Joker: Antara Isu Ekologi dan Pesan Kemanusiaan

Genial. Watak manusia dan alam masa kini cenderung menampakkan wajah yang menakutkan. Ia suci, sekaligus menyimpan belati dalam dirinya, yang siap membunuh siapa saja. Manusia yang menggangu kenyamanan seorang pada tataran kehidupan yang sangat kompleks.

Film Joker yang dalam bulan ini ramai diperbincangkan adalah jawaban atas kegelisahan dunia saat ini. Dunia yang penuh sampah, kerusakan ekologi dan kejahatan sosial.

Arthur Fleck, pemeran utama dalam ini memberikan refleksi atas kehidupan modern yang terkesan brutal. Terkait sampah, pada awal film ini secara radikal menyoroti sampah-sampah di gang-gang perkotaan, berimbas pada polusi udara yang memburuk, dan sebagai bibit berkembang biaknya tikus-tikus liar yang mengganggu ketentraman lingkungan sosial perkotaan.

Joker dan Aktivitas Dunia yang Abstrak

Jika dicermati, film Joker tidak sekedar menggambarkan realitas manusia yang kehilangan pengakuan sebuah “ada”, memahami psikologi seorang manusia dan memberi pengakuan atas eksistensi seorang manusia. Namun Joker juga menggambarkan sistem tata ruang perkotaan yang kering, tidak ada ruang penghijauan, gelap dan jahat.

Dampak dari kehilangan keseimbangan manusia dan alam ini, manusia menjadi serigala bagi sesamanya. Kemudian merambah pada sisi ekonomi yang tidak merata, perilaku politik yang cenderung menguntungkan kaum elit hingga kemiskinan menjadi alat dagangan para politikus di musim kampanye.

Saya meyakini, bahwa dalam diri penulis naskah dan sutradara Joker ada ruang refleksi intelektualitas yang membenturkan sebuah fakta, kegamangan mengembalikan perdamaian manusia dengan alam pada hakikat dan keberadannya. Joker menempatkan kelas-kelas sosial dari imajinasi yang begitu seksi. Narasi-narasi intelektual yang disajikan tampak renyah.

Intuisi kreatifitas mereka memberi kita untuk menapaki perjalanan hidup seorang manusia menemui pengakuan atas hidupnya di dunia.

Joker dan Refleksi Laudato Si’

Merenungi makna dan filosofi film Joker, Paus Fransiksus dalam Ensiklik Laudato Si’ tampak sama. Keduanya memunculkan narasi “ekologi” yang harus diwartakan dalam kehidupan dunia saat ini.

Sebagai manusia, kita terpanggil untuk menyelami hakitat hidup manusia dengan mengakui alam sebagai sumber hidup manusia.

Pada Bab I, Paus Fransiskus menegaskan kepada dunia, “berhenti sebentar untuk mempertimbangkan apa yang sedang terjadi dengan rumah kita bersama (bumi)”. Penegasan ini bukan sekadar narasi tanpa makna. Hal ini adalah sebuah interupsi penting bagi umat manusia atas keberlangsungan hidup manusia yang akan datang.

Sebagai manusia yang terintegral, kita memiliki naluri yang sama dalam mempertahankan alam sebagai ibu yang memberi kehidupan di tengah dunia yang menginginkan perubahan.

Penegasan atas perubahan alam dan kelestarian lingkungan hidup ini juga telah dikeluarkan oleh Paus Fransiskus, bahwa tujuan perubahan yang cepat dan konsisten ini tidak selalu diarahkan kepada kesejahteraan umum atau kepada pembangunan manusiawi yang integral dan berkelanjutan.

“perubahan adalah sesuatu yang diinginkan, namun menjadi sumber kecemasan ketika itu menyebabkan kerugian untuk dunia dan kualitas hidup sebagian besar umat manusia”

Inilah yang saya refleksikan seusai menonton film Joker. Di dalam pergulatan batin seorang Joker, ada pesan yang sangat radikal untuk kita renungkan. Menghargai sesama manusia, mengakui apa yang ada pada diri seseorang tanpa memberikan luka dan sakit hati yang mencederai martabat dan harga diri seorang manusia.

