Ajaran Perdamaian dalam Quran

GENIAL. Dalam kaitannya dengan tema perdamaian, Quran telah dipandang setidaknya dalam tiga paradigma yang berbeda. Pertama, Quran dipandang sebagai Kitab Suci yang lebih mendorong dilancarkannya perang demi dominasi Islam. Inilah cara pandang para ekstremis dan orang-orang yang anti-Islam. Kedua, Quran dilihat sebagai berisi berbagai aturan baik tentang perang maupun tentang perdamaian. Ini cara pandang yang mencoba atau berpretensi untuk netral dan objektif, namun gagal mengenali atau memilah mana yang pokok (ushul) dan mana yang cabang dari yang pokok (furu‘). Ketiga, Quran dibingkai sebagai kitab perdamaian dan nirkekerasan. Cara pandang inilah yang lebih bersahabat bagi setiap upaya mengampanyekan perdamaian dan resolusi konflik.

Berbagai kajian telah dihadirkan oleh para sarjana untuk memperkenalkan Quran sebagai Kitab Suci yang menitikberatkan perdamaian dan nirkekerasan. Akan tetapi, ada beberapa catatan untuk upaya-upaya ini. Pertama, ada kecenderungan pada reinterpretasi atau interpretasi baru – suatu hal yang tidak mudah diterima, atau tidak akan diterima begitu saja, oleh sebagian kalangan. Kedua, ada kecenderungan untuk berhenti pada upaya menemukan apa saja dalam ajaran Islam yang dapat dikait-kaitkan dengan keberpihakan pada perdamaian dan nirkekerasan, dan tidak berlanjut ke pembacaan yang lebih holistik dan komprehensif. Ketiga, ada kecenderungan untuk mencukupkan diri dengan langkah-langkah penafsiran atau pengambilan kesimpulan yang seadanya dan diterapkan secara tidak ajek (konsisten).

Sekalipun menyampaikan, dan bertolak dari, catatan-catatan ini, tulisan ini tidak berpretensi untuk menyuguhkan kajian yang komprehensif dan utuh tentang ajaran perdamaian dalam Islam ataupun dalam Quran. Bertolak dari catatan-catatan tersebut, tulisan ini sebisa mungkin mengapresiasi tafsir-tafsir yang sudah ada sekalipun tetap membuka diri pada kemungkinan perlunya interpretasi baru, mencoba mengupayakan pembacaan yang holistik terhadap Quran, dan memberi perhatian pada metode-metode tafsir yang berbeda secara simultan.

Untuk mengurai ajaran Quran tentang perdamaian, tulisan ini berfokus pada pesan-pesan kunci. Dalam Quran, sekurang-kurangnya kita temukan enam pesan kunci terkait pentingnya perdamaian dan penyudahan konflik. Pertama, Quran adalah petunjuk menuju perdamaian/kedamaian. Kedua, perbedaan dan kemajemukan harus disikapi positif dan tidak dijadikan alasan untuk bermusuhan. Ketiga, respon damai terhadap aksi kekerasan itu lebih utama. Keempat, peperangan diikat oleh berbagai ketentuan. Kelima, perjanjian damai diprioritaskan dan harus ditaati. Keenam, konflik tidak sesuai dengan ajaran persaudaraan.

Quran sebagai Petunjuk Jalan Damai

Menggali ajaran tentang perdamaian dari Quran adalah hal yang juga mendapat justifikasi dari Quran sendiri. Pasalnya, Quran menyebut bahwa dengan Quran, Allah memberi petunjuk kepada hamba-hamba-Nya menuju “jalan-jalan kedamaian” (subul al-salam). Ini ditegaskan di surah al-Ma‟idah ayat 15 dan 16:

“… Sungguh telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan juga kitab penjelas (yakni Quran). Dengan kitab itu Allah memberi orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya petunjuk ke jalan-jalan kedamaian, dan (dengannya pula) Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya dengan seizin-Nya, dan memberi mereka petunjuk ke jalan yang lurus.”

