Everyone Can Fly With Buhe

GENIAL. Pagi ini saya membaca di page PRFM bahwa penerbangan dari Bandung ke beberapa kota sudah dipindahkan dari Bandara Husen Rochendi…eh Sastranegara, ke Bandara International Jawa Barat (BIJB) Kertajati (bener teu kepanjanganna kitu BIJB teh?)

Mendengar ini seperti mimpi saja. bertahun-tahun, saya mendengar rencananya, menyaksikan pembangunannya, bandara internasional itu kini ternyata benar-benar menjadi kenyataan di Jawa Barat.

Tahun 2010, ketika Kang Arif Yudi dari Jatiwangi Art Factory (JAF) dan kawan-kawan saya dari Sunday Screen mulai bergiat menyelenggarakan event budaya dan workshop guna mempersiapkan masyarakat Majalengka agar siap menerima keberadaan Bandar Udara Internasional di sana, saya masih merasa bermimpi, masih belum percaya, akan betul-betul berdiri sebuah Bandar Udara Internasional di sana.

Sekarang, ketika itu benar-benar terjadi, ingatan saya kembali ke masa-masa saat saya ngobrol dengan kawan-kawan saya aktivis JAF di Jatisura atau di Bandung, tentang pentingnya penyiapan mental masyarakat, agar minimal tidak gegar budaya dan adaptif ketika sebuah pangkalan udara internasional hadir di tengah-tengah mereka. Walau informal, saya serius menyampaikan berbagai prediksi dari sudut sosial budaya, tentang apa dampak yang bakal timbul ketika pintu kota terbuka untuk masyarakat internasional.

Diskusi-diskusi itu terjadi setiap kami bertemu, terkadang melantur, sampai saya menyampaikan ide pengembangan armada elf, BUHE dan RW untuk mengangkut passenger yang akan ke Kertajati. Jumlahnya ditambah, elf-nya diremajakan juga. Hal yang dulu saya bahas panjang itu diklat untuk supir-supir BUHE dan RW. Supir elf legendaris itu menurut saya membutuhkan penataran dulu, dibekali dasar-dasar pariwisata, dasar-dasar service excellent, jangan sampai seperti ketika mengangkut saya…

Pas saya duduk di depan, sudah mah ngebut, supirnya ngudud, pas mau disalip oleh kawannya, bercandanya itu horror banget. Elf yang mau nyiap dihalang-halangi dengan cara, sang supir membuka tutup pintu mobil, sehingga menyulitkan kendaraan yang mau nyiap untuk menyusul. “Tahhhh an**… tahhhh,” kata supirnya sambil tertawa puas.

Terbayang kalau nanti mengangkut turis. Jika turing berarti tuur garing, maka turis bisa menjadi tuur tiis, jika style driver elf-nya masih atraktif seperti itu.

*
Sejujurnya, ketika mendengar kabar ini di rantau, ada haru yang menyeruak ke sanubari. mungkin perasaan haru itu tidak akan hadir ya, jikalau saya mendengarnya saat tinggal di tanah air. Bedalah perasaannya. Apalagi, bandar udara internasional ini hadir di tanah yang saya cintai, yaitu: Jawa Barat. Dan di majalengka lagi, kota yang mencatat banyak kenangan selama saya bertugas jadi PNS. Wah banget… mengkhayalkan di kota itu bakal ada bandara seperti heathrow, el prat, schiphol, yang pernah saya singgahi.

Ketika saya diangkat jadi PNS, saya berjanji pada ibu saya, untuk minimal bikin satu karya, entah kolosal atau sederhana, tapi diusahakan monumental di setiap satu kota yang ada di Jabar-Banten. Sumpah yang mirip sumpah Palapa itu alhamdulillah terlaksana, walaupun dalam perjalanan ada beberapa rintangan dan kendala yang harus dihadapi. Tidak ada satupun kota di Jabar-Banten, yang tidak mencatat jejak saya.

Jejak itu terangkum di channel youtube kantor yang saya cintai, PP PAUD dan Dikmas, Jayagiri. salahsatu jejaknya adalah di kota Majalengka. Jejak yang sangat berkesan di hati, yang membuat saya bahagia ketika mendengar ada kemajuan pembangunan di sana.

Jejak saya di Majalengka berkenaan tentang desain PAUD berbasis seni rupa/musik dan budidaya gadung (dari mulai bercocoktanam, pengolahan, sampai pemasarannya). Saat workshop dan pembuatan film dokumentasi tentang gadung untuk disebar ke seluruh Indonesia, yang dilangsungkan di kantor kecamatan Maja, saya sempat dilarikan ke puskesmas. Perut kembung dan keras. Disangka orang-orang keracunan gadung. Ternyata tidak. Hanya telat kentut dan kebanyakan makan keripik gadung. Satu kaleng Khong Guan dihabiskan sendiri, sambil menyutradarai. Habis enak sih.

