Ketentuan dan Batasan Perang dalam Quran

GENIAL. Tulisan ini merupakan bagian keempat dari tulisan berjudul Ajaran Perdamaian dalam Quran. Tulisan kedua berjudul Sikap Positif terhadap Keragaman. Tulisan ketiga berjudul Respon Damai untuk Perbuatan Kasar dan Kekerasan

***

Quran memberikan panduan moral tentang qital (perlawanan perang). Perlawanan perang tidak sepatutnya dilakukan untuk tujuan-tujuan yang tidak mulia. Qital dapat dilancarkan oleh orang beriman yang dalam kondisi tertindas. Surah al-Hajj ayat 39-40, yang termasuk wahyu paling awal tentang izin berperang, mengisyaratkan itu:

“Telah diizinkan (perang) bagi orang-orang yang tengah diperangi karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar sangat kuasa menolong mereka, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar selain hanya karena mereka berkata, Rabb kami hanyalah Allah …”

Lanjutan ayat 40 bahkan mengisyaratkan bahwa perlawanan tersebut diizinkan untuk tegaknya rumah ibadah. Tegaknya rumah-rumah ibadah adalah berkat tergeraknya orang-orang yang teraniaya untuk melawan kezaliman manusia yang memusuhi mereka hanya lantaran mereka bertauhid (yaqulu Rabbuna Allah).

Pesan bahwa qital diizinkan terhadap mereka yang memerangi orang beriman karena alasan agama dan yang mengusir orang-orang beriman dari kampung halaman, juga disampaikan secara jelas pada surah al-Mumtahanah ayat 9:

“Allah hanyalah melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan siapa menjadikan mereka sebagai teman akrab, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Lihat pula Q 2:217).

Sedangkan kepada orang-orang yang tidak memerangi (karena agama), ayat sebelumnya, al-Mumtahanah ayat 8 menyatakan:

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Dengan demikian, qital diperbolehkan bila dijadikan sebagai balasan atas tindakan memerangi. Qital adalah semacam qishash. Ini juga diisyaratkan di beberapa ayat yang lain, seperti Q 2:190-1, 194, dan Q 9:36.

Qital dalam ajaran Quran mestilah dilakukan fi sabil Allah (di jalan Allah). Qital fi sabil Allah punya konotasi yang berbeda dari ungkapan-ungkapan seperti „perang suci‟ (holy war), „perang yang adil‟ (just war), atau „perang untuk mempertahankan diri‟ (defensive war). Konotasi fi sabil Allah (di jalan Allah) juga berbeda dari „atas nama Tuhan‟ atau “atas nama agama‟. Bila seseorang berada di jalan Allah, tentulah ia berada di jalan yang benar dan tujuannya mulia.

Dalam Quran, tiga belas kali kata qital diikuti fi sabil Allah. Ini menegaskan bahwa qital yang diperintahkan adalah untuk alasan atau tujuan yang benar, yaitu perjuangan mempertahankan din Allah – ketundukan kepada Allah – atau menegakkan kalimat tauhid. Ungkapan fi sabil Allah menekankan dimensi spiritual dari perlawanan melalui perang. Fi sabil Allah adalah pilihan orang beriman, sedangkan fi sabil al-thaghut (di jalan tuhan semu yang sesungguhnya setan) adalah pilihan orang kafir (Q 4:76).

Sekalipun belasan kali ada ungkapan “berperang di jalan Allah”, tidak ada penyebutan “membunuh di jalan Allah” (qatala/yaqtulu fi sabil Allah). Yang ada adalah “terbunuh di jalan Allah” (qutila/yuqtalu fi sabil Allah), yang disebut setidaknya di empat ayat. Sekalipun ada perintah “berperanglah di jalan Allah” (setidaknya di lima tempat), tidak ada perintah “bunuhlah di jalan Allah”.

Selain harus didasari oleh tujuan yang mulia, perlawanan perang (qital) juga harus dilaksanakan dalam batasan-batasan. Izin atau perintah untuk qital semestinya didahului oleh perintah untuk menyampaikan kepada lawan (yaitu orang-orang kafir) bahwa mereka diberi opsi untuk berhenti memerangi (lihat misalnya Q 8:38). Perang (harb) baru dilaksanakan setelah perjanjian damai (selalu) dikhianati oleh lawan dan (karenanya) pembatalan perjanjian secara tegas diberitahukan kepada mereka (lihat misalnya Q 8:56-8, 9:12). Bila masih ada perjanjian damai, peperangan dilarang (Q 4:90; Q 9:7).

