat manusia ke depan, selama manusia tidak kembali kepada akar spiritualitasnya. [***]

***

Parid Ridwanuddin

Dosen pada program studi Falsafah dan Agama Universitas Paramadina serta aktivis lingkungan pada organisasi masyarakat sipil, Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA).

Avatar
Tim Redaksihttps://www.genial.id/
Tim Redaksi Genial—Bacaan Ideal Generasi Milenial

Baca Juga

Populer

Negara dan Kedewasaan Berdemokrasi

Genial—Berabad-abad lamanya, tatanan sosial selalu menjadi objek menarik untuk diteliti. Mengenal nilai, budaya dan sistem yang ada didalamnya menjadi hal yang absolut sebelum kita...

Soekarno dan Islam Berkemajuan

Islam Berkemajuan menjadi tema sentral Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar pada 2015. Di Muktamar ini pula, Muhammadiyah meneguhkan komitmen ke-Indonesiaan dengan mengkonfirmasi Pancasila melalui...

Quran dan Perjanjian Damai sebagai Prioritas

GENIAL. Tulisan ini merupakan bagian keempat dari tulisan berjudul Ajaran Perdamaian dalam Quran. Tulisan kedua berjudul Sikap Positif terhadap Keragaman. Tulisan ketiga berjudul Respon...

Mitos Angry Boy di Antara Patung Erotis Di Oslo

Genial—Ada mitos warga Oslo, Norwegia: apabila datang ke Norwegia, dan ingin kembali ke negara ini untuk kali kedua dan seterusnya, maka harus menemui dan...

Dua Peristiwa Besar di Bulan Ramadan

Genial—Ada banyak peristiwa bersejarah di bulan Ramadhan. Di antaranya ada dua peristiwa besar yang perlu diketahui umat muslim. Pertama, Peristiwa Perang Badar. Pada hari ke-17 Ramadhan...

Baitul Muslimin Indonesia Ajak Umat Islam Maknai Isra Mikraj Demi Indonesia Maju

JAKARTA - Pengurus Pusat Baitul Muslimin Indonesia (PP Bamusi) organisasi sayap Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, mengajak umat Islam di Indonesia untuk berani tampil dan...

Pesan Qur’anic Environmentalism Said Nursi

GENIAL. Ada sebuah kenikmatan dan kebahagiaan yang dalam terpatri dalam hati, saat saya mengikuti i’tikaf di kediaman Said Nursi yang terletak di Kota Isparta, Turki, empat tahun yang lalu, tepatnya pada bulan Ramadan 1436 H atau Bulan Juni tahun 2015. Murid-murid Said Nursi atau yang sering disebut Thullabun Nūr menamai i’tikaf dengan istilah ihyā yang berarti menghidupkan 10 malam terakhir Bulan Ramadhan. Kegiatan ini saya ikuti, sebagai bagian penting dari penelitian dan penulisan tesis yang saya rampungkan di Universitas Paramadina, Jakarta, setelah sebelumnya saya mengikuti konferensi internasional di Kota Istanbul.

Selama mengikuti ihyā, seluruh Thullabun Nūr yang datang dari berbagai negara, tampak khusyu membaca dan mempelajari al-Qur’an, membaca doa Imam Syafii, dan juga membaca Risālah al-Nūr. Kitab yang disebutkan terakhir adalah karya Said Nursi yang saat ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia, jumlahnya lebih dari 30 bahasa.

Secara garis besar,  Risalah al-Nur terdiri dari enam jilid, yaitu:

Pertama, al-Kalimāt (The Words) yang berisi tentang tauhid, aspek-aspek keagungan al-Qur’an, aspek-aspek ibadah ritual, penjelasan Isra’ dan Mi’raj, wacana keimanan dan kehidupan sesudah mati, dan lain-lain.