Ada salah satu yang lucu lagi sebelumnya, yaitu ketika saya pertama datang survei ke Majalengka. Carter angkot seorang diri dan diturunkan tepat di depan bupati yang sedang menunggu mobil di balaikota. Saya tidak tahu (lantaran tidur selama di angkot), supir angkotnya polos lagi, membiarkan saya yang masih lulungu turun dan bayar, tepat di depan Bupati yang senyam-senyum menyaksikannya. Saya diuntungkan oleh peristiwa itu, walaupun malu. Bupati memerintahkan stafnya untuk menjamu dan menyediakan mess terbaik , setelah saya dengan gelapagapan menyampaikan maksud kedatangan. Selama survei ke lahan Gadung itu, saya diantarkan adik bupati pakai jeep keren. Para petani antusias, saya dijamu, diajak ngobrol dan difoto terus-terusan, karena mengira saya pengusaha yang mau borong gadung, bukan pengusaha gadungan.

*
Tidak menyangka sebentar lagi Majalengka akan membuka pintunya untuk seluruh Indonesia dan dunia. Memang masih akan banyak yang terasa tak nyaman di awal-awal ini. Maklumi saja karena setiap awal walaupun indah tapi membutuhkan waktu untuk diadaptasi.

Tol Cisundawu yang belum selesai juga mungkin membuat perjalanan dari orang-orang yang biasa bepergian lewat Bandung ke luar Jawa, jadi terasa lebih panjang dan mungkin saja sangat melelahkan.

Saya membayangkan kalau saya ada di antara penumpang-penumpang itu. apakah saya akan mendumel? saya sih tidak. Sebab momen ini sudah lama dipersiapkan penyambutannya oleh sahabat-sahabat pejuang kebudayaan, seperti JAF di Majalengka. Sebentar lagi mereka akan melihat buah perjuangan dan mengetahui aktif-tidaknya radar kebudayaan yang mereka rancang dan rintis sejak tahun 2010-an itu.

Saya juga membayangkan suatu saat ada pesawat dari Eropa ke BIJB, ketika saya pulang nanti. Membayangkannya saja sudah luar biasa. Saya turun dari pesawat, menginjak tanah Jawa Barat, merasakan lagi terik matahari Maja, dan kemudian pulang menuju Bandung.

Saudara atau teman-teman yang akan menjemput, lebih baik menunggu saja di tol Pasirkoja. Karena saya akan pulang naik BUHE atau RW. merasakan kembali spirit “EVERYONE CAN FLY”-nya, yang evergreen sejak jaman mahasiswa hingga saya bekerja untuk negara. Ajiggggg Maaang... [***]

Abu Rashif

Pegiat Tajdid Institute, sedang merantau di Inggris

Baca Juga

Terkini

Ini Isi Pidato Lengkap Jokowi Pasca Dilantik

Genial - Joko Widodo dan Ma'ruf Amin resmi dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden periode 2019-2024. Dalam pidato pertamanya usai pelantikan, Jokowi menekankan pentingnya mendobrak...

Resmi! Jokowi – Ma’ruf Amin Jabat Presiden & Wakil Presiden RI

Genial - Joko Widodo (Jokowi) dan Ma'ruf Amin telah mengucapkan sumpah sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Dengan demikian, Jokowi-Ma'ruf resmi menjadi RI-1...

Panglima TNI Jelang Pelantikan: Lancar dan Keamanan Terjaga

Genial - Jelang pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih Jokowi-Ma'ruf Amin, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto bersama dengan Kapolri Jendral Tito Karnavian melakukan peninjauan ke...

Pengamat: Saat Ini yang Paling Dinanti Pengumuman Kabinet Kerja Jilid Dua

Genial - Menteri-menteri yang nantinya akan membantu Presiden Jokowi di periode kedua pemerintahannya haru mampu bekerja keras dan profesional. Ini harus benar-benar dilakukan untuk...

Megawati, SBY dan Prabowo Bakal Hadiri Pelantikan Jokowi-Ma’ruf

Genial - Presiden- wakil presiden, Jokowi - Ma'ruf Amin akan dilantik hari ini, Minggu Minggu (20/10) di Gedung DPR/MPR, Jakarta. Pelantikan akan dilakukan oleh...

Prabowo Pastikan Hadiri Pelantikan Jokowi – Amin

Genial - Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto dipastikan akan menghadiri upacara pelantikan Joko Widodo-Ma'ruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden periode 2019-2024, di...