Dalam situasi perjanjian damai telah dibatalkan, barulah ada seruan untuk menggetarkan lawan (irhab):

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan kuda-kuda yang ditambat (untuk berperang), yang dengan persiapan itu kamu menggentarkan (turhibuna) musuh Allah dan musuh kamu, serta orang-orang selain mereka yang tidak kamu ketahui tapi Allah ketahui. Apa saja yang kamu nafkahkan di jalan Allah, niscaya dibalas dengan cukup kepadamu, dan kamu tidak akan dirugikan.” (Q 8:60).

Akan tetapi, segera diingatkan bahwa bila lawan punya gelagat untuk berdamai, maka perdamaian adalah pilihan yang tepat: “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar Maha Mengetahui.” (Q 8:61).

Bila qital sudah diserukan, maka tidak boleh dilaksanakan dengan melampaui batas. Surah al-Baqarah ayat 190 mengingatkan:

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

Terkait ayat tersebut, Buya Hamka menerangkan, pengertian tidak melampaui batas mencakup: 1) tidak memulai perang terlebih dahulu; 2) saat perang sampai terjadi, tidak membunuh orang tua, perempuan, anak-anak dan orang tak bersenjata, serta tidak merusak tempat ibadah; dan 3) tidak membunuh orang yang telah menyerah (lihat Q 9:6), dan tidak mencincang orang yang telah terbunuh.

Mufasir klasik Ibn Katsir menyebutkan hal-hal yang sama, namun juga menyebut larangan membunuh tuna netra, membunuh yang tidak ikut berperang, membunuh para pendeta atau biarawan, merusak pohon-pohon, dan membunuh hewan-hewan.

Al-Thabathaba‟i juga menyebut hal-hal serupa, yang intinya adalah ketentuan-ketentuan berperang yang disebutkan dalam Sunah, termasuk menyerukan (mendakwahkan) kebenaran terlebih dahulu.

Selain itu, qital juga tidak boleh dilakukan di tempat suci, Masjidil Haram (Q 2:191). Di ayat lain, ditambahkan ketentuan bahwa qital tidak sebaiknya dilakukan di empat bulan suci (misalnya Q 2:217).

 Qital pun harus dihentikan bila lawan berhenti memusuhi (Q 2:192-3; Q 8:39). Prinsipnya, bila lawan tak lagi berdaya, qital harus berhenti. Qital dilancarkan sampai lawan tak kuasa melakukan penindasan atau fitnah (hasutan, hambatan, gangguan, siksaan, penganiayaan, dan segala tindakan menghalangi orang dari jalan Allah). (Bersambung…)

Izza Rohman

Ahli Tafsir Universitas Prof. Hamka

Avatar
Tim Redaksihttps://www.genial.id/
Tim Redaksi Genial—Bacaan Ideal Generasi Milenial

Baca Juga

Populer

Konsep GBHN yang Diusulkan PDIP Berbeda dengan Zaman Orba

GENIAL. Wakil Ketua MPR yang juga Ketua DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah menjelaskan, konsep Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang diusulkan PDI Perjuangan berbeda...

Lima Bersaudara Dilantik Jadi Anggota DPRD

GENIAL. Acara pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan anggota DPRD Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan, periode 2019-2024, menjadi saksi bisu keberhasilan lima bersaudara....

PDIP Unjuk Gigi Tim Penanggulangan Bencana

GENIAL. PDI Perjuangan unjuk gigi penanganan cepat penanggulangan bencana yang terjadi di Tanah Air saat delegasi Rusia menyambangi Kantor DPP PDI Perjuangan di Jakarta,...

Abdul Rafiq Potensial untuk Ketua DPRD Sumbawa

GENIAL. DPC PDI Perjuangan Sumbawa setidaknya menyiapkan tiga nama yang dicalonkan sebagai Ketua DPRD. Ketiga nama tersebut adalah Abdul Rafiq, Gita Liesbano, dan Eddy...

Berharap Duduk di Komisi X DPR Rano Berkomitmen Majukan Budaya

GENIAL. Caleg DPR RI terpilih periode 2019-2024 Rano Karno mengatakan kebudayaan adalah salah satu bagian dari Trisakti Bung Karno. Karena itu, PDI Perjuangan menjadikan...

Anak Kartosuwiryo Berikrar Setia Pada NKRI di Hadapan Wiranto

GENIAL. Sarjono Kartosuwiryo, anak dari Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo, tokoh utama Gerakan DI/TII yang hendak mendirikan Negara Islam Indonesia, membaca ikrar setia terhadap Pancasila, UUD...