Keduaal-Maktūbāt (The Letters) yang menguraikan tentang tingkat kehidupan, rahmat dalam kematian, Asma-asma Allah, mukjizat Rasul, makna mimpi, konsep waḥdatul wujūd, penciptaan setan, rahmat allah dalam kematian dan kemalangan, dan lain sebagainya.

Ketiga, al-Lama’āt (The Flashes) yang menjabarkan mengenai konsep sabar, konsep sunnah, wadatul wujūd, ma’rifatullāh, ikhlās, risālah al-ṭabî’ah, ḥijāb, marḍā, syuyūkh, dan perbincangan beberapa Asmā al-Ḥusnā.

Keempat, Syu’āt (The Rays) yang mengeksplorasi tentang tauhid, keimanan, ketakwaan, hari kebangkitan, eksistensi manusia dan alam, serta berbagai topik lainnya.

Kelima, al-Malāiq yang melukiskan keyakinan, kepercayaan pada hari kebangkitan dan hidup sesudah mati, perbincangan tentang malaikat, keesaan Tuhan, ringkasan surat Al-Fatihah, pilar-pilar Islam dan menjelaskan pula kenabian Muhammad Saw.

Keenam, Isyāratul ‘I’jāz Fī Maān al-Ījāz, sebuah Risalah yang berisi tafsir atas surat Al-Fātihah dan surat Al-Baqarah sampai ayat 33.

Seluruh risalah tersebut dipaparkan oleh Nursi secara filosofis dan sangat kaya ilustrasi dengan dibungkus  gaya bahasa yang ringan, sehingga mudah dicerna oleh masyarakat luas tanpa kehilangan bobot maknanya. Selain keenam jilid yang disebutkan di atas, ada karya lain yang perlu disebutkan disini yaitu buku al-Manāwī al-‘Arabi al-Nūrī yang merupakan cikal bakal dari Risālah al-Nūr. Bahkan sebagian besar benih pemikiran yang terdapat dalam Risālah al-Nūr sapat dibaca dalam buku ini.

Sukran Vahide, di dalam buku Biografi Intelektual Badi’uzzaman Said Nursi mencatat, Said Nursi lahir dari garis keluarga terhormat. Ayahnya memiliki garis silsilah sampai kepada imam Hasan dan ibunya memiliki garis silsilah sampai kepada Imam Husen.  Ia dilahirkan menjelang fajar terbit pada tahun 1876 M di desa Nurs, sebuah sebuah desa yang melebar di sepanjang kaki lereng rangkaian pegunungan Taurus yang menghadap ke selatan di sebelah selatan Danau Van Provinsi Bitlis Anatolia Timur.

Tempat kelahiran Nursi dikenal sebagai tempat yang sangat indah karena dikelilingi gunung-gunung yang menjulang tinggi dengan salju abadi yang selalu menutupi puncak-puncaknya. Desa ini berpayung langit biru dengan udara yang bersih dan terbebas dari polusi.

Selain itu, tempat ini luar biasa kaya akan sayur-mayur dan beragam pohon hijau. Taman-taman dan pohon buahnya menawarkan kontras yang menyenangkan dengan lembah gersang yang menukik lurus dari atas. Kawasan inilah yang membentuk ecological mentality Nursi sejak dini. Dalam perjalanan hidup dan perjalanan pemikirannya, Nursi menuliskan gagasan ekologis yang berbasis pada bangunan pandangan dunia Islam.

Jauh sebelum dunia Barat mengenal isu-isu ekologis melalui buku Silent Spring karya Rachel Carson, yang terbit pada 27 September tahun 1962, dengan ketajaman visinya, Said Nursi telah menuliskan isu-isu ekologis yang sangat penting, dengan bercorak filosofis sekaligus sufistik. Tak hanya itu, Nursi melihat perang dunia I yang terjadi pada tanggal 28 Juli 1914 sampai dengan 11 November 1918 memiliki dampak buruk yang sangat signifikan terhadap kemanusiaan dan lingkungan hidup pada masa itu.