Everyone Can Fly With Buhe

GENIAL. Pagi ini saya membaca di page PRFM bahwa penerbangan dari Bandung ke beberapa kota sudah dipindahkan dari Bandara Husen Rochendi…eh Sastranegara, ke Bandara International Jawa Barat (BIJB) Kertajati (bener teu kepanjanganna kitu BIJB teh?)

Mendengar ini seperti mimpi saja. bertahun-tahun, saya mendengar rencananya, menyaksikan pembangunannya, bandara internasional itu kini ternyata benar-benar menjadi kenyataan di Jawa Barat.

Tahun 2010, ketika Kang Arif Yudi dari Jatiwangi Art Factory (JAF) dan kawan-kawan saya dari Sunday Screen mulai bergiat menyelenggarakan event budaya dan workshop guna mempersiapkan masyarakat Majalengka agar siap menerima keberadaan Bandar Udara Internasional di sana, saya masih merasa bermimpi, masih belum percaya, akan betul-betul berdiri sebuah Bandar Udara Internasional di sana.

Sekarang, ketika itu benar-benar terjadi, ingatan saya kembali ke masa-masa saat saya ngobrol dengan kawan-kawan saya aktivis JAF di Jatisura atau di Bandung, tentang pentingnya penyiapan mental masyarakat, agar minimal tidak gegar budaya dan adaptif ketika sebuah pangkalan udara internasional hadir di tengah-tengah mereka. Walau informal, saya serius menyampaikan berbagai prediksi dari sudut sosial budaya, tentang apa dampak yang bakal timbul ketika pintu kota terbuka untuk masyarakat internasional.

Diskusi-diskusi itu terjadi setiap kami bertemu, terkadang melantur, sampai saya menyampaikan ide pengembangan armada elf, BUHE dan RW untuk mengangkut passenger yang akan ke Kertajati. Jumlahnya ditambah, elf-nya diremajakan juga. Hal yang dulu saya bahas panjang itu diklat untuk supir-supir BUHE dan RW. Supir elf legendaris itu menurut saya membutuhkan penataran dulu, dibekali dasar-dasar pariwisata, dasar-dasar service excellent, jangan sampai seperti ketika mengangkut saya…

Pas saya duduk di depan, sudah mah ngebut, supirnya ngudud, pas mau disalip oleh kawannya, bercandanya itu horror banget. Elf yang mau nyiap dihalang-halangi dengan cara, sang supir membuka tutup pintu mobil, sehingga menyulitkan kendaraan yang mau nyiap untuk menyusul. “Tahhhh an**… tahhhh,” kata supirnya sambil tertawa puas.

Terbayang kalau nanti mengangkut turis. Jika turing berarti tuur garing, maka turis bisa menjadi tuur tiis, jika style driver elf-nya masih atraktif seperti itu.

*
Sejujurnya, ketika mendengar kabar ini di rantau, ada haru yang menyeruak ke sanubari. mungkin perasaan haru itu tidak akan hadir ya, jikalau saya mendengarnya saat tinggal di tanah air. Bedalah perasaannya. Apalagi, bandar udara internasional ini hadir di tanah yang saya cintai, yaitu: Jawa Barat. Dan di majalengka lagi, kota yang mencatat banyak kenangan selama saya bertugas jadi PNS. Wah banget… mengkhayalkan di kota itu bakal ada bandara seperti heathrow, el prat, schiphol, yang pernah saya singgahi.

Ketika saya diangkat jadi PNS, saya berjanji pada ibu saya, untuk minimal bikin satu karya, entah kolosal atau sederhana, tapi diusahakan monumental di setiap satu kota yang ada di Jabar-Banten. Sumpah yang mirip sumpah Palapa itu alhamdulillah terlaksana, walaupun dalam perjalanan ada beberapa rintangan dan kendala yang harus dihadapi. Tidak ada satupun kota di Jabar-Banten, yang tidak mencatat jejak saya.

Jejak itu terangkum di channel youtube kantor yang saya cintai, PP PAUD dan Dikmas, Jayagiri. salahsatu jejaknya adalah di kota Majalengka. Jejak yang sangat berkesan di hati, yang membuat saya bahagia ketika mendengar ada kemajuan pembangunan di sana.

Jejak saya di Majalengka berkenaan tentang desain PAUD berbasis seni rupa/musik dan budidaya gadung (dari mulai bercocoktanam, pengolahan, sampai pemasarannya). Saat workshop dan pembuatan film dokumentasi tentang gadung untuk disebar ke seluruh Indonesia, yang dilangsungkan di kantor kecamatan Maja, saya sempat dilarikan ke puskesmas. Perut kembung dan keras. Disangka orang-orang keracunan gadung. Ternyata tidak. Hanya telat kentut dan kebanyakan makan keripik gadung. Satu kaleng Khong Guan dihabiskan sendiri, sambil menyutradarai. Habis enak sih.