 

Al-Zajjaj, mufasir linguis masa awal, sebagaimana dikutip al-Mawardi dalam tafsirnya, mengartikan subul al-salam sebagai jalan keselamatan (salamah) dari ketakutan. Ibn „Asyur memaknai subul al-salam sebagai jalan-jalan keselamatan yang tidak memberi rasa takut kepada orang yang melintasinya, dan merupakan perumpamaan untuk jalan-jalan kebenaran (thuruq al-haqq). Al-Thabathaba‟i menyatakan bahwa salam bermakna keselamatan dan keterbebasan dari segala macam kesengsaraan yang merusak kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Konflik dan perang pada umumnya menebar ketakutan dan merusak kebahagiaan. Oleh karena itu, Quran menyimpan petunjuk menuju jalan kedamaian hidup, termasuk kedamaian hidup di dunia, sebagaimana ungkapan akhir ayat, wa yukhrijuhum min al-zhulumat ila al-nur (mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya), adalah juga ungkapan yang berkaitan dengan hidup di dunia.

Ungkapan subul al-salam di ayat ini dapat pula dipahami sebagai kebalikan dari “permusuhan dan kebencian” (al-‘adawah wa al-baghdha’) yang disebut di ayat sebelumnya, yakni ayat 14, yang timbul di antara orang-orang (Nasrani) yang tidak lagi mau mengikuti petunjuk Kitab Suci mereka. (Ungkapan al-‘adawah wa al-baghda’ juga disebut di ayat 64 surah yang sama sebagai timbul di antara orang-orang Yahudi yang bersikap serupa). Dengan demikian, subul al-salam adalah jalan-jalan yang tidak dipenuhi permusuhan dan kebencian.

Pengertian salam di sini juga dipahami mencakup keselamatan di akhirat, yakni di surga. Surga (jannah) juga disebut di Quran sebagai dar al-salam (Rumah Kedamaian; Q 6:127; Q 10:25). Selaras dengan pernyataan bahwa Quran adalah petunjuk subul al-salam, dinyatakan bahwa Allah sendiri, yang juga bernama al-Salam (Sumber Kedamaian; lihat Q 59:23), mengajak manusia menuju dar al-salam. Surah Yunus ayat 25 menyebutkan:

“Allah menyeru (manusia) ke Rumah Kedamaian (surga) dan memberi siapa yang dikehendaki-Nya petunjuk ke jalan yang lurus.”

Surga disebut sebagai dar al-salam karena para penghuninya selamat (salamah) dari segala macam kekurangan, dan salam (kedamaian) adalah ucapan tegur sapa di antara mereka (Q 10:10; Q 14:23; Q 7:46), ucapan sambutan Tuhan dan malaikat kepada mereka (Q 36:58; Q 13:24; Q 16:32; Q 39:73; Q 25:75; Q 33:44), dan satu-satunya yang mereka dengar di surga (Q 19:62; Q 56:26).

Bahwa surga diidealkan sebagai tempat kedamaian sudah menunjukkan bahwa Islam memandang kedamaian (dalam hubungan antarmanusia) sebagai kondisi yang ideal, dan ketidakdamaian sebagai kondisi yang tidak ideal. Ada dorongan agar kehidupan di bumi perlu diupayakan mendekati kehidupan di surga. Faktanya, ucapan salam bukan saja dikabarkan merupakan ucapan penduduk surga, namun juga sudah diajarkan kepada manusia yang hidup di dunia untuk menjadi pesan yang selalu disebarluaskan. Tebarkan salam di antara kalian, demikian kutipan dari hadis Nabi Muhammad saw. Dalam keterangan-keterangan di Quran sendiri, salam diajarkan oleh nabi-nabi (Q 11:69; Q 19:47; Q 51:25; Q 20:47; Q 27:59; Q 43:89), dan baik untuk disampaikan kepada siapa saja, termasuk kepada orang yang jahil (Q 25:63), kepada orang yang bersenda gurau (Q 28:55), dan kepada kaum yang tak beriman (Q 43:89), selain kepada yang beriman (Q 6:54). (Bersambung…)

Izza Rohman

Ahli Tafsir Universitas Prof. Hamka

 

Avatar
Tim Redaksihttps://www.genial.id/
Tim Redaksi Genial—Bacaan Ideal Generasi Milenial

Baca Juga

Populer

Konsep GBHN yang Diusulkan PDIP Berbeda dengan Zaman Orba

GENIAL. Wakil Ketua MPR yang juga Ketua DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah menjelaskan, konsep Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang diusulkan PDI Perjuangan berbeda...