Perang ini memberi konsekuensi kemanusiaan yang sangat mendalam. Dari 60 juta tentara Eropa yang dimobilisasi mulai tahun 1914 sampai 1918, 8 juta di antaranya gugur, 7 juta cacat permanen, dan 15 juta luka parah. Jerman kehilangan 15,1% populasi pria aktifnya, Austria-Hongaria 17,1%, dan Prancis 10,5%. Sekitar 750.000 warga sipil Jerman tewas akibat kelaparan yang disebabkan oleh blokade Inggris selama perang. Pada akhir perang, kelaparan telah menewaskan sekitar 100.000 orang di Lebanon. Perkiraan terbaik untuk jumlah korban tewas akibat kelaparan Rusia 1921 adalah 5 juta sampai 10 juta orang. Pada tahun 1922, terdapat 4,5 juta sampai 7 juta anak tanpa rumah di Rusia akibat satu dasawarsa kehancuran sejak Perang Dunia I.

Selain sebagai bencana kemanusiaan, perang ini telah menjadi bencana ekologis atau bencana lingkungan hidup yang sangat parah. Dalam Perang Dunia I, dikenal istilah “bombturbation”, sebuah istilah untuk menggambarkan pencampuran tanah dengan bahan peledak. Penanaman bahan peledak sampai jauh di bawah permukaan tanah. Saat bom meledak, kesuburan tanah serta cadangan air tanah menjadi hancur dan tanah mengalami kesulitan untuk pemulihan alaminya. Dampaknya, banyak kawasan pertanian produktif dan kawasan hutan menjadi kawasan mati. Kerusakan tanah dan hutan diperparah karena dijadikan jaringan parit untuk perang. Setidaknya, 23.225,76 hektar kawasan hutan mengalami kerusakan yang sangat parah. Dengan demikian, perang terah meruabah bentang alam secara drastis.

Dampak merusak lainnya terhadap lingkungan hidup adalah penggunaan gas beracun. Gas-gas yang berbahaya tersebar di seluruh parit untuk membunuh tentara. Contoh gas yang diterapkan selama Perang Dunia I adalah gas air mata (aerosol yang menyebabkan iritasi mata), gas mustard (gas beracun yang menyebabkan kulit melepuh dan perdarahan). Gas-gas tersebut menyebabkan total 100.000 kematian, Medan perang tercemar, dan sebagian besar gas menguap ke atmosfer.

Melalui penghayatan yang sangat mendalam terhadap ajaran Islam sekaligus pengamatan dan pengalamannya terlibat dalam Perang Dunia I, Said Nursi menuliskan gagasannya tentang dengan lingkungan hidup yang berpijak pada pandangan dunia al-Qur’an atau yang disebut Qur’anic Environmentalism. Pandangan ini memiliki siginifikansi serius di tengah krisis lingkungan hidup global dan juga krisis lingkungan hidup yang terjadi di Indonesia, sebagaimana yang kita saksikan dan rasakan saat ini.

Said Nursi memulai pandangannya tentang Qur’anic Environmentalism yang dimulai dari definisinya mengenai al-Qur’an. Umumnya para ulama mendefinisikan al-Qur’an dengan pandangan yang sangat umum, yaitu firman Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw, melalui perantara Malaikat Jibril.