Ketentuan dan Batasan Perang dalam Quran

GENIAL. Tulisan ini merupakan bagian keempat dari tulisan berjudul Ajaran Perdamaian dalam Quran. Tulisan kedua berjudul Sikap Positif terhadap Keragaman. Tulisan ketiga berjudul Respon Damai untuk Perbuatan Kasar dan Kekerasan

***

Quran memberikan panduan moral tentang qital (perlawanan perang). Perlawanan perang tidak sepatutnya dilakukan untuk tujuan-tujuan yang tidak mulia. Qital dapat dilancarkan oleh orang beriman yang dalam kondisi tertindas. Surah al-Hajj ayat 39-40, yang termasuk wahyu paling awal tentang izin berperang, mengisyaratkan itu:

“Telah diizinkan (perang) bagi orang-orang yang tengah diperangi karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar sangat kuasa menolong mereka, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar selain hanya karena mereka berkata, Rabb kami hanyalah Allah …”

Lanjutan ayat 40 bahkan mengisyaratkan bahwa perlawanan tersebut diizinkan untuk tegaknya rumah ibadah. Tegaknya rumah-rumah ibadah adalah berkat tergeraknya orang-orang yang teraniaya untuk melawan kezaliman manusia yang memusuhi mereka hanya lantaran mereka bertauhid (yaqulu Rabbuna Allah).

Pesan bahwa qital diizinkan terhadap mereka yang memerangi orang beriman karena alasan agama dan yang mengusir orang-orang beriman dari kampung halaman, juga disampaikan secara jelas pada surah al-Mumtahanah ayat 9:

“Allah hanyalah melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan siapa menjadikan mereka sebagai teman akrab, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Lihat pula Q 2:217).

Sedangkan kepada orang-orang yang tidak memerangi (karena agama), ayat sebelumnya, al-Mumtahanah ayat 8 menyatakan:

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Dengan demikian, qital diperbolehkan bila dijadikan sebagai balasan atas tindakan memerangi. Qital adalah semacam qishash. Ini juga diisyaratkan di beberapa ayat yang lain, seperti Q 2:190-1, 194, dan Q 9:36.

Qital dalam ajaran Quran mestilah dilakukan fi sabil Allah (di jalan Allah). Qital fi sabil Allah punya konotasi yang berbeda dari ungkapan-ungkapan seperti „perang suci‟ (holy war), „perang yang adil‟ (just war), atau „perang untuk mempertahankan diri‟ (defensive war). Konotasi fi sabil Allah (di jalan Allah) juga berbeda dari „atas nama Tuhan‟ atau “atas nama agama‟. Bila seseorang berada di jalan Allah, tentulah ia berada di jalan yang benar dan tujuannya mulia.

Dalam Quran, tiga belas kali kata qital diikuti fi sabil Allah. Ini menegaskan bahwa qital yang diperintahkan adalah untuk alasan atau tujuan yang benar, yaitu perjuangan mempertahankan din Allah – ketundukan kepada Allah – atau menegakkan kalimat tauhid. Ungkapan fi sabil Allah menekankan dimensi spiritual dari perlawanan melalui perang. Fi sabil Allah adalah pilihan orang beriman, sedangkan fi sabil al-thaghut (di jalan tuhan semu yang sesungguhnya setan) adalah pilihan orang kafir (Q 4:76).

Sekalipun belasan kali ada ungkapan “berperang di jalan Allah”, tidak ada penyebutan “membunuh di jalan Allah” (qatala/yaqtulu fi sabil Allah). Yang ada adalah “terbunuh di jalan Allah” (qutila/yuqtalu fi sabil Allah), yang disebut setidaknya di empat ayat. Sekalipun ada perintah “berperanglah di jalan Allah” (setidaknya di lima tempat), tidak ada perintah “bunuhlah di jalan Allah”.

Selain harus didasari oleh tujuan yang mulia, perlawanan perang (qital) juga harus dilaksanakan dalam batasan-batasan. Izin atau perintah untuk qital semestinya didahului oleh perintah untuk menyampaikan kepada lawan (yaitu orang-orang kafir) bahwa mereka diberi opsi untuk berhenti memerangi (lihat misalnya Q 8:38). Perang (harb) baru dilaksanakan setelah perjanjian damai (selalu) dikhianati oleh lawan dan (karenanya) pembatalan perjanjian secara tegas diberitahukan kepada mereka (lihat misalnya Q 8:56-8, 9:12). Bila masih ada perjanjian damai, peperangan dilarang (Q 4:90; Q 9:7).