Lima Bersaudara Dilantik Jadi Anggota DPRD

GENIAL. Acara pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan anggota DPRD Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan, periode 2019-2024, menjadi saksi bisu keberhasilan lima bersaudara....

PDIP Unjuk Gigi Tim Penanggulangan Bencana

GENIAL. PDI Perjuangan unjuk gigi penanganan cepat penanggulangan bencana yang terjadi di Tanah Air saat delegasi Rusia menyambangi Kantor DPP PDI Perjuangan di Jakarta,...

Abdul Rafiq Potensial untuk Ketua DPRD Sumbawa

GENIAL. DPC PDI Perjuangan Sumbawa setidaknya menyiapkan tiga nama yang dicalonkan sebagai Ketua DPRD. Ketiga nama tersebut adalah Abdul Rafiq, Gita Liesbano, dan Eddy...

Berharap Duduk di Komisi X DPR Rano Berkomitmen Majukan Budaya

GENIAL. Caleg DPR RI terpilih periode 2019-2024 Rano Karno mengatakan kebudayaan adalah salah satu bagian dari Trisakti Bung Karno. Karena itu, PDI Perjuangan menjadikan...

Anak Kartosuwiryo Berikrar Setia Pada NKRI di Hadapan Wiranto

GENIAL. Sarjono Kartosuwiryo, anak dari Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo, tokoh utama Gerakan DI/TII yang hendak mendirikan Negara Islam Indonesia, membaca ikrar setia terhadap Pancasila, UUD...

Ajaran Perdamaian dalam Quran

GENIAL. Dalam kaitannya dengan tema perdamaian, Quran telah dipandang setidaknya dalam tiga paradigma yang berbeda. Pertama, Quran dipandang sebagai Kitab Suci yang lebih mendorong dilancarkannya perang demi dominasi Islam. Inilah cara pandang para ekstremis dan orang-orang yang anti-Islam. Kedua, Quran dilihat sebagai berisi berbagai aturan baik tentang perang maupun tentang perdamaian. Ini cara pandang yang mencoba atau berpretensi untuk netral dan objektif, namun gagal mengenali atau memilah mana yang pokok (ushul) dan mana yang cabang dari yang pokok (furu‘). Ketiga, Quran dibingkai sebagai kitab perdamaian dan nirkekerasan. Cara pandang inilah yang lebih bersahabat bagi setiap upaya mengampanyekan perdamaian dan resolusi konflik.

Berbagai kajian telah dihadirkan oleh para sarjana untuk memperkenalkan Quran sebagai Kitab Suci yang menitikberatkan perdamaian dan nirkekerasan. Akan tetapi, ada beberapa catatan untuk upaya-upaya ini. Pertama, ada kecenderungan pada reinterpretasi atau interpretasi baru – suatu hal yang tidak mudah diterima, atau tidak akan diterima begitu saja, oleh sebagian kalangan. Kedua, ada kecenderungan untuk berhenti pada upaya menemukan apa saja dalam ajaran Islam yang dapat dikait-kaitkan dengan keberpihakan pada perdamaian dan nirkekerasan, dan tidak berlanjut ke pembacaan yang lebih holistik dan komprehensif. Ketiga, ada kecenderungan untuk mencukupkan diri dengan langkah-langkah penafsiran atau pengambilan kesimpulan yang seadanya dan diterapkan secara tidak ajek (konsisten).