Karena tawa seseorang adalah ekspresi lain dari sakit hati. Begitu juga dengan alam. Merusaknya dengan menggantikan wujudnya dalam bentuk plastik dan sampah adalah jawaban; mengapa alam enggan bersahabat dengan kita.

Oleh: Yensiana (Lembaga Pemberdayaan Perempuan PP PMKRI)

Baca Juga

Terkini

Ini Isi Pidato Lengkap Jokowi Pasca Dilantik

Genial - Joko Widodo dan Ma'ruf Amin resmi dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden periode 2019-2024. Dalam pidato pertamanya usai pelantikan, Jokowi menekankan pentingnya mendobrak...

Resmi! Jokowi – Ma’ruf Amin Jabat Presiden & Wakil Presiden RI

Genial - Joko Widodo (Jokowi) dan Ma'ruf Amin telah mengucapkan sumpah sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Dengan demikian, Jokowi-Ma'ruf resmi menjadi RI-1...

Panglima TNI Jelang Pelantikan: Lancar dan Keamanan Terjaga

Genial - Jelang pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih Jokowi-Ma'ruf Amin, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto bersama dengan Kapolri Jendral Tito Karnavian melakukan peninjauan ke...

Pengamat: Saat Ini yang Paling Dinanti Pengumuman Kabinet Kerja Jilid Dua

Genial - Menteri-menteri yang nantinya akan membantu Presiden Jokowi di periode kedua pemerintahannya haru mampu bekerja keras dan profesional. Ini harus benar-benar dilakukan untuk...

Megawati, SBY dan Prabowo Bakal Hadiri Pelantikan Jokowi-Ma’ruf

Genial - Presiden- wakil presiden, Jokowi - Ma'ruf Amin akan dilantik hari ini, Minggu Minggu (20/10) di Gedung DPR/MPR, Jakarta. Pelantikan akan dilakukan oleh...

Prabowo Pastikan Hadiri Pelantikan Jokowi – Amin

Genial - Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto dipastikan akan menghadiri upacara pelantikan Joko Widodo-Ma'ruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden periode 2019-2024, di...

Joker: Antara Isu Ekologi dan Pesan Kemanusiaan

Genial. Watak manusia dan alam masa kini cenderung menampakkan wajah yang menakutkan. Ia suci, sekaligus menyimpan belati dalam dirinya, yang siap membunuh siapa saja. Manusia yang menggangu kenyamanan seorang pada tataran kehidupan yang sangat kompleks.

Film Joker yang dalam bulan ini ramai diperbincangkan adalah jawaban atas kegelisahan dunia saat ini. Dunia yang penuh sampah, kerusakan ekologi dan kejahatan sosial.

Arthur Fleck, pemeran utama dalam ini memberikan refleksi atas kehidupan modern yang terkesan brutal. Terkait sampah, pada awal film ini secara radikal menyoroti sampah-sampah di gang-gang perkotaan, berimbas pada polusi udara yang memburuk, dan sebagai bibit berkembang biaknya tikus-tikus liar yang mengganggu ketentraman lingkungan sosial perkotaan.

Joker dan Aktivitas Dunia yang Abstrak

Jika dicermati, film Joker tidak sekedar menggambarkan realitas manusia yang kehilangan pengakuan sebuah “ada”, memahami psikologi seorang manusia dan memberi pengakuan atas eksistensi seorang manusia. Namun Joker juga menggambarkan sistem tata ruang perkotaan yang kering, tidak ada ruang penghijauan, gelap dan jahat.

Dampak dari kehilangan keseimbangan manusia dan alam ini, manusia menjadi serigala bagi sesamanya. Kemudian merambah pada sisi ekonomi yang tidak merata, perilaku politik yang cenderung menguntungkan kaum elit hingga kemiskinan menjadi alat dagangan para politikus di musim kampanye.

Saya meyakini, bahwa dalam diri penulis naskah dan sutradara Joker ada ruang refleksi intelektualitas yang membenturkan sebuah fakta, kegamangan mengembalikan perdamaian manusia dengan alam pada hakikat dan keberadannya. Joker menempatkan kelas-kelas sosial dari imajinasi yang begitu seksi. Narasi-narasi intelektual yang disajikan tampak renyah.

