Belajarlah Pada Siti Hajar!

GENIAL. Idul Adha, selalu diulang-ulang kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Baik tentang ketaatan, kepatuhan, tawadu’ penuh keiklasan menjalankan semua perintah Allah SWT.

Cerita Idul Adha, adalah cerita qurban. Cerita Nabi Ismail dengan iklas melaksanakan perintah Allah SWT yang disampaikan kepada ayahandanya Nabi Ibrahim melalui mimpi. dan Nabi Ismail dengan penuh keikhlasan rela disembelih oleh  ayahnya sebagai wujud ketaatannya kepada perintah Allah SWT.

Kisah ini selalu disampaikan oleh khatib sebagai pelajaran bagi kita agar mau berkurban dalam berbagai bentuk, dalam menjalani hidup sehari-hari.  Namun para khatib, termasuk kita seringkali melupakan peran Siti Hajar dalam semua proses pembentukan kepribadian Nabi Ismail yang taat dan sholeh tersebut.

Perintah kepada Nabi Ibrahim agar menyembelih Nabi Ismail, anak kesayangannya adalah ujian terhadap keiklasan maupun ketaatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Namun, jika kita mau menilik lebih dalam lagi, maka Siti Hajar adalah puncak keikhlasan tersebut. Sebagai Ibu yang mengandung dan menyusui Nabi Ismail. Bahkan dalam proses membesarkan anak kesayangannya tersebut, Siti Hajar mesti mengembara dan menafkahi anaknya seorang diri di daerah yang gersang serta asing bagi dirinya.

Ketika datang perintah Allah SWT pada Nabi Ibrahim, maka Siti Hajar dengan penuh ketulusan merelakan anak yang disayangi dan dibesarkan dengan penuh perjuangan seorang diri untuk di jadikan kurban sebagaimana Allah SWT perintahkan.

Siti Hajar hanya seorang budak dari Siti Sarah. Ketika Siti Sarah mulai menua, harapan untuk memiliki anak semakin jauh dari harapan. Dalam situasi yang demikian, Siti Sarah meminta Nabi Ibrahim menikahi Siti Hajar. Tak berselang lama, lahirlah Nabi Ismail, anak yang dinanti-nanti oleh Nabi Ibrahim sebagai penerus risalah. Tentu saja kelahiran Ismail memberikan harapan dan semangat baru bagi Nabi Ibrahim menjalani tugas-tugas kenabian. Walau tak lama, Siti Sarah pun hamil dan melahirkan Nabi Ishaq.

Dalam perjalanannya Siti Hajar harus kembali diuji ketulusannya. Ketika Nabi Ishaq lahir, Siti Sarah yang semula sangat menyayangi Siti Hajar dan Nabi Ismail, perlahan mulai di sibukkan dengan membesarkan Nabi Ishaq, anak kandungnya sendiri. Dalam beberapa kisah disebutkan Siti Sarah mulai cemburu pada Siti Hajar dan Nabi Ismail. Sehingga Siti Sarah pun meminta Nabi Ibrahim untuk menjauhkan Siti Hajar dan Ismail dari rumah atau pandangannya.

Episode kesendirian dan beratnya membesarkan Nabi Ismail di “pengasingan” pun di mulai dan diterima secara tulus oleh Siti Hajar. Diantarlah Hajar dan Ismail ke “pengasingan”, sebuah lembah yang bernama Bakkah. Sebuah lembah yang tandus, kerontang tanpa sumber air minum untuk bertahan hidup. Lembah ini ketika itu, tanpa berpenghuni, kosong tak ada kehidupan manusia lain di Bakkah. Lembah yang kering, kerontang ini dikemudian hari, ummat Islam menjadikannya tanah suci, dalam penyebutan sekarang bernama Makkah.

Lembah atau tanah Bakkah ini menjadi Suci karena kepatuhan Ismail, suci karena keikhlasan Hajar. Mereka berdua menjalani semua perintah Allah SWT dengan tulus, tak pernah mengeluh apalagi memperotes. Sungguh ini contoh ketulusan dan keiklasan yang luar biasa dari anak manusia. Pun, mesti menjalani getirnya hidup di “pengasingan” ketika Nabi Ibrahim datang dan menyampaikan perintah Allah SWT, Ismail dan Hajar pun tanpa banyak tanya langsung mengamini perintah Allah SWT dan meminta Nabi Ibrahim agar segera melaksanakan perintah tersebut.