Berbeda dengan pandangan itu, Nursi menulis definisi al-Qur’an sebagai berikut:

“Al-Qur’an adalah penjelas azali buku alam semesta sekaligus penafsir abadi terhadap lisan yang membaca ayat-ayat penciptaan. Ia adalah penjelasan terhadap buku alam semesta baik yang zahir maupun yang batin. Al-Qur’an adalah pengungkap perbendaharaan Nama-nama Ilahi yang tersembunyi baik yang berada di langit maupun di bumi. Ia adalah kunci penyingkap kebenaran yang tersembunyi di belakang setiap fenomena. Al-Qur’an adalah lisan dunia batin bagi dunia zahir. Ia adalah perbendaharaan nikmat abadi dari Tuhan Yang Maha Penyayang sekaligus tanda azali dari Dzat Yang Maha Suci. Al-Qur’an adalah matahari dan fondasi spiritual Islam. Ia adalah peta suci untuk kehidupan dunia dan akhirat….(The Words, hal. 376-378)”

Di tempat lain, ia menulis: “Buku alam semesta menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an kepada anda. Alam semesta membawa al-Qur’an lebih dekat kepada pemahaman anda dengan menunjukkan banyak hal, diantaranya: pergantian siang dan malam, perubahan warna daun, pergantian musim dan waktu, serta perbedaan bahasa.” (al-Matsnawi, hal 447)

Jika kita memperhatikan al-Qur’an dengan seksama, maka kita akan menyadari bahwa al-Qur’an sangat memperhatikan dan mengingatkan pentingnya keberadaan hewan bagi manusia. Dalam beberapa surat al-Qur’an sejumlah nama hewan disebutkan dengan jelas, yaitu: al-Baqarah (sapi), al-Nal (lebah), al-Ankabūt (laba-laba), dan al-Naml (semut).  Selain itu, al-Qur’an juga menyebutkan sejumlah nama hewan, diantaranya: unta, kambing/domba, anjing, sapi, kuda, keledai, semut, lebah, babi, ular, nyamuk, serangga, laba-laba, dan juga burung.   Secara eksplisit al-Qur’an memberikan sebutan yang menarik kepada hewan.

Dalam salah satu ayat, hewan dinamai umam (jama’ dari kata ummah). Penggunaan kata umam untuk menyebut hewan menjadikannya konsep yang sangat signifikan dan penting dalam pandangan Islam. Di dalam al-Qur’an dinyatakan: “Dan tiadalah binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat juga seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam al-Kitāb, kemudian hanya kepada Tuhanlah mereka akan dihimpun.” (Q.S, al-An’ām [6]: 38)

Belajar dari al-Qur’an, Said Nursi menekankan pentingnya semua spesies hewan. Berikut hewan-hewan yang disebutkan dalam Risālah al-Nūr, yaitu: lebah, kalajengking, singa, kuda, burung elang, ikan, serangga, burung Bulbul, kerbau, belalang, unta, burung unta, gajah, badak, burung merpati, ayam, burung Hudhud, ulat sutera, harimau, semut, domba, kambing, kucing, kadal, anjing, burung Kuddus, serigala, burung-burung, kera, sapi, laba-laba, burung beo, kutu, burung pipit, nyamuk, burung jalak, burung merak, rubah, kelelawar, ulang, dan juga cacing.

Bahkan Nursi menyebut hewan sebagai petugas Ilahi, bekerja sebagai manifestasi keberadaan Allah dan sebagai pengingat keagunganNya. Ia menulis: “Alam semesta ini adalah sebuah buku yang penuh dengan makna yang berasal dari Zat Yang Maha Tunggal, Maha Kekal. Semua makhluk yang berada di bumi sampai dengan langit merupakan kumpulan mu’jizat sekaligus surat resmi dari Allah. Semua makhluk di alam ini adalah tentara. Semua makhluk dari mulai mikroba, semut, burung elang, badak sampai dengan planet-planet adalah petugas Ilahi yang rajin.” (The Rays, hal. 20)

Dalam kehidupan praksisnya, Said Nursi memberikan teladan yang sangat baik dengan tidak membunuh hewan semacam semut. Bahkan ia memberi makan semut-semut yang ia temui. Ia enggan menempati sebuah kamar karena khawatir akan mengganggu sekelompok semut yang ada di kamar tersebut. Richard Foltz menyebut Said Nursi sebagai animal lover karenya kecintaannya pada binatang. Lebih jauh, Davud Ayduz menyebutnya sebagai great environmentalist.