Sekalipun menyampaikan, dan bertolak dari, catatan-catatan ini, tulisan ini tidak berpretensi untuk menyuguhkan kajian yang komprehensif dan utuh tentang ajaran perdamaian dalam Islam ataupun dalam Quran. Bertolak dari catatan-catatan tersebut, tulisan ini sebisa mungkin mengapresiasi tafsir-tafsir yang sudah ada sekalipun tetap membuka diri pada kemungkinan perlunya interpretasi baru, mencoba mengupayakan pembacaan yang holistik terhadap Quran, dan memberi perhatian pada metode-metode tafsir yang berbeda secara simultan.

Untuk mengurai ajaran Quran tentang perdamaian, tulisan ini berfokus pada pesan-pesan kunci. Dalam Quran, sekurang-kurangnya kita temukan enam pesan kunci terkait pentingnya perdamaian dan penyudahan konflik. Pertama, Quran adalah petunjuk menuju perdamaian/kedamaian. Kedua, perbedaan dan kemajemukan harus disikapi positif dan tidak dijadikan alasan untuk bermusuhan. Ketiga, respon damai terhadap aksi kekerasan itu lebih utama. Keempat, peperangan diikat oleh berbagai ketentuan. Kelima, perjanjian damai diprioritaskan dan harus ditaati. Keenam, konflik tidak sesuai dengan ajaran persaudaraan.

Quran sebagai Petunjuk Jalan Damai

Menggali ajaran tentang perdamaian dari Quran adalah hal yang juga mendapat justifikasi dari Quran sendiri. Pasalnya, Quran menyebut bahwa dengan Quran, Allah memberi petunjuk kepada hamba-hamba-Nya menuju “jalan-jalan kedamaian” (subul al-salam). Ini ditegaskan di surah al-Ma‟idah ayat 15 dan 16:

“… Sungguh telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan juga kitab penjelas (yakni Quran). Dengan kitab itu Allah memberi orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya petunjuk ke jalan-jalan kedamaian, dan (dengannya pula) Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya dengan seizin-Nya, dan memberi mereka petunjuk ke jalan yang lurus.”

 

Al-Zajjaj, mufasir linguis masa awal, sebagaimana dikutip al-Mawardi dalam tafsirnya, mengartikan subul al-salam sebagai jalan keselamatan (salamah) dari ketakutan. Ibn „Asyur memaknai subul al-salam sebagai jalan-jalan keselamatan yang tidak memberi rasa takut kepada orang yang melintasinya, dan merupakan perumpamaan untuk jalan-jalan kebenaran (thuruq al-haqq). Al-Thabathaba‟i menyatakan bahwa salam bermakna keselamatan dan keterbebasan dari segala macam kesengsaraan yang merusak kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Konflik dan perang pada umumnya menebar ketakutan dan merusak kebahagiaan. Oleh karena itu, Quran menyimpan petunjuk menuju jalan kedamaian hidup, termasuk kedamaian hidup di dunia, sebagaimana ungkapan akhir ayat, wa yukhrijuhum min al-zhulumat ila al-nur (mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya), adalah juga ungkapan yang berkaitan dengan hidup di dunia.

Ungkapan subul al-salam di ayat ini dapat pula dipahami sebagai kebalikan dari “permusuhan dan kebencian” (al-‘adawah wa al-baghdha’) yang disebut di ayat sebelumnya, yakni ayat 14, yang timbul di antara orang-orang (Nasrani) yang tidak lagi mau mengikuti petunjuk Kitab Suci mereka. (Ungkapan al-‘adawah wa al-baghda’ juga disebut di ayat 64 surah yang sama sebagai timbul di antara orang-orang Yahudi yang bersikap serupa). Dengan demikian, subul al-salam adalah jalan-jalan yang tidak dipenuhi permusuhan dan kebencian.