Dalam situasi perjanjian damai telah dibatalkan, barulah ada seruan untuk menggetarkan lawan (irhab):

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan kuda-kuda yang ditambat (untuk berperang), yang dengan persiapan itu kamu menggentarkan (turhibuna) musuh Allah dan musuh kamu, serta orang-orang selain mereka yang tidak kamu ketahui tapi Allah ketahui. Apa saja yang kamu nafkahkan di jalan Allah, niscaya dibalas dengan cukup kepadamu, dan kamu tidak akan dirugikan.” (Q 8:60).

Akan tetapi, segera diingatkan bahwa bila lawan punya gelagat untuk berdamai, maka perdamaian adalah pilihan yang tepat: “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar Maha Mengetahui.” (Q 8:61).

Bila qital sudah diserukan, maka tidak boleh dilaksanakan dengan melampaui batas. Surah al-Baqarah ayat 190 mengingatkan:

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

Terkait ayat tersebut, Buya Hamka menerangkan, pengertian tidak melampaui batas mencakup: 1) tidak memulai perang terlebih dahulu; 2) saat perang sampai terjadi, tidak membunuh orang tua, perempuan, anak-anak dan orang tak bersenjata, serta tidak merusak tempat ibadah; dan 3) tidak membunuh orang yang telah menyerah (lihat Q 9:6), dan tidak mencincang orang yang telah terbunuh.

Mufasir klasik Ibn Katsir menyebutkan hal-hal yang sama, namun juga menyebut larangan membunuh tuna netra, membunuh yang tidak ikut berperang, membunuh para pendeta atau biarawan, merusak pohon-pohon, dan membunuh hewan-hewan.

Al-Thabathaba‟i juga menyebut hal-hal serupa, yang intinya adalah ketentuan-ketentuan berperang yang disebutkan dalam Sunah, termasuk menyerukan (mendakwahkan) kebenaran terlebih dahulu.

Selain itu, qital juga tidak boleh dilakukan di tempat suci, Masjidil Haram (Q 2:191). Di ayat lain, ditambahkan ketentuan bahwa qital tidak sebaiknya dilakukan di empat bulan suci (misalnya Q 2:217).

 Qital pun harus dihentikan bila lawan berhenti memusuhi (Q 2:192-3; Q 8:39). Prinsipnya, bila lawan tak lagi berdaya, qital harus berhenti. Qital dilancarkan sampai lawan tak kuasa melakukan penindasan atau fitnah (hasutan, hambatan, gangguan, siksaan, penganiayaan, dan segala tindakan menghalangi orang dari jalan Allah). (Bersambung…)

Izza Rohman

Ahli Tafsir Universitas Prof. Hamka

Avatar
Tim Redaksihttps://www.genial.id/
Tim Redaksi Genial—Bacaan Ideal Generasi Milenial

Baca Juga

Populer

Lima Bersaudara Dilantik Jadi Anggota DPRD

GENIAL. Acara pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan anggota DPRD Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan, periode 2019-2024, menjadi saksi bisu keberhasilan lima bersaudara....

Lord Didi dan Romantisme Orang Jawa

GENIAL.  Tentu banyak unsur sehingga Didi Kempot dijuluki sebagai Lord Didi dan lebih dari itu “The Godfather of Broken Heart”. Yang jelas, dia diuntungkan...

Konsep GBHN yang Diusulkan PDIP Berbeda dengan Zaman Orba

GENIAL. Wakil Ketua MPR yang juga Ketua DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah menjelaskan, konsep Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang diusulkan PDI Perjuangan berbeda...

Djarot Sindir Anies, Jomblo kok Betah!

GENIAL. Mantan Gubernur DKI Jakarta Djarot Syaiful Hidayat mempertanyakan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang masih betah ‘menjomblo’ memimpin Ibu Kota. Djarot yang pernah...

Relawan Eksponen HMI Pro Jokowi Minta Jaksa Agung Jangan Partisan

GENIAL. Wacana perebutan posisi Jaksa agung jadi bahasan politisi partai koalisi Jokowi. Tentu saja, wacana "perebutan" posisi Jaksa agung tidak elok. Pasalnya sebagai bagian...

Abdul Rafiq Potensial untuk Ketua DPRD Sumbawa

GENIAL. DPC PDI Perjuangan Sumbawa setidaknya menyiapkan tiga nama yang dicalonkan sebagai Ketua DPRD. Ketiga nama tersebut adalah Abdul Rafiq, Gita Liesbano, dan Eddy...
Genial—Bacaan Ideal Generasi Milenial