Selain menyebut nama hewan. Al-Qur’an juga menyebut entitas pohon. Menurut hitungan Muhammad Fuad Abdul Baqi, di dalam kitab al-Mu’jam al-Mufahras Kata pohon diungkapkan dengan berbagai derivasinya disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 27 kali. sedangkan kata-kata taman atau kebun dengan berbagai derivasinya disebut sebanyak 146 kali. Walaupun al-Qur’an tidak menyebutkan perintah menanam pohon secara eksplisit, namun pohon sering disebut-sebut dalam al-Qur’an karena pentingnya keberadaan mereka bagi kehidupan manusia. Sejumlah ayat menyebutkan kata-kata pohon, buah-buahan, kebun-kebun atau taman-taman secara eksplisit. Selain disebutkan untuk menunjukkan entitas nabati, kata pohon –dengan berbagai1 derivasinya- digunakan dalam al-Qur’an untuk menjelaskan sejumlah perumpamaan. Tujuan utama dari hal ini adalah untuk menjaga agar konsep tentang pohon agar senantiasa hidup dalam hati dan pikiran manusia.

Sebagai seorang yang memahami betul pentingnya pepohonan dan tumbuh-tumbuhan hijau, Said Nursi memberikan perhatian yang sangat besar terhadap hutan dan pedesaan serta menghabiskan banyak waktunya sebanyak mungkin di hutan, desa, dan luar ruangan. Dengan sangat jelas, Nursi mengungkapkan bahwa pohon tidak diciptakan dengan sia-sia, melainkan mereka dicipta untuk memuji Allah swt. Ia menyatakan, sama seperti makhluk lainnya, pepohonan memuji dan beribadah kepada Allah dengan bahasa mereka sendiri.

Ada sejumlah nama pohon, buah-buahan dan tumbuhan hijau yang disebutkan dalam Risālah al-Nūr, diantaranya: pohon kenari, pohon pinus,  pohon kelapa, pohon delima, pohon cemara, pohon labu, pohon apel, pohon zaitun, pohon almon, pohon juniper, pohon plane, pohon elm, pohon mustard, pohon buttercup, pohon tuba, pohon aprikot, pohon cedar, buah kelapa, buah terong, buah apel, buah delima, buah labu, buah anggur, dan juga bunga rose.

Secara eksplisit Nursi mengaitkan keberadaan pohon sebagai entitas nabati dengan penghayatan spiritualnya sebagai berikut: “Lihatlah pohon dengan seksama! Lihatlah dia yang memiliki bibir yang halus, daun yang tersusun rapi, bunga-bunga yang yang mekar lebar dengan ukiran yang indah, dan buah-buahan yang membesar. Semuanya tumbuh pada musim semi dengan penuh hikmah serta kasih sayang Tuhan Sang Pencipta. Daun yang rapi dan bunga yang mekar dengan indah itu menari-nari saat angin bertiup menerpa pohon laksana anak-anak yang masih kecil. Kita menyaksikan keseimbangan dalam tatanan alam yang penuh kebijaksanaan yang diekspresikan melalui lisan keindahan hijau daun. Melihat hal tersebut, bunga-bunga tersenyum penuh suka cita terhadap nikmat yang diterima. Dan dengan bahasanya, buah-buahan tertawa…” (The Words, hal. 300)

Said Nursi sesungguhnya ingin mengungkapkan bahwa terdapat hubungan yang tidak bisa dipisahkan antara al-Qur’an atau recited book (buku yang dibaca) dengan alam semesta atau observed book (buku yang diobservasi). Baginya, al-Qur’an mendorong manusia untuk merenungkan tanda-tanda keberadaan Tuhan di alam raya yang tak terhitung jumlahnya.