Idul Adha adalah keindahan, cinta seorang ibu pada anaknya, kekokohan seorang perempuan menghadapi getir hidup. Berjuang sendirian di lembah antah berantah yang bernama Bakkah, mesti mencari nafkah sendiri sembari menjaga anaknya yang masih kecil dari ancaman keganasan alam. Membaca kisah Siti Hajar, kita sedang diajari, tiada ketabahan perempuan melebihi Hajar. Teladan yang di contohkan oleh Siti Hajar dalam kisah Idul Adha bisa dijadikan teladan bagi kaum perempuan, Siti Hajar adalah pejuang sejatinya kaum perempuan.

Kembali kepada kisah ketika, sampai di lembah Bakkah, diantar Ibrahim, berjalan kaki dari Mesir, Hajar berdiam di bawah pepohonan bersama Ismail. Ibrahim pamit pulang lagi ke Mesir. Ketika Ibrahim jalan pulang, dikejar Hajar dari belakang, lalu bertanya “Ibrahim, apakah ini perintah Tuhan mu?” Ibrahim menjawab “iya, benar”. Hajar menjawab “baiklah, jika ini perintah Tuhan. Aku laksanakan!”

Sepatutnya keteladanan dan kekokohan serta ketaqwaan seorang perempuan, Siti Hajar, disampaikan dalam setiap mimbar-mimbar khotbah Idul Adha. Idul Adha bukan saja bercerita tentang ketaatan kaum laki-laki, Ibrahim dan Ismail, tetapi kesempurnaan semua cerita Idul adha adalah kisah seorang perempuan hebat yang taat dan kokoh dalam jalan Allah SWT. Kisah keiklasan dan ketaatan dalam berkurban adalah kisah anak manusia, baik laki maupun perempuan. Lelaki hebat, Ibrahim dan Ismail karena ada seorang perempuan hebat yang bernama Siti Hajar. Hanya Allah SWT yang maha mengetahui.*

*Penulis: Mahmuddin Muslim (Ketua Bidang Majelis Nasional KAHMI)

Avatar
Tim Redaksihttps://www.genial.id/
Tim Redaksi Genial—Bacaan Ideal Generasi Milenial

Baca Juga

Populer

Lima Bersaudara Dilantik Jadi Anggota DPRD

GENIAL. Acara pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan anggota DPRD Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan, periode 2019-2024, menjadi saksi bisu keberhasilan lima bersaudara....

Konsep GBHN yang Diusulkan PDIP Berbeda dengan Zaman Orba

GENIAL. Wakil Ketua MPR yang juga Ketua DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah menjelaskan, konsep Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang diusulkan PDI Perjuangan berbeda...

Abdul Rafiq Potensial untuk Ketua DPRD Sumbawa

GENIAL. DPC PDI Perjuangan Sumbawa setidaknya menyiapkan tiga nama yang dicalonkan sebagai Ketua DPRD. Ketiga nama tersebut adalah Abdul Rafiq, Gita Liesbano, dan Eddy...

PDIP Unjuk Gigi Tim Penanggulangan Bencana

GENIAL. PDI Perjuangan unjuk gigi penanganan cepat penanggulangan bencana yang terjadi di Tanah Air saat delegasi Rusia menyambangi Kantor DPP PDI Perjuangan di Jakarta,...

Anak Kartosuwiryo Berikrar Setia Pada NKRI di Hadapan Wiranto

GENIAL. Sarjono Kartosuwiryo, anak dari Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo, tokoh utama Gerakan DI/TII yang hendak mendirikan Negara Islam Indonesia, membaca ikrar setia terhadap Pancasila, UUD...

Manipol USDEK, GBHN di Era Bung Karno

GENIAL. Wacana untuk menghidupkan kembali Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) semakin mengemuka saat ini. Adalah PDI Perjuangan yang paling gencar mengusung wacana tersebut. Tujuannya,...