Ada salah satu yang lucu lagi sebelumnya, yaitu ketika saya pertama datang survei ke Majalengka. Carter angkot seorang diri dan diturunkan tepat di depan bupati yang sedang menunggu mobil di balaikota. Saya tidak tahu (lantaran tidur selama di angkot), supir angkotnya polos lagi, membiarkan saya yang masih lulungu turun dan bayar, tepat di depan Bupati yang senyam-senyum menyaksikannya. Saya diuntungkan oleh peristiwa itu, walaupun malu. Bupati memerintahkan stafnya untuk menjamu dan menyediakan mess terbaik , setelah saya dengan gelapagapan menyampaikan maksud kedatangan. Selama survei ke lahan Gadung itu, saya diantarkan adik bupati pakai jeep keren. Para petani antusias, saya dijamu, diajak ngobrol dan difoto terus-terusan, karena mengira saya pengusaha yang mau borong gadung, bukan pengusaha gadungan.

*
Tidak menyangka sebentar lagi Majalengka akan membuka pintunya untuk seluruh Indonesia dan dunia. Memang masih akan banyak yang terasa tak nyaman di awal-awal ini. Maklumi saja karena setiap awal walaupun indah tapi membutuhkan waktu untuk diadaptasi.

Tol Cisundawu yang belum selesai juga mungkin membuat perjalanan dari orang-orang yang biasa bepergian lewat Bandung ke luar Jawa, jadi terasa lebih panjang dan mungkin saja sangat melelahkan.

Saya membayangkan kalau saya ada di antara penumpang-penumpang itu. apakah saya akan mendumel? saya sih tidak. Sebab momen ini sudah lama dipersiapkan penyambutannya oleh sahabat-sahabat pejuang kebudayaan, seperti JAF di Majalengka. Sebentar lagi mereka akan melihat buah perjuangan dan mengetahui aktif-tidaknya radar kebudayaan yang mereka rancang dan rintis sejak tahun 2010-an itu.

Saya juga membayangkan suatu saat ada pesawat dari Eropa ke BIJB, ketika saya pulang nanti. Membayangkannya saja sudah luar biasa. Saya turun dari pesawat, menginjak tanah Jawa Barat, merasakan lagi terik matahari Maja, dan kemudian pulang menuju Bandung.

Saudara atau teman-teman yang akan menjemput, lebih baik menunggu saja di tol Pasirkoja. Karena saya akan pulang naik BUHE atau RW. merasakan kembali spirit “EVERYONE CAN FLY”-nya, yang evergreen sejak jaman mahasiswa hingga saya bekerja untuk negara. Ajiggggg Maaang... [***]

Abu Rashif

Pegiat Tajdid Institute, sedang merantau di Inggris

Redaksihttps://www.genial.id/
Redaksi Genial—Bacaan Ideal Generasi Milenial

Baca Juga

Terkini

Joker: Antara Isu Ekologi dan Pesan Kemanusiaan

Genial. Watak manusia dan alam masa kini cenderung menampakkan wajah yang menakutkan. Ia suci, sekaligus menyimpan belati dalam dirinya, yang siap membunuh siapa saja....

Pesantren Persatuan Islam Pasca Terbitnya UU Pesantren

Terbitnya Undang- undang Pesantren harus dijadikan momentum perbaikan tata kelola pendidikan di Jamiyah Persatuan Islam yang selama ini terkesan tidak memiliki grand design sehingga...

Ada Joker Di Antara Kita

Genial. Dalam trilogi The Dark Knight, musuh Batman (Christian Bale) yang paling kuat, hebat dan punya harga diri tinggi adalah Joker.Joker merupakan musuh yang...

Pemda Sumbawa Komit Support Poto Sebagai Desa Pemajuan Kebudayaan Dari Indonesia Timur

Genial. Jakarta - Desa Poto di Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), ditetapkan sebagai salah satu dari 10 desa percontohan pemajuan...

Lama Puasa Juara, Leo/Daniel Harumkan Indonesia Pada Kejuaraan WJC 2019

Genial - Setelah berhasil mengalahkan wakil dari China Di Zi Jian/Wang Chang pada babak final yang berlangsung di Kazan Rusia, Minggu (13/10) pasangan wakil...

Desa Poto Kab. Sumbawa “Sajikan” Sadeka Ponan hingga Tenun Tradisi dalam PKN

Genial. Jakarta - Sebuah keniscayaan, kemajuan global dan teknologi utamanya di era digitalisasi saat ini akan melindas kearifan budaya lokal dan akar budaya bangsa,...

Log In

Forgot password?

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Genial—Bacaan Ideal Generasi Milenial