Pada titik inilah, Said Nursi telah membangun satu pandangan yang sangat padu antara al-Qur’an sebagai ayat-ayat qauliyyah dengan alam semesta sebagai ayat-ayat kauniyyah. Baginya, dengan mempelajari al-Qur’an, sesorang seharusnya menjadi lebih paham dengan persoalan-persoalan alam dan lingkungan hidup sebagai rumah bersama manusia. Dengan mempelajari al-Qur’an, kita seharusnya menyadari bahwa alam pada prinsipnya memiliki nilai sakral, sehingga terlarang untuk dieksploitasi dan dirusak.

Pesan-pesan ekologis Said Nursi sangat relevan dengan kondisi ummat Islam, khususnya di Indonesia. Tak sedikit ummat Islam yang mempelajari Islam, khsususnya al-Qur’an, tapi terjebak dalam kubangan literalistik, kehilangan spirit untuk melakukan melakukan perubahan transformatif dalam merespon krisis Lingkungann hidup yang terjadi. Akhirnya, al-Qur’an hanya menjadi dokumen yang dibaca dan dihafal berulang-ulang. Padahal, keadilan sosio-ekologis adalah salah satu pesan utama di dalam al-Qur’an.

Umat Islam harus berkepentingan dengan isu krisis lingkungan hidup karena sejumlah alasan, yaitu: pertama, secara teologis, umat Islam diperintahkan untuk memakmurkan dan menjaga keseimbangan planet bumi. Bahkan al-Qur’an, dalam banyak ayat, dengan sangat tegas melarang berbuat kerusakan di atas muka bumi; kedua, secara historis, Nabi Muhammad dan juga para sahabat telah memberikan teladan mulia dalam menjaga alam, salah satunya dengan menetapkan kawasan Hima untuk daerah konservasi air; ketiga, secara ekologis, jika lingkungan rusak maka akan berdampak terhadap berbagai ibadah ritual dalam Islam. Contohnya, krisis air akibat rusaknya hutan akan berdampak terhadap kualitas ibadah shalat. Lebih jauh, umat Islam berkewajiban untuk mewujudkan peradaban ekologis yang mampu menjadi rumah besar bagi seluruh masyarakat dunia; keempat, secara filosofis, krisis ekologis yang mendorong krisis iklim adalah manifetsasi dari krisis paradigma (fikrah) atau krisis spiritualitas yang melanda umat manusia saat ini, dimana alam dilihat secara instrumental dengan kalkulasi untung dan rugi semata. Padahal, al-Qur’an sebagaimana dinyatakan oleh Said Nursi, mengajarkan bahwa alam memiliki nilai spiritual pada dirinya karena bertasbih kepada Allah Swt.

Demikianlah pandangan ekologis Said Nursi, seorang ulama yang hidup yang lahir di penghujung abad ke-19 dan awal abad ke-20 Masehi. Usia hidupnya 84 tahun. Ia lahir Pada 1876 dan meninggal pada tahun 1960. Meski telah meninggal lebih dari 100 tahun yang lalu, namun pesan-pesan ekologisnya terus hidup dan tetap abadi.

Dua tahun setelah wafatnya Said Nursi, Barat baru bangun dengan ditulisnya buku Silent Spring oleh Rachel Carson. Delapan tahun setelah itu, Seyyed Hossein Nasr menulis buku Man and Nature. Selanjutnya, dua belas tahun setelah kepergiannya, tepatnya pada tahun 1972, dunia internasional menyelenggarakan konferensi internasional tentang Lingkungan Hidup di Stockholm, Swedia, untuk menguraikan karakter global dari masalah lingkungan. Konferensi ini mengakui bahwa perlindungan lingkungan harus menjadi unsur pokok dalam perkembangan sosial dan ekonomi.