Belajarlah Pada Siti Hajar!

GENIAL. Idul Adha, selalu diulang-ulang kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Baik tentang ketaatan, kepatuhan, tawadu’ penuh keiklasan menjalankan semua perintah Allah SWT.

Cerita Idul Adha, adalah cerita qurban. Cerita Nabi Ismail dengan iklas melaksanakan perintah Allah SWT yang disampaikan kepada ayahandanya Nabi Ibrahim melalui mimpi. dan Nabi Ismail dengan penuh keikhlasan rela disembelih oleh  ayahnya sebagai wujud ketaatannya kepada perintah Allah SWT.

Kisah ini selalu disampaikan oleh khatib sebagai pelajaran bagi kita agar mau berkurban dalam berbagai bentuk, dalam menjalani hidup sehari-hari.  Namun para khatib, termasuk kita seringkali melupakan peran Siti Hajar dalam semua proses pembentukan kepribadian Nabi Ismail yang taat dan sholeh tersebut.

Perintah kepada Nabi Ibrahim agar menyembelih Nabi Ismail, anak kesayangannya adalah ujian terhadap keiklasan maupun ketaatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Namun, jika kita mau menilik lebih dalam lagi, maka Siti Hajar adalah puncak keikhlasan tersebut. Sebagai Ibu yang mengandung dan menyusui Nabi Ismail. Bahkan dalam proses membesarkan anak kesayangannya tersebut, Siti Hajar mesti mengembara dan menafkahi anaknya seorang diri di daerah yang gersang serta asing bagi dirinya.

Ketika datang perintah Allah SWT pada Nabi Ibrahim, maka Siti Hajar dengan penuh ketulusan merelakan anak yang disayangi dan dibesarkan dengan penuh perjuangan seorang diri untuk di jadikan kurban sebagaimana Allah SWT perintahkan.

Siti Hajar hanya seorang budak dari Siti Sarah. Ketika Siti Sarah mulai menua, harapan untuk memiliki anak semakin jauh dari harapan. Dalam situasi yang demikian, Siti Sarah meminta Nabi Ibrahim menikahi Siti Hajar. Tak berselang lama, lahirlah Nabi Ismail, anak yang dinanti-nanti oleh Nabi Ibrahim sebagai penerus risalah. Tentu saja kelahiran Ismail memberikan harapan dan semangat baru bagi Nabi Ibrahim menjalani tugas-tugas kenabian. Walau tak lama, Siti Sarah pun hamil dan melahirkan Nabi Ishaq.

Dalam perjalanannya Siti Hajar harus kembali diuji ketulusannya. Ketika Nabi Ishaq lahir, Siti Sarah yang semula sangat menyayangi Siti Hajar dan Nabi Ismail, perlahan mulai di sibukkan dengan membesarkan Nabi Ishaq, anak kandungnya sendiri. Dalam beberapa kisah disebutkan Siti Sarah mulai cemburu pada Siti Hajar dan Nabi Ismail. Sehingga Siti Sarah pun meminta Nabi Ibrahim untuk menjauhkan Siti Hajar dan Ismail dari rumah atau pandangannya.

Episode kesendirian dan beratnya membesarkan Nabi Ismail di “pengasingan” pun di mulai dan diterima secara tulus oleh Siti Hajar. Diantarlah Hajar dan Ismail ke “pengasingan”, sebuah lembah yang bernama Bakkah. Sebuah lembah yang tandus, kerontang tanpa sumber air minum untuk bertahan hidup. Lembah ini ketika itu, tanpa berpenghuni, kosong tak ada kehidupan manusia lain di Bakkah. Lembah yang kering, kerontang ini dikemudian hari, ummat Islam menjadikannya tanah suci, dalam penyebutan sekarang bernama Makkah.

Lembah atau tanah Bakkah ini menjadi Suci karena kepatuhan Ismail, suci karena keikhlasan Hajar. Mereka berdua menjalani semua perintah Allah SWT dengan tulus, tak pernah mengeluh apalagi memperotes. Sungguh ini contoh ketulusan dan keiklasan yang luar biasa dari anak manusia. Pun, mesti menjalani getirnya hidup di “pengasingan” ketika Nabi Ibrahim datang dan menyampaikan perintah Allah SWT, Ismail dan Hajar pun tanpa banyak tanya langsung mengamini perintah Allah SWT dan meminta Nabi Ibrahim agar segera melaksanakan perintah tersebut.