Intuisi kreatifitas mereka memberi kita untuk menapaki perjalanan hidup seorang manusia menemui pengakuan atas hidupnya di dunia.

Joker dan Refleksi Laudato Si’

Merenungi makna dan filosofi film Joker, Paus Fransiksus dalam Ensiklik Laudato Si’ tampak sama. Keduanya memunculkan narasi “ekologi” yang harus diwartakan dalam kehidupan dunia saat ini.

Sebagai manusia, kita terpanggil untuk menyelami hakitat hidup manusia dengan mengakui alam sebagai sumber hidup manusia.

Pada Bab I, Paus Fransiskus menegaskan kepada dunia, “berhenti sebentar untuk mempertimbangkan apa yang sedang terjadi dengan rumah kita bersama (bumi)”. Penegasan ini bukan sekadar narasi tanpa makna. Hal ini adalah sebuah interupsi penting bagi umat manusia atas keberlangsungan hidup manusia yang akan datang.

Sebagai manusia yang terintegral, kita memiliki naluri yang sama dalam mempertahankan alam sebagai ibu yang memberi kehidupan di tengah dunia yang menginginkan perubahan.

Penegasan atas perubahan alam dan kelestarian lingkungan hidup ini juga telah dikeluarkan oleh Paus Fransiskus, bahwa tujuan perubahan yang cepat dan konsisten ini tidak selalu diarahkan kepada kesejahteraan umum atau kepada pembangunan manusiawi yang integral dan berkelanjutan.

“perubahan adalah sesuatu yang diinginkan, namun menjadi sumber kecemasan ketika itu menyebabkan kerugian untuk dunia dan kualitas hidup sebagian besar umat manusia”

Inilah yang saya refleksikan seusai menonton film Joker. Di dalam pergulatan batin seorang Joker, ada pesan yang sangat radikal untuk kita renungkan. Menghargai sesama manusia, mengakui apa yang ada pada diri seseorang tanpa memberikan luka dan sakit hati yang mencederai martabat dan harga diri seorang manusia.

Karena tawa seseorang adalah ekspresi lain dari sakit hati. Begitu juga dengan alam. Merusaknya dengan menggantikan wujudnya dalam bentuk plastik dan sampah adalah jawaban; mengapa alam enggan bersahabat dengan kita.

Oleh: Yensiana (Lembaga Pemberdayaan Perempuan PP PMKRI)

Redaksihttps://www.genial.id/
Redaksi Genial—Bacaan Ideal Generasi Milenial

Baca Juga

Terkini

Joker: Antara Isu Ekologi dan Pesan Kemanusiaan

Genial. Watak manusia dan alam masa kini cenderung menampakkan wajah yang menakutkan. Ia suci, sekaligus menyimpan belati dalam dirinya, yang siap membunuh siapa saja....

Pesantren Persatuan Islam Pasca Terbitnya UU Pesantren

Terbitnya Undang- undang Pesantren harus dijadikan momentum perbaikan tata kelola pendidikan di Jamiyah Persatuan Islam yang selama ini terkesan tidak memiliki grand design sehingga...

Pemda Sumbawa Komit Support Poto Sebagai Desa Pemajuan Kebudayaan Dari Indonesia Timur

Genial. Jakarta - Desa Poto di Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), ditetapkan sebagai salah satu dari 10 desa percontohan pemajuan...

Ada Joker Di Antara Kita

Genial. Dalam trilogi The Dark Knight, musuh Batman (Christian Bale) yang paling kuat, hebat dan punya harga diri tinggi adalah Joker.Joker merupakan musuh yang...

Lama Puasa Juara, Leo/Daniel Harumkan Indonesia Pada Kejuaraan WJC 2019

Genial - Setelah berhasil mengalahkan wakil dari China Di Zi Jian/Wang Chang pada babak final yang berlangsung di Kazan Rusia, Minggu (13/10) pasangan wakil...

Karhutla adalah Kejahatan Ecocide

Genial. Saya cukup kaget membaca pernyataan presiden di beberapa media cetak dan on line saat kunjunganya ke Provinsi  Riau untuk melihat langsung kebakaran hutan...

Log In

Forgot password?

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Genial—Bacaan Ideal Generasi Milenial