Tiga dekade kemudian, kalangan agamawan pada level internasional pernah menggelar konsultasi internasional sekaligus konsultasi antar-iman di Genval, Belgia pada Mei 1994 guna menyambut konferensi internasional PBB mengenai Kependudukan dan Pembangunan yang dihelat di Kairo, Mesir  pada 5-13 September 1994. Salah satu poin penting yang dihasilkan dari konsultasi internasional itu menyatakan bahwa agama-agama yang berpusat pada Tuhan berbicara mengenai lingkungan alam sebagai karya sang pencipta dan oleh karena itu suci. Demikian pula dengan dengan keyakinan non-teistik yang menegaskan kesucian lingkungan dan alam. Selain itu, para agamawan menekankan bahwa kesejahteraan manusia di seluruh dunia bergantung pada kualitas udara, air, dan juga tanah.

Bahkan pada sekitar tahun 2000-an, dilaksanakan satu seri sepuluh konferensi tentang agama dan ekologi di Pusat Studi Agama-Agama Dunia di Universitas Harvard. Masing-masing konferensi ini meninjau sumber daya intelektual dan simbolis pada tradisi religius tertentu sehubungan dengan pandangan tradisi itu pada sifat, praktik ritual, dan bangunan ritual dalam kaitannya dengan alam. Konferensi ini dipusatkan pada hampir seluruh tradisi agama besar dunia, diantaranya: Islam, Yudaisme, Kristen, Konfusianisme, Budhisme, Hiduisme, Jainisme, Daoisme, Shintoisme, dan tradisi-tradisi lokal. Sepuluh konferensi ini berhasil merumuskan suatu etika lingkungan yang sistematis.

Sebagaimana telah dibuktikan oleh Said Nursi, krisis lingkungan hidup adalah persoalan bersama. Krisis ini akan tetap menjadi ancaman umat manusia ke depan, selama manusia tidak kembali kepada akar spiritualitasnya. [***]

***

Parid Ridwanuddin

Dosen pada program studi Falsafah dan Agama Universitas Paramadina serta aktivis lingkungan pada organisasi masyarakat sipil, Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA).

Avatar
Tim Redaksihttps://www.genial.id/
Tim Redaksi Genial—Bacaan Ideal Generasi Milenial

Baca Juga

Populer

Negara dan Kedewasaan Berdemokrasi

Genial—Berabad-abad lamanya, tatanan sosial selalu menjadi objek menarik untuk diteliti. Mengenal nilai, budaya dan sistem yang ada didalamnya menjadi hal yang absolut sebelum kita...

Soekarno dan Islam Berkemajuan

Islam Berkemajuan menjadi tema sentral Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar pada 2015. Di Muktamar ini pula, Muhammadiyah meneguhkan komitmen ke-Indonesiaan dengan mengkonfirmasi Pancasila melalui...

Quran dan Perjanjian Damai sebagai Prioritas

GENIAL. Tulisan ini merupakan bagian keempat dari tulisan berjudul Ajaran Perdamaian dalam Quran. Tulisan kedua berjudul Sikap Positif terhadap Keragaman. Tulisan ketiga berjudul Respon...

Mitos Angry Boy di Antara Patung Erotis Di Oslo

Genial—Ada mitos warga Oslo, Norwegia: apabila datang ke Norwegia, dan ingin kembali ke negara ini untuk kali kedua dan seterusnya, maka harus menemui dan...

Dua Peristiwa Besar di Bulan Ramadan

Genial—Ada banyak peristiwa bersejarah di bulan Ramadhan. Di antaranya ada dua peristiwa besar yang perlu diketahui umat muslim. Pertama, Peristiwa Perang Badar. Pada hari ke-17 Ramadhan...

Baitul Muslimin Indonesia Ajak Umat Islam Maknai Isra Mikraj Demi Indonesia Maju

JAKARTA - Pengurus Pusat Baitul Muslimin Indonesia (PP Bamusi) organisasi sayap Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, mengajak umat Islam di Indonesia untuk berani tampil dan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Genial—Bacaan Ideal Generasi Milenial