Pengertian salam di sini juga dipahami mencakup keselamatan di akhirat, yakni di surga. Surga (jannah) juga disebut di Quran sebagai dar al-salam (Rumah Kedamaian; Q 6:127; Q 10:25). Selaras dengan pernyataan bahwa Quran adalah petunjuk subul al-salam, dinyatakan bahwa Allah sendiri, yang juga bernama al-Salam (Sumber Kedamaian; lihat Q 59:23), mengajak manusia menuju dar al-salam. Surah Yunus ayat 25 menyebutkan:

“Allah menyeru (manusia) ke Rumah Kedamaian (surga) dan memberi siapa yang dikehendaki-Nya petunjuk ke jalan yang lurus.”

Surga disebut sebagai dar al-salam karena para penghuninya selamat (salamah) dari segala macam kekurangan, dan salam (kedamaian) adalah ucapan tegur sapa di antara mereka (Q 10:10; Q 14:23; Q 7:46), ucapan sambutan Tuhan dan malaikat kepada mereka (Q 36:58; Q 13:24; Q 16:32; Q 39:73; Q 25:75; Q 33:44), dan satu-satunya yang mereka dengar di surga (Q 19:62; Q 56:26).

Bahwa surga diidealkan sebagai tempat kedamaian sudah menunjukkan bahwa Islam memandang kedamaian (dalam hubungan antarmanusia) sebagai kondisi yang ideal, dan ketidakdamaian sebagai kondisi yang tidak ideal. Ada dorongan agar kehidupan di bumi perlu diupayakan mendekati kehidupan di surga. Faktanya, ucapan salam bukan saja dikabarkan merupakan ucapan penduduk surga, namun juga sudah diajarkan kepada manusia yang hidup di dunia untuk menjadi pesan yang selalu disebarluaskan. Tebarkan salam di antara kalian, demikian kutipan dari hadis Nabi Muhammad saw. Dalam keterangan-keterangan di Quran sendiri, salam diajarkan oleh nabi-nabi (Q 11:69; Q 19:47; Q 51:25; Q 20:47; Q 27:59; Q 43:89), dan baik untuk disampaikan kepada siapa saja, termasuk kepada orang yang jahil (Q 25:63), kepada orang yang bersenda gurau (Q 28:55), dan kepada kaum yang tak beriman (Q 43:89), selain kepada yang beriman (Q 6:54). (Bersambung…)

Izza Rohman

Ahli Tafsir Universitas Prof. Hamka

 

Avatar
Tim Redaksihttps://www.genial.id/
Tim Redaksi Genial—Bacaan Ideal Generasi Milenial

Baca Juga

Populer

Lima Bersaudara Dilantik Jadi Anggota DPRD

GENIAL. Acara pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan anggota DPRD Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan, periode 2019-2024, menjadi saksi bisu keberhasilan lima bersaudara....

Lord Didi dan Romantisme Orang Jawa

GENIAL.  Tentu banyak unsur sehingga Didi Kempot dijuluki sebagai Lord Didi dan lebih dari itu “The Godfather of Broken Heart”. Yang jelas, dia diuntungkan...

Konsep GBHN yang Diusulkan PDIP Berbeda dengan Zaman Orba

GENIAL. Wakil Ketua MPR yang juga Ketua DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah menjelaskan, konsep Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang diusulkan PDI Perjuangan berbeda...

Djarot Sindir Anies, Jomblo kok Betah!

GENIAL. Mantan Gubernur DKI Jakarta Djarot Syaiful Hidayat mempertanyakan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang masih betah ‘menjomblo’ memimpin Ibu Kota. Djarot yang pernah...

Relawan Eksponen HMI Pro Jokowi Minta Jaksa Agung Jangan Partisan

GENIAL. Wacana perebutan posisi Jaksa agung jadi bahasan politisi partai koalisi Jokowi. Tentu saja, wacana "perebutan" posisi Jaksa agung tidak elok. Pasalnya sebagai bagian...

Abdul Rafiq Potensial untuk Ketua DPRD Sumbawa

GENIAL. DPC PDI Perjuangan Sumbawa setidaknya menyiapkan tiga nama yang dicalonkan sebagai Ketua DPRD. Ketiga nama tersebut adalah Abdul Rafiq, Gita Liesbano, dan Eddy...
Genial—Bacaan Ideal Generasi Milenial