Idul Adha adalah keindahan, cinta seorang ibu pada anaknya, kekokohan seorang perempuan menghadapi getir hidup. Berjuang sendirian di lembah antah berantah yang bernama Bakkah, mesti mencari nafkah sendiri sembari menjaga anaknya yang masih kecil dari ancaman keganasan alam. Membaca kisah Siti Hajar, kita sedang diajari, tiada ketabahan perempuan melebihi Hajar. Teladan yang di contohkan oleh Siti Hajar dalam kisah Idul Adha bisa dijadikan teladan bagi kaum perempuan, Siti Hajar adalah pejuang sejatinya kaum perempuan.

Kembali kepada kisah ketika, sampai di lembah Bakkah, diantar Ibrahim, berjalan kaki dari Mesir, Hajar berdiam di bawah pepohonan bersama Ismail. Ibrahim pamit pulang lagi ke Mesir. Ketika Ibrahim jalan pulang, dikejar Hajar dari belakang, lalu bertanya “Ibrahim, apakah ini perintah Tuhan mu?” Ibrahim menjawab “iya, benar”. Hajar menjawab “baiklah, jika ini perintah Tuhan. Aku laksanakan!”

Sepatutnya keteladanan dan kekokohan serta ketaqwaan seorang perempuan, Siti Hajar, disampaikan dalam setiap mimbar-mimbar khotbah Idul Adha. Idul Adha bukan saja bercerita tentang ketaatan kaum laki-laki, Ibrahim dan Ismail, tetapi kesempurnaan semua cerita Idul adha adalah kisah seorang perempuan hebat yang taat dan kokoh dalam jalan Allah SWT. Kisah keiklasan dan ketaatan dalam berkurban adalah kisah anak manusia, baik laki maupun perempuan. Lelaki hebat, Ibrahim dan Ismail karena ada seorang perempuan hebat yang bernama Siti Hajar. Hanya Allah SWT yang maha mengetahui.*

*Penulis: Mahmuddin Muslim (Ketua Bidang Majelis Nasional KAHMI)

Avatar
Tim Redaksihttps://www.genial.id/
Tim Redaksi Genial—Bacaan Ideal Generasi Milenial

Baca Juga

Populer

Lima Bersaudara Dilantik Jadi Anggota DPRD

GENIAL. Acara pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan anggota DPRD Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan, periode 2019-2024, menjadi saksi bisu keberhasilan lima bersaudara....

Lord Didi dan Romantisme Orang Jawa

GENIAL.  Tentu banyak unsur sehingga Didi Kempot dijuluki sebagai Lord Didi dan lebih dari itu “The Godfather of Broken Heart”. Yang jelas, dia diuntungkan...

Konsep GBHN yang Diusulkan PDIP Berbeda dengan Zaman Orba

GENIAL. Wakil Ketua MPR yang juga Ketua DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah menjelaskan, konsep Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang diusulkan PDI Perjuangan berbeda...

Djarot Sindir Anies, Jomblo kok Betah!

GENIAL. Mantan Gubernur DKI Jakarta Djarot Syaiful Hidayat mempertanyakan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang masih betah ‘menjomblo’ memimpin Ibu Kota. Djarot yang pernah...

Relawan Eksponen HMI Pro Jokowi Minta Jaksa Agung Jangan Partisan

GENIAL. Wacana perebutan posisi Jaksa agung jadi bahasan politisi partai koalisi Jokowi. Tentu saja, wacana "perebutan" posisi Jaksa agung tidak elok. Pasalnya sebagai bagian...

Abdul Rafiq Potensial untuk Ketua DPRD Sumbawa

GENIAL. DPC PDI Perjuangan Sumbawa setidaknya menyiapkan tiga nama yang dicalonkan sebagai Ketua DPRD. Ketiga nama tersebut adalah Abdul Rafiq, Gita Liesbano, dan Eddy...
Genial—Bacaan Ideal Generasi Milenial